batampos.co.id – Dalam mendeteksi penyebaran virus Covid-19, diperlukan adanya testing atau pengecekan infeksi terlebih dahulu. Hal ini pun menjadi faktor utama dalam menekan jalur laju penyebaran virus.

Pasalnya, masih banyak masyarakat yang enggan untuk melakukannya. Tim Pakar Satgas Covid-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren mengungkapkan alasannya, salah satunya terkait dengan ekonomi.

Masyarakat dalam kategori ini berpikiran, apabila mereka positif maka dia tidak akan mendapatkan pemasukan pendapatan. Oleh sebab itu, mereka mengurungkan niatnya dalam pengecekan Covid-19.

“Dia takut kalau di testing kemudian hasilnya positif, bisa jadi dia nggak boleh masuk kantor, ini khususnya untuk mereka yang di kalangan bawah sosial ekonominya, mereka jadinya nggak bisa dapat uang makan, atau mereka enggak bisa kerja, nanti kalau ngga kerja keluarga makan apa,” terang dia dalam siaran YouTube BNPB Indonesia, Selasa (29/11).

Begitu juga dengan kebingungan yang masih melanda masyarakat terkait jenis testing, yakni rapid dan swab test. Kebingungan itu pun membuat masyarakat tidak mau dicek, karena informasi tidak jelas. “Itu yang membuat masyarakat kemudian jadi agak ragu-ragu gitu,” tambahnya.

Masalah terakhir adalah terkait dengan kenyamanan dan keamanan. Tentunya pada saat melakukan testing, masyarakat perlu datang ke fasilitas kesehatan, di waktu yang bersamaan itu pula mereka khawatir akan adanya penyebaran.

“Kalau seseorang itu harus ke rumah sakit, kemudian ia harus antri lama, ditempat nunggunya itu, kemudian dia justru takut kena Covid di situ (rumah sakit),” tutup dia.

Agar meminimalisir penularan, maka masyarakat perlu menjalankan kewajiban penerapan protokol kesehatan 3M di lingkungan sekitarnya, seperti wajib memakai masker, wajib mencuci tangan serta wajib menjaga jarak.(jpg)