batampos.co.id – Berlabel SARS-CoV-2 VOC 202012/01, varian baru virus Korona ini diyakini lebih mudah menular. Meski begitu, untuk tingkat keparahan pada pasien diyakini tidak terjadi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan virus ini mengandung 23 substitusi nukleotida (yaitu mutasi). Mutan yang mengkhawatirkan pertama kali muncul di Inggris Tenggara dan telah menyebar sejak saat itu.

Pada 26 Desember, dilansir dari Express.co.uk, Senin (4/1) varian baru telah diidentifikasi dari pengambilan sampel rutin dan pengujian genom yang dilakukan di seluruh Inggris. Temuan awal menunjukkan virus itu lebih mudah menular.

Sejauh ini, tidak ada perubahan dalam tingkat keparahan penyakit diukur dari lama rawat inap dan kasus kematian selama 28 hari. Saat ini, varian ini mengkhawatirkan dunia sebab dilaporkan menyebar di 31 negara lain.

Varian lainnya

WHO melaporkan pada Agustus 2020, varian SARS-CoV-2 dikaitkan dengan infeksi di antara cerpelai, yang kemudian ditularkan ke manusia. Diidentifikasi di North Jutland, Denmark, varian itu memiliki kombinasi mutasi yang sebelumnya tidak diamati. Studi pendahuluan menunjukkan varian ini dapat mengakibatkan penurunan netralisasi virus pada manusia”

“Ini berpotensi mengurangi durasi perlindungan kekebalan setelah infeksi atau vaksinasi alami,” jelas WHO.

Pada 18 Desember, varian baru di Afrika Selatan diumumkan, yang beredar di provinsi Eastern Cape, Western Cape, dan KwaZulu-Natal. Penyelidikan awal memberi kesan bahwa varian virus Korona ini dikaitkan dengan viral load yang lebih tinggi. Artinya ada potensi lebih banyak penularan, dengan kata lain bisa lebih menular dengan cepat.

Mengapa ada begitu banyak varian virus Korona? Pakar Kesehatan dr. Jeremy Ross, menulis untuk Science Focus, membenarkan bahwa virus bisa bermutasi.

“Mayoritas mutasi tidak akan berdampak pada virus atau penyakit,” jelasnya.

Namun, WHO tetap mengawasi SARS-CoV-2 karena beberapa mutasi memungkinkan penularan yang lebih besar atau mempengaruhi sistem kekebalan. “Mutasi dapat terjadi kapan saja,” tambah Dr. Ross.

“(Kemungkinan juga) perilaku virus tidak akan berubah secara dramatis selama beberapa bulan mendatang,” jelasnya.

Namun, dr. Ross menyoroti pentingnya mengakhiri pandemi dengan segera melakukan vaksinasi. Sebab semakin lama virus terus beredar, semakin besar kemungkinan terjadinya mutasi baru.(jpg)