batampos.co.id – Rencana Pemko Batam untuk membuka pembelajaran tatap muka
untuk jenjang TK hingga SMP di wilayah mainland di tengah tingginya penyebaran kasus Covid-19, mendapatkan respons beragam dari masyarakat.

Ada yang sepakat, namun tak jarang yang menolak. Karena itu, pemerintah dan sekolah diminta tak memaksakan orangtua mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah jika memang belum siap.

Agus, warga Batu Ampar, mengaku belum berani melepas anaknya pergi ke sekolah meski nanti sistem pembelajarannya dengan menerapkan protokol kesehatan (protkes)
dan aturan yang ketat.

”Tahu kan anak-anak itu kalau disuruh pakai masker susah, kalau ketemu teman-temannya, langsung ngobrol bebas dan maskernya diturunkan (di dagu, red). Masih takut saya,” kata orangtua siswa kelas XIII di salah satu SMP negeri di Batam tersebut,
Rabu (30/12/2020) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Namun, ada juga warga yang sepakat dengan rencana pembukaan sekolah. Salah satunya, Murni.

Ia menyebut, belajar tatap muka jadi solusi atas kejenuhan anak-anak yang selama ini belajar daring selama pandemi Covid-19.

”Orangtuanya juga pusing ngajari mereka belajar, mending masuk sekolah saja,” ujarnya.

Ilustrasi. Siswa MPLS mengikuti materi pembelajaran dengan mengenakan masker serta pelindung wajah transparan (face shield) di salah satu sekolah di Tulung Agung. (Aspri/Antara)

Komisioner Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kepri, Erry
Syahrial, mengatakan, saat belajar tatap muka benar-benar digelar, pihak sekolah tidak bisa memaksa orangtua dan siswa tersebut mengikuti belajar tatap muka.

”Tidak boleh ada paksaan. Sekolah harus tetap memberikan opsi pelajaran daring ke siswa itu,” ujar Erry, Rabu (30/12/2020) malam.

Namun, Erry mengimbau seluruh orangtua atau wali murid untuk menilai kondisi
maupun kesiapan sekolah sebelum digelarnya pembelajaran tatap muka tersebut.

”Memang ada (wali murid) yang nolak, dan banyak juga yang mau. Tapi harus dilihat
dulu kesiapan sekolahnya, kalau aman enggak apa-apa dilanjutkan,” katanya.

Erry menjelaskan, kesiapan sekolah meliputi pemeriksaan suhu tubuh, kebersihan, lokasi pencucian tangan, jarak duduk antar siswa, serta ruangan khusus bagi siswa yang memiliki suhu tubuh panas.

”Ruangan khusus ini diperlukan, kalau ada ditemukan anak yang panas saat peme
riksaan masuk, langsung dipisahkan. Dan itu harus ditangani pihak puskesmas setempat,” ungkap Erry.

Erry menambahkan, sebelum digelarnya aktivitas ini, ia meminta seluruh orangtua mau-
pun guru untuk mengedukasi anak terkait pentingnya penggunaan masker.

Sehingga, saat proses belajar tatap muka nanti, seluruh anak-anak tetap mematuhi aturan.

”Dari sekarang diedukasi. Bisa dari grup WA (WhatsApp) atau daring. Jangan sampai
saat belajar nanti, maskernya dibuka. Maka itu perlu edukasi,” Erry juga berjanji, setelah
pembelajaran tatap muka, pihaknya akan memantau ke seluruh sekolah.

”Maka dari itu sekolah tatap muka ini harus dilakukan bertahap dahulu. Kita lihat aman atau tidak,” tutupnya.(jpg)