batampos.co.id – Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan investasi halal terbesar di dunia. Total investasi di industri halal dunia pada 2019 mencapai USD 11,8 miliar. Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2020/2021, Indonesia menduduki peringkat pertama, dengan sebanyak 38 transaksi investasi halal.

Menyusul Indonesia, Malaysia ada di posisi kedua dengan 31 transaksi dan Uni Emirate Arab (UEA) di posisi ketiga dengan 20 transaksi. Mesir dan Kuwait menduduki posisi keempat dan kelima, masing-masing 16 dan 8 transaksi.

Berturut-turut berikutnya, Nigeria (7 transaksi), Arab Saudi (6 transaksi), Pakistan (5 transaksi), dan Turki (4 transaksi). Selanjutnya, Bangladesh, Brunei, Yordania, Oman, Tunisia, dan Inggris, masing-masing 2 transaksi, serta Algeria, Bahrain, Belgia, Kepulauan Virgin Britania Raya, dan Belanda, masing-masing 1 transaksi.

CEO and Managing Director Dinar Standard Rafiuddin Shikoh mengatakan, jika dipandang dari sudut pandang negara, maka Indonesia dan Malaysia memiliki total transaksi terbesar. “Ini menggambarkan kuatnya pertumbuhan ekonomi halal pada ekosistem Asia Tenggara,” ujarnya secara virtual, Rabu (2/12)/

Sementara itu berdasarkan sektornya, investasi terbesar ada di sektor makanan halal dengan kontribusi hingga 51,86 persen, disusul keuangan syariah sebesar 41,8 persen. Setelah itu ada wisata halal sebesar 2,89 persen, farmasi halal sebesar 1,33 persen, kosmetik halal sebesar 1,06 persen, dan bidang lainnya sebesar 1,06 persen.

Berdasarkan dari jenisnya, kesepakatan investasi paling besar adalah dari aksi merger dan akuisisi, yang berkontribusi sebesar 54 persen pada total investasi halal ke-20 negara tersebut. Kemudian jenis modal ventura sebesar 40 persen, dan private equity (PE) sebesar 6 persen. “Menunjukkan adanya peluang besar untuk para pemainnya,” ucapnya.

Adapun investasi merger dan akuisisi, investor terbesarnya adalah Indofood CBP Sukses Makmur Tbk dari Indonesia yang mengakuisisi Pinehill Company (Kepulauan Virgin Britania Raya) senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp 42,52 triliun. Kemudian, pada transaksi jenis PE investor terbesarnya adalah Qatar dan Singapura, dan target investasinya adalah Traveloka Group of Companies (Indonesia) dengan nilai sebesar USD 250 juta.

Terakhir, berdasarkan jenis permodalan ventura investor terbesarnya adalah Jepang dan Amerika Serikat (AS) yang menyuntikkan modal pada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek (Indonesia) dengan nilai masing-masing USD 1,2 miliar dan USD 375 juta.(jpg)