batampos.co.id – Salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Satrio Arismunandar mengatakan, pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA merupakan satu-satunya sosok dari kalangan penulis yang memiliki kekayaan triliunan rupiah.

Pernyataan yang mengundang tanggapan dari banyak pihak itu, menurut Satrio merupakan berita baik untuk dunia penulis dan intelektual di Indonesia. Hidup di dunia gagasan itu, tak lagi harus bersahaja apalagi.

Peneliti LSI Denny JA (Dok.JPNN/Jawa Pos Group)

Bagi Satrio, hal ini merupakan berita baik untuk dunia penulis dan intelektual di Indonesia. Hidup di dunia gagasan itu, tak lagi harus bersahaja.

“Pada waktunya, Denny JA akan dikenang sebagai penulis pertama Indonesia yang kekayaannya melampaui satu triliun rupiah,” kata Satrio, dalam keterangan tertulis LSI, Rabu, (6/1).

Satrio menyebut, isu ini penting diangkat bukan dalam rangka glorifikasi pribadi Denny JA. Tapi Denny JA membawa tradisi baru dunia penulis Indonesia, yaitu datangnya era Penulis Entrepreneur.

“Mereka yang memilih hidup di dunia intelektual, dulu dikenal memilih jalan asketisme. Itu jalan yang tak mempedulikan kehidupan material, dan kekayaan duniawi. Dulu dunia intelektual adalah dunia yang hanya mementingkan akal budi dan kekayaan rohani saja,” jelasnya.

Menurut Satrio, Denny JA memberontak atas tradisi itu. Menjadi intelektual, penulis, dan opinion maker justru akan lebih sempurna jika juga kaya raya.

“Karena dengan kaya raya, intelektual bisa membiayai sendiri karyanya. Ia mempunyai banyak waktu luang untuk berkarya karena tak lagi harus bekerja. Dan ia juga bisa menjadi dermawan, membantu tumbuhnya tradisi keilmuwan,” ujarnya.

Menurut Satrio, Denny JA pun tumbuh menjadi spesies intelektual yang unik. Di satu sisi ia produktif hingga menulis 57 judul buku mulai dari demokrasi, marketing politik, sastra hingga agama.

Denny dinilai juga mempopulerkan tradisi meme, menghasilkan puluhan video animasi. Ia juga menulis di jurnal akademik dunia, yang untuk dimuat di sana harus melampaui dulu review para akademisi internasional.

Di saat yang sama, Denny juga memikili puluhan usaha properti, tambang, food and beverage, hotel, convenience store, hingga perusahaan konsultan politik.

Menurut Satrio, pertama kali Denny JA mengemukakan gagasan intelektual Entrepreneur di publik ketika Ia menulis di buku 70 tahun Djohan Effendi, tahun 2009.

Diketahui, Djohan Effendi adalah salah satu penggagas pembaharuan Islam di samping Nurcholish Madjid, Abdurahman Wahid, dan Ahmad Wahib. Djohan juga pernah menjadi menteri ketika Gus Dur menjadi presiden.

Dikenal hidup sangat bersahaja, Djohan Effendi meneruskan tradisi intelektual yang asketis. Dalam buku 70 tahun Djohan Effendi, Denny menulis, ia mengagumi tradisi hidup bersahaja Djohan Effendi. Tapi ia secara sadar memilih jalam hidup yang berbeda.

“Ada pilihan lain. Menjadi intelektual, tapi juga kaya raya. Sehingga sang intelektual dapat membangun perpustakaan untuk publik, membiayai film yang bagus, hingga membantu puluhan anak yatim untuk bersekolah,” papaprnya.(jpg)