batampos.co.id – Sosiolog dan Pengajar Vokasi Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati menyampaikan perbedaan antara pendidikan di Indonesia dan negara maju seperti Jepang dan Finlandia. Salah satunya adalah kesadaran orang tua akan bakat anak.
Ia pun mengatakan, di kedua negara itu, ada orang tua yang sampai meminta anaknya untuk tidak dinaikkan kelas, bukan karena bodoh tapi untuk memperdalam ilmu akademis yang merupakan minat sang anak. Sebab, di luar negeri pendidikan akademis dan vokasi sama-sama bergengsi, hanya beda minat antaranak saja.
’’Di sana itu orang tua karena ada kesadaran bakat dan minat karena hasil interaksi guru yang cukup kuat, ada juga yang bilang tolong anak saya ini dinaikkan kelas saja walaupun dia ngga terlalu bagus di matematika dan sebagainya, karena nanti dia juga mau menjadi ahli make up pas kuliah, ya udah oke kata gurunya,’’ ungkap dia di Rapat Dengar Pendapat Umum Panja Peta Jalan Pendidikan secara virtual bersama Komisi X DPR RI, Rabu (11/11).
Berbeda dengan Indonesia yang akan malu jika tidak naik kelas. Jadi sistem pendidikan di luar negeri betul-betul student center atau berpusat pada keahlian anak demi peningkatan SDM itu sendiri.
’’Anak ini maunya apa dan bisanya apa, karena kalau dia sudah menjadi orang yang memang sesuai bakat dan minatnya, pasti dia akan bekerja dan sungguh-sungguh pada pekerjaannya yang akan mempengaruhi ekonomi negara,’’ tambahnya.
Devie pun mengkritisi sistem pendidikan Indonesia yang berorintasi pada prepare kids for test, bukan prepare kids for life. Untuk itu, yang pertama harus dilakukan adalah fokus pada satu program, tidak membuat peta jalan pendidikan namun implementasinya berantakan. ’’Cukup pilih satu dan implementasikan,’’ tegas dia.
Kemudian, ia menyarankan agar tidak ada perubahan program setiap kali berganti menteri. Oleh sebab itu, DPR perlu mengambil dan memastikan program yang berfokus pada pembangunan SDM Indonesia.
’’Siapapun menterinya punya waktu lima tahun, di tahun pertama fokus aja di pendidikan PAUD dan SD, baik itu guru dan infrastrukturnya, seluruh indonesia setahun itu fokus di SD aja. Tahun kedua SMP, ketiga SMA dan seterusnya,’’ jelas dia.
Dia menyatakan, kalau kita efisien memilih program dan konsisten mengerjakannya dalam satu waktu, dan fokus, dia percaya ini bisa dilakukan. Sebagai catatan, di Finlandia itu siapapun menterinya itu tidak berganti programnya, yang mengikat adalah parlemen yang memastikan bahwa apa yang sudah diputuskan itu akan terus dilakukan dan yang terjadi sekarang mereka menjadi negara sangat maju. (*/jpg)
