batampos.co.id – Pertambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia mencapai rekor tertinggi yakni 8.369 kasus pada Kamis (3/12). Angka tersebut dinilai berbanding lurus dengan jumlah testing yang juga tinggi yakni 2 kali lipat dari target Presiden Joko Widodo sebanyak 30 ribu tes dalam sehari. Jumlah tes pada Kamis (3/12) mencapai 62.397 spesimen.

Menanggapi angka 8 ribu kasus dalam sehari, Juru Bicara KawalCOVID19 Miki Salman mengatakan pihaknya tidak terkejut dengan angka itu. Pasalnya, seiring jumlah tes yang terus ditingkatkan, maka angka kasus pasti akan bertambah. Dan dia yakin bahwa kasus asli di lapangan bisa lebih dari 5 kali lipat dari angka yang diumumkan.

“Orang bilang pada kaget lah, pecah rekor lah, sejujurnya enggak kaget. Lihat reaksi orang macam-macam. Tapi, kami enggak sama sekali terkejut. Kami sejak Juni pun sudah bilang, ini bukan puncak, puncaknya masih jauh. Dan saat ini dibanding 4 bulan lalu enggak ada bedanya,” tegasnya, Kamis (3/12).

“Bedanya tesnya sedikit beranjak pelan-pelan lebih banyak. Karena itu juga kasusnya lebih banyak,” katanya.

Miki bahkan yakin kasus di lapangan bisa mencapai 50 ribu sehari. Dan jika itu terjadi, kata dia, masyarakat tak boleh terkejut.

“Positivity rate tinggi artinya kasusnya memang lebih melejit lagi. Dengan positivity rate segitu, angka sesungguhnya bisa 5-10 kali lipat ya. Angka infeksinya,” imbuhnya.

“Saya enggak akan heran sehari ada 50 ribu. Saya salut ya, justru jika bisa tes sampai hasilkan 50 ribu kasus. Bahkan menurut kami, hari ini pun sudah ada 50 ribu kasus. Itu bahkan sejak Agustus lalu kalau kita kapasitas tesnya memadai,” tambahnya.

Miki menegaskan bahwa testing adalah sebuah keniscayaan. Jika ingin ekonomi tetap berjalan, maka wajib melakukan tes dan pelacakan.

“Caranya agar ekonomi tetap jalan, semua orang terinfeksi dilacak, dipantau, karantina mandiri dijaga. Ini semakin kasus semakin gede justru semakin sulit mengendalikannya,” tuturnya.

Justru yang harus dipantau, lanjutnya, adalah kapasitas ketersediaan kamar di rumah sakit. Sebab, menurutnya, masyarakat mungkin sudah tak peduli dengan jumlah angka kasus yang diumumkan setiap hari. Namun paling penting adalah ketersediaan rumah sakit.

“Tapi, kita semua sudah paham bahwa dalam beberapa bulan ini pengumuman angka-angka kasus harian ini nyaris enggak ada maknanya. Yang jadi indikator yang lebih penting itu, soal rumah sakit. Kasusnya banyak sekali dari Papua. Kemarin juga Jawa Tengah. Kami terus menyoroti perbedaan data kasus antara provinsi dan pusat, terutama di Jawa Tengah,” jelasnya.

Sementara itu Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memperingatkan masyarakat bahwa pertambahan angka kasus itu tak bisa ditoleransi lagi. Dia mengingatkan agar masyarakat tidak lalai pada protokol kesehatan bahwa laju penularan masih meningkat.

“Sebelumnya kita belum pernah mencapai angka di atas 5 ribu untuk angka kasus positif harian. Sayangnya, penambahan positif harian terus meningkat, bahkan menembus lebih dari 8 ribu kasus. Ini adalah angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir. Mohon diperhatikan bahwa terus meningkatnya angka kasus positif ini menandakan bahwa laju penularan masih terus meningkat,” tandasnya.(jpg)