batampos.co.id – Perekonomian Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mulai berangsur-angsur membaik setelah babak belur terdampak pandemi Covid-19. Setidaknya bisa dilihat perekonomian Kepri triwulan ketiga yang tumbuh 3,23 persen dari triwulan sebelumnya.
”Memang tumbuh, tapi masih kontraksi sebesar minus 5,81 persen dari triwulan kedua yang terkontraksi minus 6,66 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo, Kamis (5/11), dilansir Harian Batampos.
Agus menjelaskan, berdasarkan lapangan usaha, kontraksi ekonomi terutama disebabkan kategori perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, dengan andil kontraksi sebesar minus 1,83 persen. Diikuti konstruksi dengan andil minus 1,59 persen.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen yang memberikan andil kontraksi terbesar adalah net ekspor sebesar minus 3,97 persen dan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) dengan andil sebesar minus 2,17 persen.
Sementara dari sisi produksi, pertumbuhan positif ekonomi Kepri didorong industri pengolahan sebesar 1,73 persen dan kategori pertambangan dan penggalian sebesar 0,58 persen. ”Kedua sektor ini memang menghasilkan produk domestik regional bruto (PDRB) terbanyak, serta membuka lapangan pekerjaan paling besar di Kepri,” kata Agus.
Setelah itu, dari sisi pengeluaran, komponen PMTB memberikan andil terbesar yakni 1,58 persen, diikuti pengeluaran konsumsi pemerintah dengan andil sebesar 0,93 persen.
Secara keseluruhan, hingga triwulan ketiga 2020, pertumbuhan ekonomi Kepri secara kumulatif tumbuh minus 3,51 persen dibanding periode yang sama 2019. ”Dalam lingkup regional Sumatra, PDRB Kepri triwulan ketiga memberikan kontribusi sebesar 7,32 persen terhadap Sumatra,” paparnya.
Agus menambahkan, pandemi Covid-19 juga tidak selamanya membuat dunia usaha di Kepri terpuruk. Pasalnya ada sejumlah sektor yang mengalami pertumbuhan yang pesat. Pertumbuhan tertinggi year on year (yoy) pada triwulan ketiga dicapai sektor Informasi dan Komunikasi 19,56 persen. Diikuti sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 11,03 persen.
Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 4,06 persen. Sebaliknya, Jasa Lainnya mengalami kontraksi terdalam sebesar minus 79,18 persen. Diikuti Jasa Perusahaan sebesar minus 51,58 persen, dan Transportasi dan Pergudangan terkontraksi sebesar minus 45,88 persen.
Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan ini secara yoy, Informasi dan Komunikasi memberikan andil pertumbuhan tertinggi, yakni 0,50 persen. Diikuti Industri Pengolahan sebesar 0,36 persen; Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib sebesar 0,24 persen.
Sebaliknya, Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor mempunyai andil terbesar terhadap kontraksi ekonomi sebesar minus 1,87 persen. Diikuti Konstruksi sebesar minus 1,59 persen serta Transportasi dan Pergudangan sebesar minus 1,10 persen.
Sedangkan, jika dilihat berdasarkan pertumbuhan ekonomi triwulan ketiga dibanding triwulan kedua, maka kategori yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah Jasa Lainnya sebesar 449,49 persen.
Disusul kategori Transportasi dan Pergudangan tumbuh 43,88 persen, kategori Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 35,75 persen, dan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial sebesar 27,84 persen.
Sedangkan andil pertumbuhan terbesar disumbangkan kategori Industri Pengolahan sebesar 1,73 persen. Disusul Pertambangan dan Penggalian serta Konstruksi yang memiliki andil masing-masing 0,58 persen. Kemudian transportasi dan pergudangan sebesar 0,43 persen.
Agus mengatakan, struktur ekonomi Kepri pada triwulan ketiga ini masih didominasi Industri Pengolahan (42,77 persen), konstruksi (19,20 persen), dan Pertambangan dan Penggalian (10,57 persen). Dari sisi jumlah PDRB, Kepri juga mengalami peningkatan.
Di triwulan kedua 2020, PDRB yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 60,29 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 41,79 triliun.
Sedangkan di triwulan ketiga yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp 62,90 triliun dan atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 43,14 triliun.
Sektor yang menyumbang PDRB terbanyak yakni industri pengolahan sebanyak Rp 26,8 triliun. Kemudian, disusul sektor konstruksi sebanyak Rp 12 triliun, dan sektor pertambangan dan penggalian sebanyak Rp 6,6 triliun.
”Sedangkan sektor yang tumbuh pesat, yakni sektor informasi dan komunikasi menghasilkan PDRB sebanyak Rp 1,6 triliun,” ungkapnya.
Sementara itu, melihat ekonomi Kepri naik meski masih kontraksi, kalangan pengusaha optimistis perekonomian Kepri akan semakin membaik. Meskipun masih mengalami perlambatan di triwulan ketiga 2020, tapi dengan insentif yang tepat, maka pelan-pelan akan berangsur pulih.
”Industri pengolahan yang di triwulan kedua masih sempat tumbuh lumayan ternyata di triwulan III juga mengalami perlambatan. Padahal ekonomi Batam dan Kepri ditopang oleh industri pengolahan ini. Maka dampak dari kontraksi industri pengolahan ini akan berdampak pada peningkatan pengangguran,” kata ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, Kamis (5/11). (*/jpg)
