batampos.co.id – Memasuki libur Natal dan tahun baru, harga pangan di sejumlah wilayah di Indonesia cukup stabil. Harga sebagian besar komoditas pokok tidak terkerek signifikan. Hanya cabai dan daging sapi yang sempat naik. Pemerintah berupaya menjaga kondisi harga tetap kondusif hingga pergantian tahun.

Dari data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) hingga Minggu (27/12), sejumlah bahan pokok tidak banyak mengalami perubahan harga sejak awal Desember. Sebaliknya, tren komoditas cabai dan daging sapi naik.


Kenaikan cabai terjadi secara kontinu sejak pekan awal Desember. Harga rata-rata cabai merah pada 16 Desember lalu ada di angka Rp 50.300 per kilogram. Kemarin terpantau di angka Rp 57.300 per kilogram.

Seorang warga tengah memilih cabai di pasar Botania 2,beberapa waktu lalu. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Sementara itu, daging sapi bertengger dibanderol Rp 118.850 per kilogram dari harga normal Rp 110.000 per kilogram. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menilai bahwa kenaikan harga pangan seperti cabai selalu terjadi setiap musim Natal dan tahun baru (Nataru).

“Perlu adanya tindakan yang kongkret agar harga pangan tak selalu naik di akhir tahun. Pemerintah seharusnya melakukan pemetaan wilayah produksi pangan. Sehingga distribusi bisa sesuai dengan kebutuhan konsumsi dan jumlah produksi. Dengan catatan, data angka tersebut harus tepat sasaran,” ujar Ketua Umum Ikappi Abdullah Mansuri.

Menurut dia, bank data terkait kebutuhan pangan tersebut seharusnya bisa dikelola Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, jika setiap instansi pemerintah mengeluarkan data pangan sesuai versinya masing-masing, aksi saling klaim sepihak akan terus terjadi.

“Lebih baik satu-satunya lembaga yang ditunjuk untuk melakukan pendataan ya BPS,” tegasnya.

Tak menampik soal meningkatnya harga cabai, Juru Bicara Menteri Perdagangan Indrasari Wisnu Wardhana memaparkan bahwa harga rata-rata nasional cabai merah besar, cabai merah keriting, dan cabai rawit merah cenderung meningkat sekitar 28 hingga 36 persen jika dibandingkan dengan bulan lalu.

“Kenaikan di tingkat eceran tersebut mengikuti harga cabai di tingkat petani,” ujarnya.

Indrasari menambahkan bahwa kenaikan juga disebabkan adanya faktor cuaca yang membuat pasokan dari sentra produksi terganggu. Dari data yang didapatkan Kemendag, ada beberapa wilayah yang gagal panen akibat mengalami banjir. Tak hanya itu, ada juga wilayah pemasok cabai ke Jabodetabek yang sudah memasuki akhir masa panen.(jpg)