batampos.co.id – Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam mulai melakukan pendataan penerima vaksin. Rencananya pemberian vaksin akan dimulai awal 2021 mendatang.
Ketua Bidang Kesehatan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Batam, Didi Kusmarjadi mengatakan, pendataan melibatkan kader dan perangkat RT setempat.
”Targetnya masyarakat. Terutama mereka yang berisiko. Pendataan baru mulai, jadi data belum tersedia untuk saat ini,” kata dia, Kamis (19/11).
Ia menyebutkan, nanti juga akan diurutkan kebutuhan vaksin berdasarkan kelas prioritas. Sementara ini, tenaga medis masih menjadi paling prioritas diberikan vaksin.
Hal ini karena mereka berhadapan langsung dengan pasien Covid-19. Diurutan kedua adalah orang yang berisiko tinggi terpapar seperti usia 50 tahun ke atas, setelah itu akan dilihat lagi skala prioritasnya.
”Kita data dulu. Setelahnya akan diurutkan sesuai skala prioritas,” ujarnya.
Pejabat sementara Wali Kota Batam, Syamsul Bahrum mengatakan, pembentukan tim khusus persiapan vaksinasi awal tahun depan. Ia menyebutkan, tim akan memetakan lokasi-lokasi pemberian vaksin nantinya. Standar operasional (SOP) akan disusun sebaik mungkin, agar pendistribusian vaksin bisa berjalan dengan baik.
”Kemarin saya sudah rapat bersama Pak Didi juga. Dan mereka sudah punya data bahkan ada tim juga yang disiapkan dari awal sejak pandemi ini terjadi. Hanya perlu penyempurnaan saja termasuk melibatkan lurah, camat, hingga BTKLPP,” terangnya.
Syamsul mengakui, hingga kini informasi mengenai jenis vaksin juga belum ada. Menurutnya vaksin bisa berupa cairan yang disuntikan ke tubuh atau lainnya. Untuk itu, tim nanti akan menyusun mekanisme dengan mempertimbangkan jenis vaksin yang kemungkinan akan didistribusikan 2021 mendatang.
”Untuk lokasi nanti bisa diusulkan Puskesmas, Pustu atau rumah sakit. Bila perlu kita datangi warga pakai sistem jemput bola,” imbuhnya.
Menurutnya, pelaksanaan pemberian vaksin ini bisa menggunakan mekanisme Pemilu. Hal pertama tentu harus ada dana, ada petugas pengawasan, ada petugas pelaksanaan, serta lokasi penyelenggaraan vaksin itu sendiri.
”Jadi, untuk mempermudah kerja di lapangan, vaksinasi akan menggunakan cara tersebut, dengan harapan semua penduduk Batam mendapatkan vaksin tanpa terkecuali,” jelasnya.
Tidak itu saja, keselamatan vaksinator juga harus dipersiapkan. Mereka harus dibekali alat pelindung diri (APD) berupa baju hazmat selama bertugas. Hal ini tentu juga harus dihitung kebutuhannya.
”Kita tidak mau tenaga medis maupun masyarakat yang divaksin ini terpapar virus,” ucapnya.
Menurutnya, kemampuan satu orang dokter atau vaksinator hanya 50 orang. Dengan jumlah penduduk 1,3 juta, tentu harus dihitung berapa waktu yang dibutuhkan agar vaksinasi ini berjalan dengan baik.
”Tenaga dan waktu harus dihitung. Jadi sebelum vaksin tiba. Batam itu sudah siap dan tinggal jalan saja,” tambah Syamsul.(*/jpg)
