Rabu, 29 April 2026

Ekonomi Kuat Masyarakat Sehat, Bangkit Dari Pandemi Menuju Masyarakat Produktif

Berita Terkait

Selama tujuh bulan, ekonomi warga Pulau Belakangpadang lumpuh. Beragam sektor mati suri dihantam pandemi Covid-19. Sempat putus asa, pemerintah setempat akhirnya menangkap peluang bagus.
Menawarkan acara gowes keliling kampung bagi warga perkotaan. Peminat pun berbondong-bondong ke pulau itu, mereka bersepeda sembari menikmati kehangatan yang ditawarkan warga setempat.
Sektor ekonomi perlahan bergerak, penambang boat, penarik becak mulai kebanjiran penumpang, begitu pun dengan kuliner di sana, dapur mengepul lagi, mereka bangkit dari pandemi menuju masyarakat produktif.
YULITAVIA, Batam
Jamal (51) seorang penambang boat pancung Pelabuhan Rakyat Sekupang terlihat sibuk, Minggu (31/10/2020). Ia tengah memindahkan sepeda milik pegawai Satpol PP Kota Batam yang akan ikut gowes di Kecamatan Belakangan Padang ke dalam boatnya.
Jamal begitu semangat, bibirnya terus menyungging senyuman. Tangannya cekatan menjajarkan sepeda-sepeda mahal itu agar rapi dan muat. Lepas itu, ia bersiap menghidupkan mesin, dan semenit kemudian boat tersebut berlayar meninggalkan riak air menuju kecamatan yang terkenal dengan kuliner melayu tersebut.
Pagi sekali Jamal mengangkut penumpangnya. Itu, setelah tujuh bulan kehilangan 90 persen penumpang akibat pandemi Covid-19 yang merebak sejak Maret lalu. Katanya, ini adalah berkah semenjak digelarnya acara gowes rutin setiap minggu di Pulau Belakangpadang. Aktivitas penambang yang tadinya lumpuh kini mulai produktif dan malah kebanjiran penumpang.
“Alhamdulillah penumpang sudah mulai banyak,” ujar Jamal, sembari tetap memegang tuas boatnya.
Dia mengatakan, Pemerintah Kota Batam yang sebelumnya membatasi aktivitas masyarakat, kini mulai melonggarkan ruang geraknya. Hilir mudik di pelabuhan pun menjadi ramai.
Hari ini, ia mengangkut 20 sampai 30 sepeda dengan penghasilan Rp 500-600 ribu. Padahal sebelumnya, untuk mendapatkan satu penumpang saja harus menunggu berjam-jam bahkan bisa seharian.
Akibatnya, kondisi keuangannya luluh-lantak. Begitu juga dengan penambang lain yang merasa ekonominya berada diujung tanduk.
“Boat gak berlayar karena memang nggak ada penumpang. Selain itu, karena kami pakai sistem antrian jadi harus saling menunggu. Boat akan jalan kalau penumpang penuh,” ungkap pria 51 tahun ini.
Tak punya pilihan, Jamal mengaku harus tetap bertahan dalam kondisi ketidakpastian itu. Sebab, penambang adalah satu-satunya mata pencaharian.
“Putus asa ada, karena anak-anak pulau yang sekolah di Batam pada libur, jadi tidak ada lagi penumpang,” ucapnya.
Kondisi itu, lanjut Jamal, menjadi bukti kejamnya pandemi covid-19. Virus ini membunuh semua sektor dan membuat masyarakat kecil kelimpungan.
Serupa juga dialami Supri, penarik becak yang sudah melakoni pekerjaannya selama 30 tahun. Pendapatan mereka hilang lantaran wisatawan asing asal Malaysia dan Singapura, yang mereka andalkan saat berwisata ke pulaunya tak lagi berkunjung. Resah ia rasa, Covid-19 menutup rezeki mereka. Untuk mendapatkan uang Rp 10 ribu saja susahnya bukan kepalang.
Para goweser Batam menyewa boat saat akan melakukan kegiatan sepeda santai di Kecamatan Belakang Padang. Foto: Yulitavia/batampos.co.id
Padahal ia bersama 64 penarik becak lainnya, bisa berpenghasilan hingga ratusan ribu dalam sehari.
“Kami memang andalkan turis asing selama ini,” ucap Supri yang tengah beristirahat sembari menikmati keindahan pasir putih yang ada di pulaunya.
Menurut Supri, keberadaan wisatawan itu membantu perputaran roda ekonomi mereka. Tak sedikit dari mereka yang sudi membayar mahal asalkan diajak berkeliling menikmati pulau yang dijuluki “si penawar rindu” ini. Sekali berkeliling kampung, jasanya bisa di bayar Rp 50 ribu bahkan Rp 60 ribu.
“Selama hampir 30 tahun menjadi penarik becak, baru kali ini kondisinya separah ini,” katanya.
Di Pulau yang nyaris berhadapan langsung dengan Singapura ini memiliki banyak tempat menarik serta kuliner enak. Bahkan Warga Batam sendiri kerap berkunjung ke pulau itu hanya untuk sekedar menatap siluet gedung pencakar milik Singapura.
“Tapi sekarang alhamdulillah sudah mulai ramai yang ke sini (Pulau Belakangpadang, red),” sebutnya.
Kini ia dan penarik becak lainnya pun sedikit bernafas lega. Lewat kelonggaran kebijakan, juga kegiatan gowes di akhir pekan, mereka mampu bangkit. Jasanya sebagai penarik becak dipakai lagi. Sehingga urusan dapur dan biaya sekolah anak pun terpenuhi.
Camat Belakang Padang, Yudi Admaji, mengaku sejak dihantam pandemi covid-19, hampir semua kegiatan terhenti. Kondisi ini tidak hanya terjadi di mainland (perkotaan) melainkan juga hinterland (pesisir), termasuk Belakangpadang.
Sebagai pejabat di pulau itu, Yudi harus putar otak agar roda ekonomi warganya tetap jalan dan tak ingin mandul karena pandemi.
“Kami hanya mengharapkan orang datang dari luar, namun keadaan tidak memungkinkan karena adanya pandemi ini. Kalau sudah musim angin utara nelayan tidak melaut sehingga mereka menjadi penarik boat. Karena pandemi orang tak ada datang, otomatis pemasukan mereka tidak ada,” kata Yudi, saat ditemui Batam Pos di kantornya.
Seiring adanya kelonggaran yang diberikan pemerintah, ide-pun muncul, ia mencoba menangkap peluang dari gaya hidup masyarakat yang berubah. Gowes salah satunya.
Bersama masyarakat, pemuda dan perkumpulan penambang boat Belakangpadang, ia mengemas kegiatan itu dalam kegiatan gowes keliling kampung. Hasilnya, banyak masyarakat Batam berminat bersepada sembari menikmati deru ombak pagi hari yang jarang mereka temukan di perkotaan.
“Rutenya sampai 5 kilometer dengan pemandangan alam dan pantai. Rutenya juga sudah dibangun infrastruktur pendukung agar nyaman untuk dilalui.” ucap mantan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kota Batam ini.
Roda ekonomi masyarakat perlahan bergerak, masyarakat yang tadinya kehilangan mata pencaharian, kini antusias menyambut wisatawan. Namun dengan tetap memegang dan menerapkan protokol kesehatan.
Perilaku baru seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan (3M). Bahkan sejak pemberlakuan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB), setiap libur jumlah pengunjung yang datang ke Belakangpadang berkisar 150-250 orang, sementara untuk gowes itu bisa mencapai 80 orang.
Dampak dari kunjungan ini selain penambang boat, penarik becak, juga merambah ke kuliner. Karyawan yang sebelumnya dirumahkan kembali dipanggil.
“Mereka yang berdiam diri di rumah, kembali produktif. Pelaku usaha kuliner mulai menggeliat kembali,” Bebernya.
Tak hanya itu, masyarakat juga mulai menyewakan rumah mereka sebagai penginapan. Konsep homestay itu mulai dijalankan saat AKB diberlakukan. Tarif satu malam dipatok Rp 100 ribu.
Personel Satpol PP Kota Batam memeriksa suhu tubuh masyarakat yang akan menyebrang ke Pulau Belakang Padang. Foto: Yulitavia/batampos.co.id
“Makannya disiapkan oleh yang punya homestay dengan menu andalan seafood. Secara tidak langsung nelayan juga terbantu. Ikan hasil tangkapannya bisa dipesan. Jadi semua bergerak dan produktif. Tidak ada lagi mengeluh dan berputus asa karena pandemi ini,” ungkap Yudi.
Peran media komunikasi juga menjadi penunjang dalam promosi wisata gowes di Belakangpadang. Banyak dari mereka menggunggah hasil gowes ke media sosial, hal ini berdampak pada banyaknya goweser yang mengunjungi Belakangpadang.
“Bahkan melalui gowes ini ada yang baru pertama kali berkunjung dan tahu soal Belakang Padang,” katanya.
Kendati demikian, Yudi mengaku bangkit dari pandemi bukan hal yang mudah. Ia sempat khawatir adanya penyebaran kasus baru di wilayahnya.
“Untuk itu, kami memastikan kesehatan goweser dengan pengecekan suhu di pintu kedatangan. Mereka juga diwajibkan memakai masker, ” Katanya.
Selain itu, guna mendukung protokol kesehatan, di area wisata kuliner juga disediakan tempat cuci tangan dan hand sanitizer. Sehingga wisawatan yang masuk ke Belakangpadang tidak membawa masuk virus asal Wuhan Tiongkok tersebut.
“Jadi, ekonomi kuat masyarakat sehat,” ungkap pria asal Lombok, NTB ini.
Sementara Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Belakangpadang, Linda mengatakan sejak pandemi ia bersama anggota lainnya mulai berbenah. Meskipun belum usai, ia harus bersiap jika nanti pintu masuk kembali dibuka dan wisatawan bisa kembali berkunjung ke Belakangpadang.
“Kami coba tawarkan wisata sejarah, budaya, kuliner dan lainnya. Beberapa travel sudah masuk dan kemarin ada juga yang menginap. Warga juga aktif menyiapkan rumah mereka untuk berkonsep homestay. Masyarakat sekarang ada kegiatan baru yaitu menyiapkan makanan bagi wisatawan,” kata dia.
Menurutnya, jumlah kunjungan yang datang ke Belakangpadang masih terlalu sedikit dari sebelum pandemi. Namun ia tetap bersyukur, roda perekonomian warga sedikit-demi sedikit membaik.
Wajah-wajah yang awalnya terlihat murung kembali cerah. Mereka tampak semangat menyambut rezeki di penghujung tahun ini.
“Masyakarat sudah bisa berpenghasilan lagi. Menangkap peluang apa saja didepan mereka karena memang masyarakat bingung juga mau kerja apa. Karena lagi pandemi semua susah,” tutupnya.
Pemerintah Kota (Pemko) Batam menjadikan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) sebagai tantangan pariwisata, bukan sebagai sebagai ancaman.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata.
“Kita terus berinovasi bagaimana Batam bisa melawan dan mengendalikan virus ini,” kata Ardi.
Dalam kegiatan yang menghadirkan sejumlah tokoh pariwisata Batam itu, Ardi mengungkapkan beberapa inovasi dan upaya Batam dalam menjawab tantangan Covid-19.
Beberapa inovasi tersebut seperti adanya protokol kesehatan di sektor pariwisata, membangun destinasi-destinasi wisata baru, membuat check point di Nongsa hingga rencana pemberian insentif bagi pekerja di sektor pariwisata.
“Semua kita lakukan demi kebangkitan pariwisata Batam,” ujarnya.
Ardi optimistis, Batam mampu mengatasi Covid-19 ini. Dengan beragam cara, saat ini Batam bahkan dinilai lebih baik dari beberapa daerah lain dan Batam sudah mendapat penganugerahan terkait penerapan tatanan kehidupan normal baru.
“Covid-19 ini tantangan, bagaimana kita bisa menanganinya. Sebagai khalifah di muka bumi ini, kita manusia yakin bisa mengatasi ini,” ujar Ardi.
Untuk itu, ia mengajak semua lapisan masyarakat, khususnya pentahelik; unsur pemerintah, akademisi, pengusaha, masyarakat, serta media, untuk bersama-sama meningkatkan kepercayaan wisatawan untuk kembali datang ke Batam.
Ia menyebut, sejauh ini dengan kerja bersama melawan Covid-19 di Batam, sangat memberi dampak positif bagi pariwisata Batam.(***)

Update