batampos.co.id – Dua negara dengan perekonomian terbesar di Uni Eropa  Prancis dan Jerman terpaksa memberlakukan kembali lockdown nasional.

Kebijakan tersebut diambil karena penularan dan kematian akibat Covid-19 yang terus melambung dan sulit terkendali. Gara-gara kebijakan itu, pasar finansial di Benua Biru merosot.

’’Gelombang kedua ini bakal lebih parah daripada yang pertama,’’ ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron, Rabu (28/10/2020) seperti dikutip BBC.

Pada hari yang sama dengan pengumuman tersebut, penularan harian bertambah 36.437 kasus dan terjadi 244 kematian. Itu adalah angka kematian tertinggi sejak April.

Separo ICU di Prancis diisi pasien Covid-19. Jika lonjakan kasus tetap sama, diperkirakan bulan depan ICU penuh.

Mulai Jumat (30/10/2020), penduduk Prancis yang diizinkan keluar rumah hanya yang memiliki keperluan pekerjaan penting dan alasan medis.

Untuk keperluan lain, mereka harus membawa dokumen yang menunjukkan bahwa kegiatan yang mereka lakukan mendesak.

Penduduk hanya diberi waktu 1 jam keluar rumah untuk olahraga. Sekolah-sekolah tetap dibuka, tapi anak-anak berusia 6 tahun ke atas wajib memakai masker di dalam kelas. Sebelumnya yang wajib bermasker adalah mereka yang berusia 11 tahun ke atas.

Restoran, bar, dan berbagai bisnis yang dirasa kurang penting harus tutup hingga 1 Desember nanti. Opsi perpanjangan lockdown juga masih ada.

Perusahaan-perusahaan juga diminta untuk menerapkan kebijakan kerja dari rumah atau work from home (WFH) selama 5 hari dalam sepekan.

’’Kami harus bekerja sebanyak mungkin, tapi dengan kondisi kebersihan yang ketat untuk mencegah virus menyebar,’’ ujar Perdana Menteri Prancis Jean Castex seperti dikutip Agence France-Presse.

’’Itu karena pengangguran dan kemiskinan juga bisa membunuh,’’ tambahnya.

Pemerintah Jerman juga memberlakukan lockdown, tetapi aturannya tidak seketat Prancis. Restoran, bar, bioskop, dan tempat-tempat olahraga ditutup mulai Senin (2/10/2020) hingga 30 November mendatang.

Pertemuan dua keluarga masih diperbolehkan, tetapi maksimal 10 orang. Acara-acara besar yang menghadirkan banyak orang dibatalkan. Perbatasan tetap dibuka, tetapi dengan pemeriksaan yang jauh lebih ketat.

Departemen Kesehatan Jerman mengungkapkan bahwa kemarin (29/10/2020) ada tambahan 16.774 kasus baru dan 89 kematian. Dalam kurun waktu 10 hari terakhir, jumlah pasien di ICU meningkat dua kali lipat.

’’Kami harus bertindak sekarang untuk menghindari keadaan darurat nasional kesehatan yang akut,’’ tegas Kanselir Jerman Angela Merkel.

Pemerintah bakal memberikan bantuan untuk para pelaku bisnis dan institusi yang terdampak. Perusahaan yang memiliki lebih dari 50 pegawai dan orang yang bekerja sendiri seperti pekerja seni akan menerima bantuan 75 persen dari penghasilan mereka.

Pemerintah sudah menyiapkan anggaran sebesar EUR 10 miliar atau setara dengan Rp 171,8 triliun untuk mendukung bisnis di negaranya bertahan selama pandemi.

Berbeda dari sebelumnya, saat ini dukungan rakyat atas kebijakan pandemi Jerman terus menurun. Sama dengan Italia, Jerman mengalami penolakan atas kebijakan pencegahan penularan Covid-19 yang ketat. Hanya, di Jerman tak berujung ricuh seperti Italia.

Inggris sejatinya juga mengalami hal serupa. Namun, belum ada kebijakan ketat seperti dua tetangganya. Pada Rabu, ada 310 kematian dan 24.701 kasus baru.

Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa setiap hari hampir 100 ribu orang tertular Covid-19 di negara yang dipimpin Perdana Menteri Boris Johnson tersebut. Namun, sekitar separonya tidak terdeteksi karena tidak bergejala atau tidak memeriksakan diri.

Sementara itu di Spanyol, jam malam diberlakukan sejak 25 Oktober demi menekan angka penularan. Gelombang penularan baru tersebut membuat harapan penduduk Eropa untuk merayakan Natal dengan normal kian surut.

’’Saya rasa Natal tahun ini akan berbeda,’’ terang Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.(jpg)