Kain bertali di sisi kiri dan kanan itu kini menjadi ‘teman’ yang tidak terpisahkan. Saat benda itu tertinggal, kepanikan langsung terlihat di wajah-wajah para pekerja di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Beberapa di antara mereka bahkan kerap menyelipkan lebih dari satu kain untuk menutup hidung dan mulutnya agar terhindar dari virus Covid-19.

Messa Haris – BatamĀ 

Ari memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana di bagian belakang untuk mengambil kain hitam bertali yang kemudian dipasangkannya ke teliga kiri dan kanannnya.

Ya, benda itu adalah masker yang wajib digunakan masyarakat di masa adaptasi kebiasaan baru atau New Normal. Fungsinya sebagai tameng untuk mencegah penularan virus Covid-19.

Awalnya karyawasn swasta itu merasa tidak nyaman harus menggunakan masker setiap akan beraktivitas di luar rumah. Alasannya, panas, gerah, dan pengap.

Dirinya juga merasa sulit mendapatkan udara segar ketika menggunakan masker. Bahkan dirinya sempat memutuskan untuk tidak mengenakan masker selama hampir satu minggu.

Namun hal itu berubah, ketika kasus Covid-19 di Kota Batam terus meningkat dan masuk dalam zona merah. Mau tidak mau dirinya harus membiasakan diri kembali menggunakan masker.

“Kalau ditanya terpaksa, ya awalnya pasti terpaksa. Karena tidak terbiasa. Tapi sekarang kalau tidak menggunakan masker ada yang ganjil gitu,” ujarnya, Rabu (28/10/2020).

Terlebih kata dia, saat ini sudah banyak masker kualitasnya cukup baik. Sehingga tidak membuatnya terganggu ketika beraktivitas.

Ari mengaku, dirinya saat ini sudah benar-benar menerapkan adaptasi kebiasaan baru. Tidak hanya menggunakan masker, dirinya juga menyediakan cairan hand sanitizer serta selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun setelah memegang benda-benda di tempat umum.

“Dulukan cuek aja, paling cuma cuci tangan dengan air. Tapi sekarang wajib pakai sabun dan sudah menjadi kebiasaan,” tuturnya.

Kata dia, adaptasi kebiasaan baru membuatnya lebih sadar akan kebersihan. Bahkan kini, ia merasa tidak nyaman apabila tidak mencuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas di luar rumah.

“Sekarang di depan rumah sudah ada sabun cair. Jadi sebelum masuk ke rumah cuci tangan dulu,” ujarnya.

Hal yang sama dirasakan oleh Anton, pedagang di Pasar Botania Kota Batam. Ia mengaku, sebelum adanya adaptasi kebiasaan baru, tidak begitu peduli akan kebersihan.

Salah seorang warga Batm mencuci tangan di wastafel umum setelah berbelanja di pasar. Foto: Messa Haris/batampos.co.id

Kata dia, mencuci tangan biasanya hanya dilakukan apabila hendak makan. Namun kini setelah merebaknya Covid-19, ia semakin paham begitu pentingnya kebersihan.

Apalagi lanjutnya untuk mencuci tangan kini tidak perlu jauh ke kamar mandi yang berada di bagian belakang pasar.

Pengelola pasar lanjutnya telah menyediakan tangki air serta sabun cair di beberapa tempat untuk memudahkan pedagang dan pengunjung untuk mencuci tangan.

Kata dia, kini menggunakan masker dan mencuci tangan memang menjadi kebiasaan barunya dan tidak hanya akan dilakukan saat pandemi Covid-19 saja, namun akan diterapkan setelah pandemi usai.

“Dulunya pakai masker ini berat kali, tapi sekarang enak-enak saja, sudah seperti teman akrab dan mudah-mudahan bisa menjadi kebiasaan meski Covid-19 ini tidak ada lagi,” tuturnya.

Gerakan Sejuta Masker

Sementara itu Pemko Batam tidak henti-henti memgimbau agar masyarakatnya untuk mematuhi protokol kesehatan saat menjalankan aktivitas di luar rumah. Seperti menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, berolahraga hingga istirahat yang cukup.

Pejabat sementara (Pjs) Wali Kota Batam, Syamsul Bahrum, juga turun langsung dalam operasi penindakan masyarakat yang tidak memakai masker di kawasan Kecamatan Bengkong, Selasa (27/10/2020).

Pada kegiatan tersebut pihaknya mendapati masih ada warga yang tidak mematuhi protokol kesehatan seperti enggan menggunakan masker.

Selain memberikan masker secara cuma-cuma, tim Gugus Tugas Covid-19 juga langsung melakukan rapid test terhadap puluhan warga yang tidak menjalani protokol kesehatan.

“Kita harap pelaksanaan protokol kesehatan ini hadir dari kesadaran kita masing-masing. Jika kesadaran itu terbangun secara kolektif, pandemi ini bisa dengan mudah kita atasi,” ujarnya.

Pemko Batam lanjutnya juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 05 tahun 2020 tentang Gerakan Sejuta Masker Dalam Mendukung Pilkada Sehat 2020 di Kota Batam.

Pjs Wali Kota Batam, Syamsul Bahrum, membagikan masker kepada warga yang berada di Dataran Engku Hamidah. Foto: Media Center Pemko Batam untuk batampos.co.id

Surat itu kata dia, menindaklanjuti Rapat Koordinasi Aksi Gerakan Sejuta Masker oleh Pjs Gubernur Kepulauan Riau Bahtiar Baharuddin bersama para Bupati dan Walikota se-Kepri, Kamis (2/10/2020) lalu.

Syamsul menyebutkan, Pemko Batam melaksanakan Gerakan Sejuta Masker yang merupakan salah satu langkah strategis dalam menyukseskan pelaksanaan Pilkada Serentak Tahun 2020 dalam setiap tahapannya di tengah pandemi agar dapat berjalan lancar dan terbebas dari Covid-19.

“Gerakan ini dapat menjadi sarana edukasi untuk melindungimasyarakat di masa Adaptasi Kebiasaan Baru guna menghindari penularan Covid-19,” imbuhnya.

Ia mengatakan, untuk mewujudkan terlaksananya Gerakan Sejuta Masker di Kota Batam, sangat diharapkan kerjasama dari seluruh pihak baik instansi pemerintah, swasta dan dukungan seluruh masyarakat melalui peran serta dan sumbangsihnya dalam upaya penanganan Covid-19 di Kota Batam.

“Tetap senantiasa peka dan disiplin dalam mematuhi Protokol Kesehatan Covid-19 sebagaimana Peraturan Wali Kota Batam Nomor 49 Tahun 2020 Tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19,” kata dia.(***)