batampos.co.id – Awal tahun, harga cabai di Kota Batam makin melambung. Betapa tidak, harga komoditas kebutuhan dapur ini tembus di angka Rp 100 ribu per kilogram (kg) di wilayah Batuaji dan Sagulung.

Pedagang dan pembeli sama-sama mengeluh, sebab meroketnya harga cabai ini sudah berlangsung sejak sekitar bulan November 2020 lalu.

”Sudah mau tiga bulan, begini kondisinya. Naiknya perlahan dan sekarang di posisi tertinggi. Cabai merah, rawit dan cabai setan sudah di atas Rp 100 ribu per kg sekarang,” ujar Heri, pedagang cabai dan kebutuhan dapur lainnya di Pasar Fanindo, Batuaji, Selasa (5/1).

Ros, pedagang cabai merah di Pasar Fanindo, Tanjunguncang, Batuaji menyusun dagangannya F Dalil Harahap/Batam Pos

Padahal, lanjut Heri, tiga bulan sebelumnya harga cabai merah, rawit dan setan masih di angka Rp 35 hingga Rp 40 ribu per kg. Namun, dalam beberapa hari terakhir, harga cabai terus tinggi dan menyentuh level Rp 100 ribu per kg.

Di Pasar Toss 3000 Jodoh, harga cabai merah melambung jadi Rp 100 ribu per kg untuk kualitas bagus. Sedangkan kualitas biasa dan sedang, berkisar dari Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per kg.

Selain cabai, kenaikan juga terjadi pada jenis sayur kol dan tomat. Sayur kol yang semula Rp 6 ribu per kg, kini bertahan di angka Rp 20 ribu per kg, sementara tomat dari Rp 10 ribu kini naik jadi Rp 16 ribu per kg.

”Umumnya yang meroket ini barang yang disuplai dari Medan. Cabai, tomat dan kol memang dari Medan pasokannya, tapi sejak beberapa bulan belakangan ini pasokan berkurang,” Heri menyambung.

Bahkan, sambung dia, semenjak perayaan Natal lalu, pasokan sama sekali tak ada. Menurutnya, yang dijual pedagang rata-rata sisa stok terakhir.

”Di Medan memang agak susah kalau hari raya seperti ini, petani tak berkebun minimal selama sepuluh hari, jadi dampaknya memang seperti ini,” tetang Heri.

Yuni, ibi rumah tangga yang berbelanja di Pasar Fanindo, mengeluhkan kenaikan sebagian kebutuhan dapur yang cukup siginifikan ini. Keluhan ini, dinilai sangat memberatkan lantaran wabah Covid-19 masih melanda dan ekonomi sulit.

”Semakin susah memang kondisi ekonomi masyarakat saat ini. Pemasukan dan pengeluaran jadi tak seimbang dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok ini” ujar Yuni.

Dia berharap, pemerintah segara bertindak sehingga harga kebutuhan pokok kembali normal seperti semula. ”Apapun alasannya, sebaiknya pemerintah segera mengatasi. Kalau memang susah dari Medan, bisa dari daerah lain didatangkan,” harap Yuni.

Sebelumnya, Kepala Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, tak menampik bahwa harga beberapa komoditas masih tinggi.

”Tapi untuk sebagian kebutuhan pokok sudah ada yang turun, seperti gula, telur dan beras,” ujar Gustian, Senin (4/1) lalu.

Ke depan, pihaknya berencana membuka keran distribusi komoditas dari berbagai daerah lain. Tujuannya, agar harga-harga di Batam tidak naik drastis seperti sekarang ini.

”Selama ini kebutuhan dipenuhi dari daerah Medan, sehingga jika harga disana naik, maka harga di sini bisa naik berlipat-lipat. Jadi rencana kami akan membuka keran dari daerah lain juga,” terang Gustian.

Atas rencana itu, kata dia, sudah ada beberapa orang yang mengajukan penyaluran sayuran dari daerah lain. Salah satunya, dari daerah Sumatera Barat yang memang memiliki persediaan sayur cukup banyak.

”Sudah ada 7 orang yang melapor, namun hal itu harus dikaji dulu. Bagaimana ongkos dan pengirimannya, takutnya lebih mahal,” imbuh Gustian. (*/jpg)