batampos.co.id – Singapura terus mengembangkan uji coba tes Covid-19 melalui hembusan napas. Bahkan hasilnya bisa diketahui kurang dari 1 menit.

Seseorang cukup hanya dengan bernapas ke dalam tabung. Selain itu, biayanya ternyata lebih murah dibanding tes PCR selama ini.

Kit tes ini telah dikembangkan oleh spin-off dari National University of Singapore (NUS) Breathonix. Menyusul uji coba yang berhasil di National Center for Infectious Diseases (NCID).

Perusahaan tersebut mengatakan kepada Straits Times pada Kamis (29/10/2020) bahwa saat ini sedang dalam tahap diskusi dengan Kementerian Kesehatan (MOH) untuk menerapkan tes alat pernapasan dalam uji coba di lokasi umum di masa mendatang.

Kepala eksekutif Breathonix, dr Jia Zhunan, mengatakan, perusahaan juga bekerja untuk memperluas uji coba NCID untuk memasukkan 250 pasien lebih lanjut selain 180 pasien saat ini.

Pimpinan perusahaan, Associate Professor Neo Kok Beng, menambahkan, bahwa mereka juga sedang dalam pembicaraan dengan dunia perhotelan untuk melakukan tes setelah mengantongi persetujuan dari Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA).

Alat tes Covid-19 lewat napas yang dikembangkan Singapura (Straits Times)

Prof Neo menambahkan bahwa Breathonix juga telah menerima beberapa permintaan dari grup di luar negeri agar tes dapat diluncurkan di sana.

Lebih Murah

Biaya pasti untuk tes breathalyser masih dikaji. Termasuk jumlah tes yang dilakukan. Akan tetapi Prof Neo mengatakan bahwa jika sekitar 5 ribu orang diuji per bulan menggunakan satu mesin, setiap tes akan menghabiskan biaya sekitar USD 20 atau Rp 280 ribuan.

Saat ini, tes PCR di Singapura diperkirakan menelan biaya sekitar USD 200 per orang atau Rp 2,8 juta.

Cara Kerja

Seseorang cukup meniup ke corong sekali pakai yang terhubung ke alat pengambil napas. Spektrometer massa menganalisis partikel tak terlihat yang disebut senyawa organik volatil (VOC) dalam napas seseorang.

Orang yang sehat akan memiliki tanda tangan VOC yang berbeda dengan orang yang sakit. Dan penyakit yang berbeda menghasilkan tanda tangan yang berbeda pula.

Hasilnya dihasilkan secara otomatis dalam waktu kurang dari satu menit, tanpa perlu memproses sampel di tempat lain.

Hal ini membuat tes breathalyser lebih nyaman dan lebih cepat daripada tes usap polymerase chain reaction (PCR) saat ini, yang membutuhkan laboratorium eksternal untuk memproses sampel, dan membutuhkan beberapa hari untuk mengembalikan hasil.

Hasil tes Breathonix juga dihasilkan lebih cepat daripada tes cepat antigen (ART), yang memakan waktu setidaknya 15 menit.

Tes breathhalyser juga non-invasif, berbeda dengan tes PCR dan ART yang memerlukan penyeka untuk dimasukkan ke dalam lubang hidung seseorang dan diketahui menyebabkan ketidaknyamanan.

Selain itu, tidak seperti tes PCR yang membutuhkan teknisi laboratorium yang terampil untuk memproses sampel, mesin Breathonix hanya membutuhkan sekitar satu jam pelatihan agar orang awam dapat mengoperasikannya.

“Secara teknis, siapapun yang tahu bagaimana mengoperasikan agar bisa melakukannya,” tambah Kepala operasi dan salah satu pendiri perusahaan, Du Fang.

Pada uji klinis NCID baru-baru ini, tes breathalyser juga berhasil mendeteksi pasien tanpa gejala. Meskipun peneliti memperingatkan bahwa studi dan uji coba lebih lanjut diperlukan untuk memvalidasi hasil. Hasilnya memiliki tingkat sensitivitas 93 persen. Tes tersebut sejauh ini dipandang bermanfaat untuk skrinning.

“Kami tidak membandingkan atau bersaing dengan tes PCR. Tes napas ini lebih merupakan perangkat skrining level pertama,” jelasnya.(jpg)