batampos.co.id – Pekerja industri di Kepri berkurang sejak pandemi Covid-19. Pengurangan terbesar terjadi di industri pengolahan sebesar 1,15 persen di triwulan ketiga 2020 dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu.
”Jumlah pekerja di industri pengolahan mencapai 231.405 orang dari 1.106.600 penduduk angkatan kerja di Kepri,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo, Minggu (8/11/2020) seperti yang dilansir dari Harian Batam Pos.
Agus menyebutkan, penurunan tenaga kerja di industri pengolahan, dari 236.429 orang di triwulan ketiga 2019 menjadi 231.405 orang di triwulan ketiga 2020. Berkurang 5.024 orang.
Jika dipersentasekan, ada 22,76 persen dari total penduduk angkatan kerja di Kepri yang bekerja di industri pengolahan pada triwulan III 2020. Sementara periode yang sama tahun lalu ada 23,91 persen.
”Penurunannya sebesar 1,15 persen,” kata Agus.
Sekadar diketahui, industri pengolahan adalah kegiatan ekonomi yang mengubah sua-
tu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan, sehingga menjadi barang jadi/setengah jadi.
Bisa juga barang yang kurang nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya,
dan sifatnya lebih dekat kepada pemakai akhir. Termasuk dalam kegiatan ini adalah jasa industri dan pekerjaan perakitan (assembling).
Diakui Agus, penurunan jumlah tenaga kerja tersebut beragam sebabnya. Tapi yang paling utama terjadi karena pengurangan karyawan oleh perusahaannya, imbas dari pandemi Covid-19.
Sementara itu, sektor lainnya yang mengalami penurunan adalah sektor akomodasi dan
makan minum, dalam hal ini hotel dan restoran pada umumnya.
Berdasarkan data BPS Kepri, pada triwulan ketiga 2019. jumlah pekerja di sektor terse-
but mencapai 83.191. Dan di triwulan ketiga 2020, menjadi 80.509 orang. Dengan kata
lain, 2.682 orang kehilangan pekerjaannya.

Kontribusi jumlah pekerja di sektor ini setara 7,92 persen dari penduduk angkatan kerja di Kepri. Sektor berikutnya yang mengalami penurunan signifikan yakni sektor konstruksi.
Dari 77.013 pekerja di triwulan ketiga 2019 menjadi 69.780 pekerja di triwulan ketiga 2020. Dengan kata lain, 7.233 orang kehilangan pekerjaannya.
Sektor ini berperan sebesar 6,86 persen. Jika digabung pengurangan pekerja di industri pengolahan, sektor akomodasi dan makan minum, dan sektor konstruksi totalnya menjadi 14.939 orang kehilangan pekerjaan di triwulan ketiga 2020.
Sementara itu, jika merujuk data BJS Ketenagakerjaan (BPJAMSOSTEK), jumlah pekerja di Batam yang mencairkan jaminan hari tua (JHT) selama pandemi Covidi-19 di BPJAMSOSTEK Batam-Nagoya sebanyak 22.537 pekerja. Artinya, ada 22.537 pekerja yang kehilangan pekerjaanya.
”Tahun ini masih berjalan, kami perkirakan hingga akhir tahun mencapai 30-ribuan,
bahkah lebih,” kata Kepala Kantor BPJAMSOSTEK Batam Nagoya, Eko Yulianda, beberapa waktu lalu.
Hingga September, BPJAMSOSTEK sudah mencairkan JHT sebesar Rp 265,8 miliar. Lalu,
mencairkan Rp 21,3 miliar dari 4.695 kasus Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).
Sementara untuk Jaminan Kematian sudah dibayarkan dengan nominal Rp 5,6 miliar, dari 146 kasus. Jaminan Pensiun sudah dibayarkan Rp 1,58 miliar dari 1.862 kasus.
”Secara keseluruhan, BP JAMSOSTEK Batam-Nagoya menangani sebanyak 29.240 kasus dengan nominal mencapai 294,8 miliar,” ungkap Eko.
Ia mengatakan, peningkatan pencairan JHT ini merupakan dampak dari pandemi, ka-
rena banyak perusahaan yang melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja).
”Saat tidak bekerja, banyak pekerja yang mencairkan saldo JHT-nya. Lonjakan ini pasti terjadi,” jelasnya.
Namun, Eko menduga jumlah pekerja Batam yang mencairkan JHT lebih besar dari data diterima BPJAMSOSTEK Batam-Nagoya.
Karena, pencairan dana JHT sudah bisa dilakukan di mana saja, walaupun terdaftar di BP-
JAMSOSTEK Batam-Nagoya, bisa dicairkan di kampung halaman atau tempat lainnya.
“Atau juga bisa secara online,” ucapnya.
Peningkatan dialami juga oleh BPJAMSOSTEK Sekupang. Hal ini diamini oleh Kepala
BPJAMSOSTEK Sekupang, Moch Faisal.
”Memang terjadi lonjakan. Namun walaupun ada pandemi, kami tetap memberikan pelayanan terbaik ke masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, meski banyak yang menjadi pengangguran, tapi ada juga sektor yang mencatat kenaikan tenaga kerja.
Antara lain sektor perdagangan besar dan eceran. Dari 173.212 di triwulan ketiga 2019 menjadi 176.060 di triwulan ketiga 2020. Kontribusi sektor ini sebesar 17,32 persen.
Sektor berikutnya yakni sektor transportasi dan pergudangan 62.428 pekerja di triwulan kertiga 2019 menjadi 69.674 di triwulan ketiga 2020. Kontribusinya 6,85 persen.(jpg)
