Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB, tapi Sushanti masih mengolah bahan-bahan yang akan dijadikannya berbagai camilan untuk dijual kepada para pelanggannya. Meski pendapatannya turun drastis karena imbas dari pandemi Covid-19, ia yakin usahakan akan terus berkembang.
Terlebih saat ini jaringan internet di tempatnya tinggal di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas yang berada di kawasan daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T) di Indonesia sudah sangat lancar. Sehingga memudahkannya untuk memasarkan produknya secara daring atau online.
Messa Haris – Batam
Jejeran kerupuk dan stik atom yang dikemas di dalam plastik bening tersusun rapi di etalase. Plastik tersebut tertulis merek Dapur Tahfiz Kuliner milik Sushanti yang merupakan salah satu pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau.
Ibu satu orang anak itu mengaku tidak pernah patah arang untuk membangun usaha yang dirintisnya sejak 2011 lalu.
Saat memulai usaha camilan, Sushanti hanya bermodalkan Rp 50 ribu. Camilan yang diproduksinya saat itu adalah empek-empek, jajanan khas Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Namun, lambat laun usahanya terus berkembang dan mulai memproduksi kerupuk dan keripik atom dengan bahan utama ikan dan tepung.
Camilan khas Kabupaten Anambas itupun menjadi primadona, tidak hanya bagi warga lokal tapi juga wisatawan. Bahkan produknya bisa menembus pasar internasional.
“Saya dibantu adik untuk menjualnya ke Singapura. Setiap bulan itu selalu ada yang pesan dan dikirim ke sana sampai 20 kilogram, sebulan itu bisa tiga kali. Per kilonya saya jual Rp 110 ribu,” ujarnya, Kamis (5/11/2020).
Namun, saat pandemi Covid-19 melanda, penjualannya merosot tajam. Camilannya yaitu kerupuk atom tidak bisa lagi dikirim ke Singapura, karena negara tersebut menutup pintu masuk untuk mencegah penularan dan penyebaran Covid-19 ke negaranya.
Efeknya, pemasukan Sushanti terjun bebas. Jika sebelumnya bisa mencapai Rp 30 juta per bulan, namun kini hanya bisa untuk menutup biaya produksi saja.
Istri dari Nasrul Yadi itu menjelaskan, pangsa pasar usaha camilannya memang lebih banyak ke luar Kabupaten Anambas.
Sehingga ketika pandemi Covid-19 mewabah, usahanya saat ini seperti jalan di tempat dan hanya mengandalkan order dari masyarakat di tempat tinggalnya di Tarempa.
Sushanti mengatakan, saat pandemi Covid-19 melanda, dirinya dan para pelaku UMKM di Kabupaten Kepulauan Anambas mulai mengubah pola pemasaran.
Jika awalnya dilakukan secara konvensional yaitu memajangkan dagangan di toko atau melalui mulut ke mulut, kini sudah mulai merambah ke digital.

Sudah empat bulan belakangan ini, ia aktif mengunduh dagangannya ke media sosial yaitu facebook. Serta membuat status di Whatsappnya..
“Alhamdulillah melalui facebook banyak juga yang order,” jelasnya.
Dengan cara itu kata dia, penjualannya kembali meningkat meski tidak sama seperrti sebelum pandemi Covid-19.
Camilan yang dijualnyapun semakin beraneka ragam. Tidak hanya kerupuk dan stik atom, tapi juga empek-empek, rendang cumi, aneka kue hingga bolu.
“Alhamdulillah sekarang jaringan internet di Anambas sudah sangat baik. Jadi mudah untuk jualan online. Saya sering live juga,” ujarnya.
Ibunda Tahfiz Elfares itupun kian yakin dan percaya usaha akan semakin berkembang meski di tengah pandemi Covid-19. Caranya kata dia, dengan memanfaatkan tehnologi.
Tidak hanya itu, ia dan para pelaku UMKM lainnya juga diberikan bimbingan teknis (Bimtek) dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Kepulauan Anambas, untuk meningkatkan penjualan produknya melalui platform digital.
“Kemarin kita mendapatkan pelatihan dari shoppee bagaimana untuk mengambil foto produk dan mengunduhkan di situs jual beli,” jelasnya.
Menurutnya, para pelaku UMKM terus dibimbing oleh tim dari Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) Kabupaten Kepulauan Anambas.

Dari pelatihan tersebut lanjutnya, semua pelaku UMKM kembali bangkit untuk terus menjual dagangannya. Bahkan saat ini dagangannya sudah memiliki merek dan sudah kian dikenal di Anambas.
“Merek usaha saya Dapur Tahfiz Kuliner dan saya juga sudah melayani pemesan melalui online. Jadi pandemi ini bukan menjadi penghalang, tapi justru menjadi tantangan bagaimana kami bisa memasarkan dan memperkenalkan produk kami secara online,” paparnya.
Hanya saja lanjutnya yang menjadi kendala utama dari pelaku UMKM di daerahnya adalah kemasan untuk produknya. Bukan karena langka, melainkan harganya sangat mahal.
“Harga kemasan yang bagus di sini sangat mahal karena ongkos kirim dari daerah lain sangat tinggi. Kendala lainnya adalah biaya pengiriman dari Anambas ke luar daerah yang biayanya lebih tinggi dibandingkan harga produk yang kami jual,” tuturnya.
Pihaknya sangat berterima kasih kepada Pemkab Anambas yang terus memberikan perhatian kepada para pelaku UMKM. Sehingga dapat mengembangkan usahanya hingga dikenal hingga ke luar Kabupaten Anambas.
“Kita pelaku UMKM di Anambas ini maju tak gentar dan tetap semangat di tengah pandemi ini. Kami terus memproduksi meski di tengah pandemi,” ucapnya.
Daftarkan 5.599 Pelaku UMKM
Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah Kabupaten Kepulauan Anambas mendaftarkan sekitar 5.599 pelaku UMKM agar mendapatkan Bantuan Presiden (Banpres) produktif atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp 2,4 juta.
Kadisperindang Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Kepulauan Anambas, Usman, mengatakan, sebagian pelaku UMKM sudah menerimanya bantuan tersebut.
Pihaknya juga memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM untuk mendapatkan dana bergulir ditengah pandemi hingga Rp 30 juta atau disesuaikan dengan harga jaminan yang diajukan. Dengan bunga hanya 3 persen per tahun.
“Melalui PLUT, kami juga melakukan pembinaan dan ada konsultan yang akan memberikan semangat kepada mereka bagaimana menghadapi kondisi di tengah pandemi ini,” ujarnya.
Sehingga lanjutnya ekonomi masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas bisa kembali bangkit. Kata dia, tim PLUT rutin melakukan pertemuan dengan pelaku UMKM setiap minggu dan terus berpikir positif sehingga dapat terus memproduksi dagangannya.
Pihaknya juga bekerjasama dengan platform digital untuk memberikan pelatihan dan membantu pemasaran produk-produk pelaku UMKM di Anambas.
Ia menjelaskan, produk unggulan para pelaku UMKM Kabupaten Kepulauan Anambas adalah semua olahan makanan yang berasal dari laut.
Seperti kerupuk dan stik atom, cumi-cumi, abon ikan hingga ikan asap yang sudah sangat terkenal hingga keluar daerah bahkan luar negeri.

Selama ini lanjutnya, pola pemasaran yang dilakukan pelaku UMKM di Anambas adalah melalui orang ke orang.
“Jadi kalau ada kapal yang merapat biasanya sudah ada pembeli tetap produk mereka. Tapi itu hanya beberapa orang saja,” jelasnya.
Dengan adanya pelatihan penjualan dari platform digital, ia berharap produk-produk pelaku UMKM bisa lebih dikenal oleh masyarkat luas di Indonesia.
Terlebih saat ini kata dia, jaringan internet di Anambas sudah sangat baik. Bahkan kata dia, kaum milenial di daerah tersebut juga memanfaatkan teknologi digital untuk memasarkan berbagai produk-produk fashion seperti tas, sepatu, celana dan pakaian.
“Mereka ini (kaum millenial di Kabupaten Kepulauan Anambas,red) menjadi reseller dan selalu mengunggah produk-produk fashion dan menjadi status di WA mereka,” tuturnya.
Pihaknya yakin masyarakat Kabupaten Kepulauan Anambas mampu dan akan semakin produktif di tengah pandemi karena sudah didukung dengan jaringan internet yang sangat baik.
Sehingga kata dia, dapat memudahkan untuk memasarkan serta memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat luas.
Selain itu lanjutnya, Kabupaten Kepulauan Anambas telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah market place. Tujuannya untuk mempromosikan produk-produk unggulan UMKM masyarakat Anambas.
Sementara itu Bupati Kepulauan Anambas, Abdul Haris, mengatakan, saat ini pihaknya berusaha menggerakan UMKM berbasis online agar pelaku usaha di Anambas dapat berkembang dan semakin maju.
“Mudah-mudahan pelaku UMKM di Anambas dapat diberikan kemudahan. Artinya dengan promosi produk-produk unggulan itu melalui shopee atau sebagainya, orang yang tinggal di luar daerah hanya tinggal klik dan barang pesan diterima,” tuturnya.
Perlu diketahui Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) telah menyelesaikan pembangunan jaringan serat optik Palapa Ring Barat dan sudah bisa dinikmati sejak 2018 lalu oleh masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) salah satunya di Anambas.
Sejak terbangunnya jaringan Palapa Ring Barat, kecepatan internet di wilayah pedesaan mencapai 10 Mbps, sementara di perkotaan mencapai 20 Mbps.
Bahkan di beberapa wilayah Kabupaten Kepulauan Anambas memiliki akses internet gratis. Salah satunya di Tarempa di antaranya di Kampung Baru, Siantan Selatan dan Timur.(***)
