batampos.co.id – Manusia bisa membuat rencana sebaik mungkin tapi tuhanlah yang menentukannya. Hal itu pula yang dirasakan oleh Asrizal Nur.

Asrizal merupakan calon penumpang Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak. Seyogyanya Asrizal dan keluarganya hendak bertolak ke Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dengan menggunakan maskapai penerbangan tersebut.

Namun mereka gagal berangkat karena belum mengantongi hasil swab PCR. Berikut tulisan Asrizal Nur yang diterima batampos.co.id pada Minggu (10/1/2021).

Asrizal Nur (tengah) bersama kedua anaknya yang gagal berangkat dengan menggunakan maskapai Sriwijaya Air SJ 182. Foto: Istimewa untuk batampos.co.id

LOLOS DARI MAUT SRIWIJAYA AIR

Alhamdulilah Allah menolong kami sekeluarga, kalau tidak tentu kita tidak bertemu lagi.

Tgl 7 Januari kami sekeluarga berniat ke Pontianak, Kalimantan Barat, berencana mau bertemu anak kami paling besar bernama Jalaluddin Fauzhi Nur, yang sudah beberapa tahun kuliah di IAIN Pontianak, di samping itu juga akan menghadiri undangan dari para guru se-Pontianak sebagai narasumber.

Tiket pesawat sudah dibeli, kami berempat, istri, saya dan 2 anak gadis kami yang cantik pun mengurus Rapid Tes dan antigen sebagai syarat yang diwajibkan negara kepada rakyatnya kalau keluar daerah yang harga perorang hampir sama dengan harga tiket pesawat sekali pergi.

Kami mengatakan kepada pihak Klinik bahwa kami akan ke Pontianak, tak ada keterangan apa pun dari klinik sehingga kami ke airport dengan bekal surat negatif, rapid tes dan antigen.

Kami pun ke bandara dg rasa sesak di dada karena terasa berat dengan biaya rapid tes dan antigen itu namun ada rasa bahagia akan bertemu anak dan keluarga di Pontianak.

Sesampai di airport di saat masuk kami diperiksa, ternyata Rapid tes dan antigen itu tidak lengkap harus urus yg namanya Swap PCR, sempat lama kami berdebat dengan petugas kenapa tak ada komunikasi dengan pihak klinik sehingga kami dapat info yang sama dengan bandara, karena untuk menghindari antri kami disuruh komunikasikan dengan maskapai jika diperbolehkan maskapai maka surat akan distempel.

Hampir 1 jam kami mengurus di maskapai kamipun tetap tak diizinkan masuk pesawat, kami harus menguru Swap PCR itu, perdebatan panjang kami lakukan, kenapa pihak maskapai tidak memberitahu penumpangnya saat membeli tiket, karena kami membeli tiket melalui Traveloka maka mereka suruh kami urus ke Traveloka, Traveloka tak dapat memberi jawaban kecuali mengatakan tiket keberangkatan anda hangus.

Hampir puluhan orang bernasib sama diantaranya para ibu yang tak punya uang untuk mengurus Swap PCR itu, Entah bagaimana nasib itu.

Pesawat pun sudah terbang, kami gagal hari itu ke Pontianak, Putri Thania anak saya sempat marah-marah, inilah terakhir kali kita naik LION AIR tidak profesional, nanti kita naik SRIWIJAYA saja.

Lalu kami pun mengurus SWab PCR, ternyata mahal sekali, bila 24 jam maka biayanya bisa sejuta perorang bila 2×24 Jam Rp800.000,-

Kamipun berunding , Putri mengusulkan kita ambil yg 2x 24 jam saja, berangkat tanggal 9 Januari naik SRIWIJAYA, karena Swap PCR itu selesai pukul 11.00 atau 12.00 WIB, kita naik pesawat yg pukul 13.00 WIB.

Saya langsung mengiyakan, anak perempuan bernama Hoki tetap ingin ke Pontianak, sedang istri saya sudah kehilangan semangat.

Setelah berfikir sejenak, lalu saya memutuskan, “Sudahlah, kita batalkan saja ke Pontianak, pertama biayanya mahal karena kita harus tidur di hotel sekitar bandara, biaya lagi, dan bagaimana pula kalau hasilnya tak sesuai di harapkan. Pasti ada hikmah dari ini semua, misal kalau paksakan berangkat juga, akan terjadi sesuatu yg tak baik bagi kita sekeluarga.

Akhirnya setelah terdampar 4 jam di bandara kamipun pulang.
Dan hari ini kami dengar kabar, pesawat SRIWIJAYA yang tadinya akan kami tumpangi mengalami musibah, hilang tak ditemukan.
Sujud syukur kepada-Mu ya Allah yang telah menyelamatkan kami.

Kisah nyata Asrizal Nur dan sekeluarga