batampos.co.id – Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dibangun Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama perusahaan asal Korea Selatan, Hansol, menggunakan teknologi ramah lingkungan.

Teknologi yang digunakan berupa bakteri untuk mengolah limbah rumah tangga atau domestik yang dialirkan dari rumah-rumah warga ke pusat IPAL di Bengkong Sadai, Kota Batam.

Manajer Pengelolaan Lingkungan Badan Usaha Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Iyus Rusmana, mengatakan, luas lahan IPAL di Bengkong Sadai mencapai 7 hektare.

“IPAL ini akan digunakan untuk mengolah air limbah dengan kapasitas 230 liter per detik,” jelasnya baru-baru ini.

Saat ini, kata dia, selain terdapat kantor administrasi, di lokasi tersebut juga terdapat bangunan Food Change Reactor (FCR).

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berpusat di Bengkong Sadai yang dikerjakan BP Batam bersama perusahaan asal Korea Selatan, Hansol. Foto: Messa Haris

FCR, lanjutnya, merupakan inti dari pengolahan limbah domestik dengan menggunakan teknologi bakteri yang disimpan dalam rumah bakteri dengan kedalaman sekitar 5,5 meter.

Kata dia, FCR adalah otak pengolahan limbah domestik di Kota Batam.

Menurutnya, untuk mengalirkan limbah domestik ke IPAL di Bengkong Sadai, saat ini sudah terbangun pipa IPAL di 43 perumahan di Kota Batam.

“Kita berencana membangun 11 ribu sambungan rumah,” jelasnya.

Sebelum masuk ke IPAL di Bengkong Sadai, limbah domestik ditampung diempat stasiun pompa.

Fungsi stasiun pompa adalah untuk mengumpulkan limbah-
limbah dari rumah warga secara gravitasi dan disaring dari sampah dan sedimen.

“Sehingga, limbah domestik yang masuk ke IPAL adalah limbah cair,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dari hasil pengolahan IPAL, akan diperolah pupuk siap pakai yang diolah di slug composting.

Kemudian, dimasukkan di ruang deodorys untuk menghilangkan bau.

“setelah itu dikompres untuk jadi pupuk dan bisa menghasilkan 18 meter kubik pupuk siap pakai per hari yang bisa digunakan untuk menghijaukan Kota Batam,” paparnya.(esa/adv)