batampos.co.id – Hujan lebat yang menguyur selama dua hari menyebabkan banjir di ibukota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Ratusan orang terpaksa dievakuasi karena rumah mereka terendam banjir satu meter.

Personel Pangkalan Udara Raja Haji Fisabilillah (Lanud RHF) Tanjungpinang, SAR Tanjungpinang, Polres Tanjungpinang, Pemadaman Kebakaran (Damkar) bersama warga setempat, berhasil mengevakuasi sejumlah warga yang terdampak banjir di kawasan Jalan Nusantara Tanjungpinang, Sabtu (2/1).

Kepala Dinas Operasi (Kadisops) Lanud RHF Tanjungpinang Letkol Agus Budi menjelaskan setelah banjir meluap di kawasan tersebut, pihaknya langsung bergerak menyisir rumah dan mencari warga yang masih terjebak banjir lebih kurang setinggi satu meter tersebut.

”Sebanyak 20 personel diterjunkan saat proses evakuasi. Satu per satu warga berhasil dievakuasi khususnya anak dan lansia. Semuanya telah dibawa ke tempat yang aman,” katanya.

Petugas mengevakusi warga yang terdampak banjir di Tanjungpinang, Sabtu (2/1). (ist)

Di tempat berbeda, Satuan Tugas (Satgas) Banjir Pangkalan Utama Angkatan Laut (Lantamal) IV Tanjungpinang juga mengevakuasi warga yang terdampak banjir di kawasan Jalan Bhayangkara, Kampung Kolam, dan Jalan Hanjoyo Putro.

”Sejumlah anak anak dan lansia berhasil dievakuasi,” kata Komandan Yonmarharlan IV, Letkol Kemal Mahdar.

Sementara itu, dari data sementara yang dicatat SAR Tanjungpinang, terdapat sembilan titik banjir di Tanjungpinang. Dari jumlah tersebut, ratusan warga yang terjebak banjir berhasil dievakuasi tim SAR. ”Total ada 155 warga yang dievakuasi tim SAR dan instansi terkait,” jelas Kepala SAR Tanjungpinang, Mu’min.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca buruk yang terjadi di wilayah Kepri, khususnya wilayah kerja SAR Tanjungpinang yakni Tanjungpinang, Bintan, Batam, Karimun dan Lingga, pada pekan pertama tahun 2021, terjadi karena berhembusnya angin utara dengan kecepatan 5 hingga 35 kilometer per jam.

”Angin sangat kencang sekali, jadi tetap waspada,” tegas Mu’min.

Sementara itu sebanyak 185 warga Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur diungsikan ke Aula Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Kota Tanjungpinang akibat rumah yang terendam banjir pada Sabtu (2/1) kemarin.

Lurah Air Raja, Asa’at Siregar mengatakan 185 warga itu merupakan masyarakat yang berasal dari Perumahan Bumi Indah dan Perumahan Taman Seraya untuk sementara warga yang ditampung di Aula Dinsos Kota Tanjungpinang diberi makan dan tempat tidur yang layak.

”Mereka diberi makan pagi, siang dan malam. Kesehatan juga dipantau oleh tim kesehatan langsung di sini,” kata Asa’at, Minggu (3/1).

Dijelaskan Asa’at saat ini sebagian warga itu ada kembali ke rumahnya untuk membersihkan lumpur yang masuk ke dalam rumah sebelum lumpur tersebut kering di lantai rumah. ”Kalau kering nanti lumpurnya susah dibersihkan, makanya sekarang dibersihkan,” ujar Asa’at.

Asa’at menyebutkan keberadaan warga yang mengungsi itu juga tergantung situasi jika masih turun hujan dan banjir untuk sementara warga akan ditempatkan di Aula Dinsos tersebut, namun jika cuaca sudah normal secepatnya warga akan kembali ke rumahnya. ”Sekarang kondisi cuaca belum bisa dipastikan, masih labil,” ucapnya.

Ia menjelaskan alasan memilih Aula Dinsos sebagai tempat mengungsi warganya dari dua perumahan itu karena kelengkapan untuk kebutuhan warga cukup lengkap seperti mushola, kamar mandi untuk laki-laki dan perempuan tersedia serta ruangan juga memadai sehingga warga nyaman.

”Ada kasur dan selimut, ruangannya juga besar, biar warga nyaman saja,” tambahnya.

Sementara itu salah seorang warga yang mengungsi, Hatun, 39, mengaku rumahnya saat kebanjiran air yang masuk ke rumah cukup tinggi bahkan sampai dada orang dewasa. saat mengetahui air masuk ke rumah ia langsung mengambil berkas-berkas penting agar tidak basah.

”Tiba-tiba air masuk dari depan belakang, semua yang kami tinggalkan di rumah terendam semua,” katanya.

Banjir yang melanda itu baru pertama kali ia temui sejak 15 tahun tinggal dI Tanjungpinang, Hatun berharap ada bantuan dari pemerintah untuk meringankan beban usai dilanda bencana itu.

”Kita juga harus ikhlas menerima, namanya juga musibah kita tidak ada yang tahu,” tuturnya. (*/jpg)