Artikel ini menjelaskan efisiensi  waktu dalam memberi pelatihan pengelasan level II menggunakan Model Participatory Ergonomics and Teaching Factory (PE-TEFA).

Proses yang cepat dan tepat (mempersingkat 50 Jam) dalam memahami teknik pengelesan diharapkankan mampu menghadirkan tenaga terampil yang kompetitif di era persaingan global.

Tenaga pengelasan di Indonesia sangat dibutuhkan oleh industri. Kehadirannya menjadi sangat vital, sebagai tenaga utama dalam produksi khususnya berkaitan dengan logam.

Kondisi ini mengharuskan, industri merekrut tenaga terampil dengan penguasaan lapangan yang mumpuni. Namun demikian, kebutuhan tersebut tidak serta merta didapatkan secara spontan. Bila mengharuskan menghadirkan orang dengan pengalaman kerja, maka dibutuhkan waktu relatif lama. Karena itu hadirnya lembaga pelatihan pengelasan mampu menaunngi keinginan industri menjadi sebuah jawaban.

Pemberian pelatihan oleh lembaga pengelasan tentu memiliki ragam metode. Konsep yang ditawarkan juga memberikan pengaruh pemahaman terhadap peserta pelatihan. Hal ini erat kaitanya dengan permasalahan waktu, jenis bahan hingga beban kerja (tugas) yang diberikan.

Disisi lain, industri manufaktur dan non migas terus berkembang dimana semua membutuhkan tenaga kerja terampil khusunya pengelasan. Selain itu, minat masyarakat terhadap pekerjaan pengelasan sangat tinggi, bukan hanya mereka yang sudah bekerja, keinginan ini juga datang dari masyarakat yang masih menganggur. Mereka mengambil pelatihan guna mempersiapkan diri ketika suatu saat dibutuhkan oleh industri.

Provinsi Kepulauan Riau sendiri mencatat pengangguran relatif tinggi. Catatan Badan Pusat Statistik menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka masih 5,57 persen per Februari 2020.

Sumber : https://kepri.bps.go.id

Bila dilihat dari grafik, Angkatan kerja Provinsi Kepulauan Riau pada Februari 2020 sebanyak 1.062.087 orang.  Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Provinsi Kepulauan Riau pada Februari 2020 mencapai 5,57 persen. Dilihat dari tingkat pendidikan, TPT untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi diantara tingkat pendidikan lain yaitu sebesar 10,37 persen.

Pesatnya permintaan tenaga pengelasan tidak hanya karena faktor pertumbuhan dalam industri, tetapi juga karena pemerintah berusaha untuk mempercepat proyek yang dianggap strategis dan harus dilakukan segera dalam jangka pendek.

Berdasarkan peraturan presiden No. 58 Tahun 2017 tentang perubahan atas peraturan presiden No. 3 Tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan proyek strategis nasional, diputuskan sebanyak 245 proyek strategis nasional (PSN) ditambahkan. Hal ini belum termasuk proyek swasta, baik local hingga berskla internasional.

Lodewijk Hutapea Presiden Ikatan Teknik Pengelasan Indonesia (ITPI) dalam Bisnis.Com (2017) saat ini indonesia kekurangan tenaga kerja yang ahli dalam bidang pengelasan.

Tamzil dalam Krjogja (2019) dengan laju pertumbuhan proyek infrastruktur yang masif sekarang ini, secara nasional masih dibutuhkan tambahan 50 ribu tenaga ahli pengelasan yang telah tersertifikasi.

Sementara, menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Batam, Rudi Sakyakirty dalam Terdepan (2019) mengatakan, perusahaan-perusahaan perkapalan, minyak dan gas di Batam membutuhkan sekitar 6 ribu tenaga kerja yang mahir mengelas.

Tingginya permintaan ini harus dibarengi dengan lembaga yang mampu melahirkan tenaga pengelasan terampil dan efiien.

Dari hal diatas, penulis meneliti penerapan Model Participatory Ergonomics and Teaching Factory (PE-TEFA) di Training School PT. Profab Indonesia (NOV). Lembagai ini hadir untuk menghasilkan tenaga pengelasan yang memiliki kualifikasi sesuai kebutuhan perusahaan.

Kualifikasi tenaga pengelasan yang dihasilkan Training School PT. Profab Indonesia (NOV) terbagi menjadi 3 kategori, level satu (dasar) yaitu peserta menguasai pengelasan plat posisi pengelasan 1G sampai 4G, level dua (mahir) yaitu peserta menguasai pengelasan plat posisi 1G sampai 4G dan pipa posisi pengelasan 1G, 2G, 5G dan 6G dan level tiga (ahli) yaitu telah menguasai pengelasan plat dan pipa dengan berbagai posisi pengelasan dan telah memiliki pengalaman pengelasan selama 3 tahun.

Rerata waktu yang dibutuhkan peserta pelatihan agar mahir (Lv2) mengelas selama 5 tahun(2015-2019) yaitu 518 jam, kondisi ini belum sesuai dengan target waktu yang telah di tetapkan oleh Training School PT. Profab Indonesia (NOV) yaitu 400 jam atau selisih 118 jam dari target waktu yang telah ditetapkan.

Penelitian dilakukan dengan menggunakan model penelitian dan pengembangan (R&D). Sikulus R&D dalam Penelitian ini terdiri dari: mempelajari hasil penelitian produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan, menguji penggunaananya dan merevisi untuk memperbaikinya.

Prosedur pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah model penelitian dan pengembangan ADDIE (analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi).

Adapaun beberapa pengujian yang dilakukan, ialah,

  1. Pengujian validitas bahwa instrumen penelitian, model PE-        TEFA, modul ajar, panduan instruktur dan panduan peserta      yang dikembangkan,
  2. Uji praktikalitas berdasarkan penilaian instruktur dan              peserta pelatihan terhadap perangkat model PE-TEFA              semua aspek berada pada kategori sangat praktis.
  3. Uji efektifitas dari aspek afektif, kognitif dan psikomotorik        yang telah dilakukan terdapat peningkatan yang signifikan,
Gambar Perbedaan Waktu Pelatihan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Secara umum, dari hasil analisis terhadap kemampuan pemahaman dan keterampilan pengelasan logam kelas eksperimen yang mengunakan model participatory ergonomics and teaching factory (PE-TEFA) lebih efektif dari kelas kontrol yang tidak menggunakan model yang dikembangkan.

Hal ini berdasarkan waktu pelatihan yang dibutuhkan untuk mahir (Lv2) pada posisi pengelasan yaitu posisi pengelasan datar (1G), posisi pengelasan horizontal (2G), posisi pengelasan vertical (3G) dan posisi pengelasan diatas kepala (4G) dan untuk pengelasan pipa yaitu posisi pengelasan datar dan pipanya dapat diputar (1G) adalah 350 jam dari target 400 jam yang ditentukan oleh Training School PT. Profab Indonesia (NOV).

Melihat gal diatas terdapat selisih 50 jam, sedangkan kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan model baru menggunakan waktu pelatihan 455 jam atau melebihi target.

Kebaruan Pada penelitian ini peneliti mengembangkan model pelatihan dengan memadukan model participatory ergonomics yang terdiri dari 5 sintak (persiapan, analisis, pemilihan solusi, melaskanakan dan evaluasi) dan model teaching factory yang kemudian menghasilkan model baru yaitu model participatory ergonomics and teaching factory (PE-TEFA) pada pengelasan logam.

Lima sintak ini, dimulai persiapan meliputi Menyampaikan tujuan dan capaian pelatihan, Menyampaikan materi pelatihan pengelasan logam,  Memberikan pertanyaan ke peserta pelatihan,  Menyampaikan job sheet,  Menyampaikan standar operasional prosedur pelatihan dan terakhir Menyampaikan penilaian pelatihan.

Sementara aktifitas analisis meliputi, Memberikan arahan dan contoh posisi pengelasan yang ergonomis kemudian Melakukan evaluasi. Aktifitas pemilihan solusi meliputi, Memberikan masukan kepada peserta pelatihan kemudian Mengamati, mengarahkan dan mengawasi peserta pelatihan.

Lalu aktifitas melaksanakan meliputi, Memantau dan mengawasi proses pelatihan lalu Memfasilitasi peserta yang mengalami kesulitan dalam pelatihan. Terakhir aktifitas evaluasi meliputi, Melakukan evaluasi terhadap hasil pengelasan peserta pelatihan, Memberikan masukan dan saran terhadap hasil pengelasan peserta pelatihan, Mengevaluasi kelebihan dan kekurangan pelatihan kemudian Memberikan penilaian terhadap hasil pengelasan peserta pelatihan.

Proses selanjutnya juga dilihat, dalam Sistem Sosial. Sistem ini menuntut peserta untuk dapat bekerja seperti kondisi nyata didunia industri, bekerja kelompok maupun individu sehingga dalam pelaksanaanya akan terjadi interaksi sosial.

Kemudian, tentu adanya alat pendukung lainya, mulai dari modul ajar hingga Alat bantu demostrasi pengelasan.

Alat ini akan membantu peserta mempraktekkan berbagai jenis posisi pengelasan yang akan dilakukan seperti posisi pengelasan rata/datar, posisi pengelasan horizontal , posisi pengelasan vertikal  dan posisi pengelasan di atas kepala dan untuk pipa pengelasan yaitu posisi pengelasan datar dan pipa dapat diputar, posisi pengelasan horizontal dan pipa dapat diputar.

Implikasi Praktis Model PE-TEFA pada pengelasan logam ini merupakan perpaduan model participatory ergonomics dan model teaching factory yang telah dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan dan karasteristik pelatihan pengelasan logam yang dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga pengelasan yang mahir, terampil, kompoten sesuai dengan kebutuhan industri bidang pengelasan.

Dampak yang dihasilkan pada peneilitian ini nilai kemanfaatan bagi dunia industri pengelasan, yaitu: instruktur pengelasan, peserta pelatihan pengelasan, masyarakat dan praktisi industri serta lembaga pelatihan pengelasan.

Berdasarkan implikasi penelitian yang telah diuraikan, maka model PE-TEFA yang dikembangkan ini layak untuk direkomendasikan sebagai model pelatihan pengelasan karena hasil penelitian membuktikan bahwa model yang telah dikembangkan terbukti valid, praktis dan efektif meningkatkan hasil pelatihan pengelasan logam.

Kunci kesuksesan penerapan model PE-TEFA ini yaitu keterlibatan seluruh pihak terkait seperti manajemen, instruktur dan peserta pelatihan sehingga model PE-TEFA ini dapat dilaksanakan dengan optimal.

Artikel ini ditulis oleh Dr. (c) M. Ansyar Bora, S.T., M.T., IPM. berdasarkan disertasi untuk penyelesaian Program Doktor (S3) Pendidikan Teknologi Kejuruan Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (UNP) dengan Tim Promotor Prof. Jalius Jama, M.Ed., Ph.D., dan Co-Promotor Ir. Drs. Syahril, ST., MSCE, Ph.D yang telah lulus diseminarkan pada ujian tertutup tanggal 07 Oktober 2020 pukul 12.00 dengan Tim Penguji yaitu Prof. Ganefri, Ph.D., Dr. Fahmi Rizal, M.Pd., M.T., Prof. Ambiyar, M.Pd., Dr. Waskito, M.T., Dr. Ir. Sukardi, M.T., dan Prof. Dr. Rika Ampuh Hadiguna, S.T., M.T. (Penguji Eksternal dari Universitas Andalas)