batampos.co.id – Kaum jomlo alias pria dan wanita yang belum
memiliki pasangan hidup secara resmi di Batam, jangan berkecil hati.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, kesempatan memiliki pasangan masih terbuka lebar.

Kabar menggembirakan lainnya, jumlah jomlo terus menurun, disebabkan sudah banyak yang memilih mengikat diri dalam ikatan resmi, sehingga membuat kualitas hidup lebih baik.

Data BPS Kepri pada 2019 menyebut, jumlah penduduk usia 15-49 tahun di Batam sebanyak 872.340 jiwa. Terdiri dari 324.876 laki-laki dan 314.113 perempuan berstatus menikah dan belum menikah alias jomlo.

Sedangkan sisanya, masuk kategori cerai mati atau cerai hidup. Dari 324.876 laki-laki, persentase yang sudah menikah 63 persen atau berjumlah 204.671 jiwa.

Sedangkan laki-laki berstatus jomlo, sebanyak 111.172 jiwa atau 34,22 persen.

Sedangkan dari 314.113 perempuan, persentase yang sudah menikah 69,09 persen atau berjumlah 217.020 jiwa.

Sedangkan perempuan berstatus jomlo, sebanyak 88.202 jiwa atau 28,08 persen. Dengan kata lain, populasi jomlo di Batam mencapai 199.374 jiwa.

Dengan begitu banyaknya jumlah jomlo laki-laki maupun perempuan, maka potensi untuk mengakhiri masa lajang juga masih terbuka.

Jumlah tersebut, menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibanding 2018. Di tahun tersebut, jumlah laki-laki jomlo sebanyak 118.434 jiwa. Sedangkan wanita jomlo sebanyak 88.544 jiwa.

Total jomlo di 2018 berjumlah 206.978 jiwa. Dengan kata lain, ada 7.604 warga Batam atau 3,67 persen yang berubah statusnya, antara lain karena menikah, sudah memasuki usia 50 tahun ke atas, keluar dari Batam, cerai mati, cerai hidup, atau
bahkan sudah meninggal.

Dari jumlah jomlo yang ada di Batam, sekitar 10 persen jomlo lelaki memiliki pendidikan sarjana dan enam persen untuk jomlo perempuan.

Dengan kultur kerja di Batam yang berorientasi industri, disertai dengan warganya yang bersifat multietnis, maka banyak perantau yang mengadu nasib di kota industri ini.

Orientasinya adalah karir, memiliki aset dan gaji besar. Soal jodoh nomor dua, dan diuapayakan setelah mendapatkan target hidupnya.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Batam Kota, Adamrin, mengatakan, ada sejumlah faktor yang mendasari mengapa seseorang belum juga menikah dan betah dengan status jomlonya.

”Pertama, memang belum ketemu dengan pasangan yang pas. Kedua, karena banyak perantau, maka ingin sukses dulu di tanah rantauan. Mereka merasa belum bisa menikah kalau belum tamat kuliah atau dapat kerja yang jelas,” ungkapnya, Kamis (26/11/2020) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Hambatan lainnya, karakter masyarakat Batam yang multietnis.

”Bisa jadi juga karena berbeda kultur adatnya. Ketika mau menikah dengan pilihan hatinya yang berbeda suku, tapi terkendala karena ada tuntutan adat yang harus dipenuhi,” paparnya.

Di sisi lain, banyak juga warga Batam yang takut tak bisa membahagiakan pasangannya karena persoalan ekonomi yang
belum dianggap mapan.

”Menikah itu penyempurna agama, dan itu banyak belum dipahami adik-adik kita. Begitu menikah, separuh agama sudah terlaksana, bisa mengendalikan hawa nafsu dan juga hati lebih tenteram. Jadi, banyaklah berusaha, berdoa, salat Tahajud. Mudah-mudahan ketemu jodohnya,” ucapnya.

Mengenai jumlah pernikahan di kala pandemi, Adamrin mengaku, baru-baru ini jumlahnya naik, terutama saat tanggal cantik.

Misalnya, 10 Oktober (10/10), atau 11 November (11/11) lalu.

”Saat awal pandemi lalu memang sepi, karena semuanya harus menaati protokol kesehatan. Tapi sekarang memang mulai ramai. Jadi diimbau bagi calon pengantin, ketika mau menikah, tetap ikuti aturan protokol kesehatan pencegahan Covid-19,” tegasnya.(jpg)