batampos.co.id – Tingginya curah hujan sejak akhir tahun lalu memicu melonjaknya harga berbagai bahan kebutuhan pokok di Batam, terutama sayur-sayuran. Bahkan, harga cabai mencapai Rp 100 ribu per kilogram (kg). Para pedagang mengaku kekurangan pasokan.

“Curah hujan tinggi berpotensi mendorong kenaikan harga pada komoditas bahan pangan, terutama komoditas sayuran,” kata Kepala Bank Indonesia Perwakilan Kepri, Musni Hardi Kusumaatmaja, Kamis (7/1).

Selain curah hujan, menurut Musni, gelombang laut yang tinggi pada periode musim angin utara yang sedang berlangsung saat ini, juga jadi faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok, karena terhambatnya distribusi.

Ia menjelaskan, peningkatan harga cabai merah disebabkan penurunan pasokan, seiring dengan berakhirnya musim panen di sentra produksi.

Sedangkan peningkatan harga bawang merah terjadi sejalan dengan masih terbatasnya pasokan di tengah musim tanam yang masih berlangsung, serta tingginya curah hujan yang mengganggu sentra produksi.

Adapun kenaikan harga telur ayam ras didorong oleh keterbatasan pasokan sebagai dampak lanjutan dari pemberlakuan kebijakan pengendalian produksi Day Old Chick (DOC) melalui pengurangan jumlah telur yang menetas oleh pemerintah “Guna menjaga kelancaran pasokan dan ketersediaan barang, TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) akan menjalin kerja sama antardaerah dalam rangka pengendalian inflasi,” imbuhnya.

Upaya lain yakni mendorong p emasaran bahan pangan secara online melalui aplikasi, seperti aplikasi Bakulan Batam dan Gerai Tani Online Tanjungpinang.

Tingginya harga bahan pokok belakangan ini, membuat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam, Gustian Riau, kaget. “Masa iya (harga cabai) masih Rp 100 ribu, saya belum cek juga,” kata Gustian kepada Harian Batam Pos, Kamis (7/1).

Gustian mengatakan akan menghubungi beberapa pihak untuk memastikan harga-harga tersebut. Namun hingga sore hari kemarin, ia belum memberi kabar lanjutan terkait penyebab masih tingginya harga komoditas. “Saya tanya dulu. Nanti saya kabari lagi,” ujarnya.

Kenaikan harga cabai membuat masyarakat panik, terutama pemilik rumah makan, karena harus mengeluarkan biaya lebih besar. Hal yang sama juga dirasakan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga.

Saat ini, harga cabai setan di pasaran Batam masih berkisar Rp 100 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting dan rawit hijau Rp 75-80 ribu per kilogram.

“Harga cabai masih tinggi. Cabai setan masih Rp 100 ribu per kilo,” ujar Jono, penjual sayur di Pasar Botania 1 Batam Center.

Kondisi serupa juga terpantau di sejumlah pasar di Batuaji dan Sagulung. Ini terjadi lantaran pedagang mulai kehabisan stok. Sayuran, cabai, dan kebutuhan sejenis lainnya yang berasal dari Medan belum juga masuk hingga Kamis (7/1) siang.

Pedagang masih bertahan dengan stok lama yang terakhir didatangkan pada tanggal 27 Desember lalu. Kapal pengangkut barang asal Medan, Sumatera Utara, yang diharapkan datang pada Kamis kemarin, belum ada kepastian hingga siang hari.

Kondisi ini diperparah dengan tingginya curah hujan di awal tahun ini yang merusak seluruh lahan pertanian petani lokal di Batam. Petani lokal umumnya gagal panen sehingga memperburuk ketersediaan stok sayuran dan bahan kebutuhan dapur lain-
nya.

“Kalau kapal dari Medan tetap tak masuk, bisa-bisa harga naik lagi karena stok semakin menipis. Sayur lokal pun mulai langka sekarang,” ujar Heri, pedagang sayuran di Pasar Fanindo, Kamis (7/1).

“Sudah mau tiga bulan begini kondisinya. Naiknya perlahan dan sekarang di posisi tertinggi. Cabai rawit dan cabai setan sudah di atas Rp 100 ribu sekilo sekarang,” ujar Heri.

Padahal, tiga bulan lalu, sebut Heri, harga cabai rawit dan cabai setan masih di angka Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu per kg. Begitu juga dengan cabai merah yang kini bertengger di angka Rp 85 ribu per kg, dulu harga normalnya di kisaran Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kg.

Selain cabai, kenaikan harga serupa juga terjadi pada sayur kol dan tomat. Sayur kol semula Rp 6 ribu per kg kini bertahan di angka Rp 20 ribu per kg. Sedangkan tomat dari Rp 10 ribu kini naik jadi Rp 16 ribu per kg. (*/jpg)