batampos.co.id – Pemko Batam mulai menggelar belajar tatap muka di sekolah terhitung sejak Senin (4/1) pekan lalu. Pada tahap awal, belajar tatap muka memang baru digelar di wilayah pulau pesisir atau hinterland yang berstatus zona hijau penyebaran kasus Covid-19.

Namun, kebijakan tersebutakan segera diikuti oleh sekolah-sekolah di wilayah perkotaan atau mainland, mulai dari jenjang TK, SD dan SMP hingga SMA. Itu ditandai dengan pengajuan permohonan beberapa sekolah yang akan menerapkan belajar tatap muka ke Dinas Pendidikan (Disdik) Batam dalam waktu
dekat.

Namun, hal itu mendapat penolakan dari DPRD Kota Batam. Pasalnya, saat ini penyebaran kasus Covid-19 di Batam masih cukup tinggi dan dikhawatirkan berdampak luas pada anak-anak jika belajar tatap muka nekat digelar di mainland.

Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Ides Madri, mengatakan, saat ini pihaknya tengah membahas pembukaan sekolah untuk tingkat SMP.

Sementara, untuk tingkat SD, TK maupun PAUD, Komisi IV menegaskan bahwa mereka belum setuju terkait dengan rencana pembukaan sekolah jenjang SD ke bawah.

”Kita bicara saat ini (yang boleh) SMP dulu. Kalau SD, kami sepakat di Komisi IV itu tidak setuju untuk uji coba tatap muka,” ujarnya seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ia melanjutkan, perkembangan kasus terkonfirmasi positif di Kota Batam sudah lebih dari 5 ribu kasus.

Bahkan, sampai sekarang ini jumlah kasus tersebut masih terus
meningkat.

Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad saat meninjau sistem belajar tatap muka di salah satu sekolah di Kecamatan Belakang Padang. Foto: Pemko Batam untuk batampos.co.id

Untuk itu, Komisi IV yang membidangi kesehatan dan pendidikan, akan segera memanggil Disdik Batam dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam untuk berkoordinasi terkait pembukaan sekolah
ini.

Dewan ingin mengetahui bagaimana pandangan beberapa instansi tersebut terkait pembukaan sekolah ini.

”Jadi, coba kita buka ruang seluas-luasnya untuk mencari perbandingan, mana yang terbaik. Kita akan sama-sama mendengarkan, sekolah tatap muka itu dari sudut pandang Dinas Kesehatan seperti apa. Karena ini harus saling terkait,” lanjutnya.

Ia menambahkan, pemanggilan terhadap Dinkes dan Disdik itu akan dilakukan terlebih dahulu terhadap seluruh kepala sekolah SMP di Kota Batam.

Untuk mempertanyakan kesiapan mereka dalam proses belajar tatap muka.

”Karena kita juga mau tahu, dari sekolah bagaimana. Jangan sampai sekolah tidak siap, komite memaksa, itu juga tidak pas,”
imbuhnya.

Sebelumnya, Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, mengatakan, pembukaan sekolah di tengah peningkatan kasus Covid­19 menekankan kepada protokol kesehatan (protkes) yang disusun Dinas Pendidikan dan guru di sekolah.

”Saya sudah pikirkan itu. Makanya di dalam rapat saya sampaikan kalau ada yang tidak sepakat, maka tidak akan dibuka sekolah. Namun, responsnya bagus. Mungkin karena sudah jenuh juga be-
lajar dari rumah,” kata Rudi, Rabu (30/12/2021) lalu.

Meskipun kasus belum berhasil diselesaikan hingga kini, menurutnya persiapan pembukaan sekolah sangat perlu dilakukan.

Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri yang sudah beberapa kali dievaluasi, di situ jelas ditegaskan penerapan protkes di dunia pendidikan.

Sementara Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menambahkan, untuk mainland, sejauh ini belum dibuka, karena masih menyiapkan teknis dan syarat pembukaan sekolah berdasarkan surat keputusan bersama 4 menteri.

”Teknisnya sudah pasti di Disdik (Dinas Pendidikan). Namun demikian, kami sebagai pimpinan daerah akan tetap berupaya agar rencana ini matang dulu sebelum dimulai,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pendidikan Batam, Hendri Arulan, mengatakan, ada beberapa sekolah yang mulai mengajukan permohonan menggelar belajar tatap muka.

Namun, masih perlu dilakukan verifikasi oleh pihak Disdik ke sekolah tersebut. Kendati demikian, menurutnya, beberapa sekolah sudah mulai mempersiapkan pembukaan sekolah tatap muka.

”Mereka sudah mempersiapkan syarat yang diperlukan,” terangnya.

Hendri menambahkan, saat ini Disdik masih mengawasi jalannya penerapan sekolah belajar tatap muka di hinterland.

Selama uji coba dua bulan ke depan, pihaknya memastikan sekolah dan siswa tidak abai dan lalai dengan protkes yang
sudah berjalan.

”Ini yang kita awasi, sampai akhir nanti harus tetap ketat seperti ini. Anak­anak harus tetap mematuhi protokol kesehatan ketika belajar. Jika memang kondisi aman, belajar ini bisa dilanjutkan,” ungkap Hendri.(jpg)