batampos.co.id – Masyarakat Kepri lebih tertarik untuk  membelanjakan uangnya untuk kebutuhan non pangan atau makanan.

Hal tersebut tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri terakhir di periode September.

”Terjadi pergeseran pola konsumsi masyarakat, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pengeluaran untuk non makanan menjadi lebih besar daripada untuk makanan yang merupakan kebutuhan primer,” kata Kepala BPS Kepri, Agus
Sudibyo, Minggu (29/11/2020) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Rata-rata, pengeluaran per kapita sebulan masyarakat Kepri di September 2019 sebanyak Rp 1.729.824, terdiri dari pengeluaran untuk non makanan sebanyak Rp 924.092 (53,42 persen) dan makanan sebanyak Rp 805.732 (46,58 persen).

Pergeseran komposisi dan pola pengeluaran tersebut, terjadi karena elastisitas permintaan terhadap makanan secara umum rendah, sedangkan permintaan terhadap non makanan relatif lebih tinggi.

Sehingga, pembelajaan barang non makanan juga mengalami peningkatan.

Keadaan ini jelas terlihat pada kelompok penduduk yang tingkat konsumsi makanannya sudah mencapai titik jenuh, sehingga peningkatan pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan barang non makanan.

Sedangkan sisa pendapatan, dapat disimpan sebagai tabungan.

”Dibanding September 2018, rata-rata pengeluaran penduduk Kepri turun 5,52 persen. Tatkala harga-harga tidak banyak berubah, penurunan tersebut menunjukkan adanya penurunan daya beli penduduk,” ungkapnya.

Untuk konsumsi non makanan, pengeluaran untuk perumahan menempati posisi tertinggi, dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp 485.058 per bulan.

Kemudian, aneka barang dan jasa, dengan rata-rata pengeluaran mencapai Rp 145.026 per bulan.

Lalu, barang tahan lama dengan porsi rata-rata pengeluaran Rp 78.130 per bulan.

Selanjutnya, pembelian terhadap kebutuhan sandang, seperti pakaian, alas kaki dan tutup kepala, dengan porsi rata-rata pengeluaran Rp 49.954 per bulannya.(jpg)