batampos.co.id – Sebagai komando utama (kotama) TNI AL di wilayah barat Indonesia, Komando Armada (Koarmada) I memiliki tanggung jawab menjaga perairan di Natuna. Baik Natuna Utara maupun Natuna Selatan. Kemarin, Rabu (25/11), sepuluh unsur Koarmada I yang terdiri atas sembilan kapal perang dan satu pesawat bermanuver di Laut Natuna Selatan.

Mereka bergerak untuk menguji kemampuan dalam latihan operasi dukungan tembakan. Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) I Laksamana Muda TNI Abdul Rasyid Kacong menyatakan bahwa pasukan yang dikirim ke Natuna Selatan sudah digelar sejak Jumat pekan lalu. Menurut dia, latihan tersebut penting untuk mengukur kemampuan personel dan seluruh unsur Koarmada I.

”Sehingga dapat diperoleh gambaran kemampuan operasional Koarmada I mulai dari tingkat perorangan maupun satuan,” jelasnya.

Perwira tinggi bintang dua TNI AL itu pun menyebut, Koarmada I sebagai kotama operasional memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan dan mendukung tugas­tugas TNI. Utamanya yang terkait bidang pertahanan laut. ”Memiliki kewajiban dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai impelementasi tugas TNI,” imbuh Rasyid.

Dalam pelaksanaan tugas-tugas itu, pihaknya butuh kesiapsiagaan prajurit dan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Untuk itu, latihan operasi dukungan tembakan mereka laksanakan. ”Latihan ini bersifat interoperabilty antar satuan sehingga dibutuhkan kerja sama taktis unsur latihan,” ujarnya.

”Mulai komando, pengendalian, sampai komunikasi,” tambah dia.

Lebih lanjut, disampaikan oleh mantan panglima Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) tersebut, latihan operasi dukungan tembakan perlu dilakukan untuk melatih kemampuan prajurit agar program zero accident dalam setiap operasi tercapai.

Berdasar data yang diterima Jawa Pos (grup Batampos Online), latihan operasi dukungan tembakan Koarmada I melibatkan KRI Bung Tomo­357, KRI John Lie­358, KRI Sutedi Senoputra­378, KRI Tjiptadi­381, KRI Barakauda­633, KRI Kujang­642, KRI Surik­645, KRI Parang­647, KRI Bubara­868, serta pesawat Pesud CN­235 P­8303.

Seluruhnya melakukan kegiatan manuver lapangan dengan materi latihan communication, leaving harbour, mine field transit, ADEX, photex, screnex, DCEX, AAROFEX, flashex, OOWEX, NSIC, prep gunex, gunex 1, gunex 2, tacman, asuwex, aswex, dan pubex.

Selain Natuna Selatan, sebelumnya TNI AL juga melaksanakan latihan di Natuna Utara. Mereka bahkan sempat latihan bersama dengan kapal perang milik Angkatan Laut Jepang. Belum lama, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksaman TNI Yudo Margono menyatakan dirinya memiliki kebijakan khusus di Natuna.

Melihat gejolak serta aktivitas di Laut China Selatan yang berbatasan dengan perairan Natuna, TNI AL berniat memindahkan satuan tempur mereka ke Natuna.

Yudo menyebutkan bahwa satuan tempur yang akan dia pindahkan adalah Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I. ”Komandan Guspurla nantianya akan pindah ke Natuna untuk antisipasi situasi yang terjadi sewaktu­waktu,” imbuhnya.

Menurut orang nomor satu di TNI AL itu, keberadaan Guspurla di Natuna akan mengefisiensikan gerakan satuan tempur mereka. ”Bisa pimpin kapal perang, satuan tugas yang ada di sana,” tegasnya.

Dia memastikan pemindahan Guspurla Koarmada I dilakukan secara permanen. Dengan begitu, satuan yang semula bermarkas di Jakarta itu akan pindah ke Natuna. Yudo menyatakan, sebagai pelaksana tugas operasi yang menjaga kedaulatan negara di Natuna, pasukan yang bergerak di bawah Guspurla Koarmada I harus lebih dekat ke medan operasi.

Sejauh ini, dia pun memastikan bahwa operasi TNI AL di Natuna tidak putus. Sedikitnya ada empat unsur kapal perang yang selalu siaga Natuna. (syn/*/jpg)