Lebih dari empat bulan tidak menerima kunjungan, Pantai Bale-Bale kembali dibuka sebagai salah satu destinasi wisata di Batam. Pandemi Covid-19 yang belum berakhir, membuat pelaku wisata harus berbenah dan memenuhi standar guna memberikan kenyamanan bagi pengunjung.
Batam, YULITAVIA
Yadi mulai bersiap di pintu masuk Pantai Bale-Bale, Kampung Tua Tanjungserip, Nongsa. Kawasan wisata yang dikelola bersama warga setempat ini kembali dibuka dan menerima pengunjung meskipun di tengah pandemi Covid-19.
Sejak dibuka kembali, Thermo gun menjadi peralatan penting yang selalu berada di genggamannya.
Alat pengecek suhu ini tidak boleh lupa ketika mulai menjalankan aktivitas sebagai pengelola pantai dan bertugas di pintu masuk.
”Maaf cek suhu dulu,” kata dia sembari mengarahkan Thermo gun ke kening salah seorang pengunjung.
Sejak dibuka kembali, masyarakat memanfaatkan waktu untuk mengisi waktu libur dengan mengunjungi lokasi wisata.
Pantai Bale-Bale menjadi salah satu yang terfavorit. Dari pintu masuk, sudah terlihat kebersihan di lingkungan pantai.
Ketika masuk deretan gazebo juga bisa dijadikan tempat bersantai sambil menikmati makanan bersama keluarga.
Pengunjung juga bisa melihat dan berkeliling menikmati hutan mangrove di bibir pantai.
Pasirnya yang putih menjadikan pengunjung semakin betah menghabiskan waktu liburnya di pantai yang sudah empat tahun dikelola warga setempat ini.
Salah satu spot yang paling ramai dan tidak boleh ketinggalan ketika berkunjung adalah jembatan sepanjang 150 meter menjorok ke laut yang menjadi tempat sangat menarik untuk berfoto.
Untuk menjaga lingkungan di sekitar jembatan, pengelola tidak memperbolehkan pengunjung untuk membawa makanan.
Hal ini guna menghindari pengunjung membuang sampah ke laut, karena kebersihan laut sangat penting.
“Area jembatan cukup untuk foto dan menikmati pemandangan saja. Di sana sudah kami siapkan kursi juga. Kalau makanan tak boleh, biar lingkungan tetap bersih,” jelas pengelola pantai Nurdin yang dijumpai di sanggar Pantai Bale-Bale beberapa waktu lalu.
Ia menceritakan pengecekan suhu merupakan salah satu persyaratan untuk pengunjung agar bisa memasuki kawasan destinasi Pantai Bale-bale.
Dua orang anak menikmati indahnya Pantai Bale-Bale di Kampung Tua Tanjungserip, Nongsa. Kawasan wisata ini menerapkan CHSE ketat ditengah pandemi Covid-19. Foto; Yulitavia/batampos.co.id
Tidak saja itu, setelah selesai cek suhu, pengunjung juga diarahkan untuk terlebih dahulu mencuci tangan. Tak jauh dari pintu masuk pengelola sudah menyiapkan sarana dan prasarana untuk cuci tangan.
“Kami juga memasang imbauan agar pengunjung tetap menggunakan masker selama berada di area pantai. Hal ini bertujuan agar semua merasa nyaman dan aman ketika berlibur,” ujar pria 54 tahun ini.
Nurdin mengaku sudah beberapa kali mendapatkan pelatihan dan sosialisasikan mengenai protokol kesehatan yang harus dilaksanakan selama pandemi masih berlangsung.
Selain penerapan 3M yang sudah dijalankan, pengelola destinasi wisata juga diminta dan memastikan clean, health, safety, dan enviromental sustainability (CHSE) bagi pengunjung.
Pihaknya berusaha memenuhi standar agar destinasi yang dikelola lebih dari 40 KK ini bisa bersih, sehat, aman, dan ramah lingkungan.
Selain sudah menerapkan 3M, dibeberapa titik juga sudah tersedia tong sampah, dan selalu dicek dan diangkut serta dibersihkan sampahnya setiap dua atau tiga jam sekali.
”Imbauan juga sudah kami pasang, agar masker tetap digunakan kecuali saat makan. Sebab penyebaran melalui droplet itu paling berisiko menularkan Covid-19,” kata dia.
Berbagai fasilitas umum yang ada di area pantai juga dicek dan dibersihkan berkala.
Kebersihan menjadi salah satu yang dituntut ketika membuka destinasi wisata di tengah pandemi yang masih melanda Batam.
Fasilitas cuci tangan sudah dipasang tak jauh dari pintu masuk. Kedua fasilitas toilet umum dan tempat mandi juga dibersihkan dan disediakan sabun untuk mencuci tangan.
“Kalau toilet kami ada yang jongkok dan duduk, jadi pengunjung bisa pilih yang nyaman menurut mereka. Petugas kebersihan juga terus mengecek kebersihan toilet ketika usai digunakan,” ujarnya.
Kedua adalah memastikan pengunjung yang datang sehat, hal ini dimulai dari pintu masuk dengan pengecekan suhu tubuh.
Mereka yang memilki suhu di atas 37 derajat Celcius diminta untuk kembali dan segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat.
“Kondisi di dalam dan luar ruangan berbeda, kalau di dalam mungkin pengawasan dan penerapan protokol kesehatan lebih ketat, termasuk menyediakan ruangan isolasi, kalau di pantai mereka yang suhunya tinggi langsung diminta pulang dan cek kesehatan,” beber Nurdin.
Untuk memastikan keamanan pengunjung selama berada di area pantai, ia mengungkapkan anggota dari kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Bale-Bale sudah siaga dan bersiap berkeliling dan mendatangi warga yang abai atau tidak mengenakan masker.
“Jadi kita ingatkan pengunjung dengan cara yang halus. Karena masker ini tidak saja melindungi diri sendiri tapi juga orang sekitar. Jadi jangan sampai ada pengunjung yang merasa tidak nyaman karena ada pengunjung lainnya yang tidak menerapkan protokol kesehatan,” ungkapnya.
Tidak saja itu, CHSE juga meminta pelaku wisata untuk ikut menjaga lingkungan. Nurdin mengatakan untuk menjaga lingkungan agar bisa bersih.
Sekda Kota Batam, Jefridin, saat memberikan arahan kepada pelaku pariwisata agar dapat menjaga lokasi tersebut selalu bersih. Foto: Pemko Batam untuk batampos.co.id
Salah satunya dengan mengajak warga yang tinggal di sekitar destinasi tidak membuang sampah ke laut. Kebersihan pantai sangat tergantung dari sampah laut.
“Kalau pantai ini selain yang di daratan juga yang ada di lautnya. Kalau ada sampah kan bisa merusak keindahan. Makanya melalui Pokdarwis kami ajak warga sekitar untuk tidak buang sampah ke laut,” ucapnya.
Penerapan CHSE di lingkungan pantai menurutnya sudah cukup baik. Mulai dari pintu masuk pengunjung sudah wajib menerapkan 3M.
Untuk penunjang amenitas juga tersedia both yang menjual berbagai cendramata. Pantai bale-bale biasanya menjadi destinasi bagi warga negara Korea Selatan, Singapura, Malaysia dan juga Cina.
“Kalau tamu dari luar itu sangat memperhatikan kebersihan pantai. Jadi sebelum adanya CHSE kami sudah melaksanakan, mungkin 3M ini sebagai penguat dan memberikan jaminan kalau destinasi kami aman dan layak menjadi pilihan wisata,” bebernya.
Akses menuju ke Bale-bale juga sudah bagus, jadi cukup memudahkan bagi pengunjung untuk menjangkau lokasi pantai. Bahkan beberapa waktu lalu Batam sudah meresmikan dua lokasi
Check Poin bagi pengunjung yang memasuki wilayah Nongsa.
“Jadi sebelum masuk ke area pantai pengunjung sudah di data duluan, namun di pintu masuk pantai kami cek lagi karena memang begitu prosedurnya,” tambahnya.
Lanjutnya, dalam waktu dekat ia juga akan mengajak pelaku usaha kuliner di sekitar pantai untuk mengadakan bazar makanan khas Melayu. Menurutnya atraksi merupakan salah satu yang harus dilakukan agar destinasi bisa ramai dikunjungi.
Kegiatan ini bentuk rangsangan kepada warga Batam, agar mau mengunjungi Pantai Bale-Bale. Secara ekonomi juga akan meningkatkan pendapatan warga sekitar dan kami sebagai pengelola.
Sejak pandemi kunjungan yang setiap Minggu mencapai 500 orang turun drastis. Untuk itu perlu upaya agar bisa kembali mendongkrak pariwisata tanpa harus mengabaikan protokol kesehatan.
Tidak saja itu, untuk melestarikan lingkungan, pengunjung diajak untuk menjaga kebersihan pantai. Jadi nanti pengunjung bisa menukarkan botol plastik bekas minuman yang dibeli di area pantai dengan cendramata atau kelapa muda.
“Ini salah satu ide yang lagi kami bahas bersama Pokdarwis juga. Mudah-mudahan ini menjadi salah satu hal baik di destinasi wisata,” imbuh Nurdin.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengatakan, CHSE merupakan solusi untuk kebangkitan sektor pariwisata.
Pembatasan berupa penutupan pintu masuk wisman memukul semua pelaku wisata. Untuk itu pemerintah saat ini memanfaatkan waktu untuk berbenah.
”Kepri merupakan salah satu daerah yang direvitalisasi pariwisatanya. Sebagai penyumbang wisman nomor dua, pusat ingin Batam segera recovery dan bersiap menyambut wisman nantinya. CHSE ini salah satu yang harus ada, minimal untuk menarik wisnus ke Batam untuk saat ini,” bebernya.
Ia mengatakan upaya penerapan CHSE sudah berjalan cukup baik, sebelumnya Disparbud sudah lebih dahulu mengeluarkan sertifikat bagi sektor wisata yang sudah menerapkan 3M.
Namun untuk memperkuat dan sesuai dengan standar negara lain, maka dibentuklah CHSE.
Sektor wisata diminta memenuhi standar agar bisa mendapatkan sertifikasi sebagai bentuk jaminan aman dikunjungi. Tim verifikasi langsung turun ke lapangan untuk mengecek.
Tidak saja di perhotelan, resort, restauran, penerapan juga dilakukan di destinasi wisata.
“Ini wajib. Sekarang destinasi wisata kita semakin banyak. Seperti Pantai Bale-Bale yang beberapa waktu lalu sempat menjadi lokasi pembagian masker oleh ibu Tri Tito Karnavian. Dipilihnya pantai tersebut karena dinilai memenuhi 3M dan CHSE jadi aman,” ujarnya.
Saat ini Batam juga tengah mencoba mengambil beberapa kegiatan dari luar daerah dan dipusatkan di Batam, ia mengharapkan destinasi wisata juga siap menyambut kunjungan dari luar daerah.
“Sekarang kita tarik wisnus dulu, sembari menunggu dibuka kembali pintu masuk oleh negara tetangga. Sekarang Batam sudah dipercaya untuk pemberlakuan TCA, mudah-mudahan untuk wisman juga bisa terealisasi,” tutupnya.(***)