batampos.co.id – Efek perang dagang juga berpengaruh kepada pertumbuhan ekspor Kepri. Pengaruhnya bisa dilihat dari peningkatan ekspor Kepri ke Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, nilai ekspor hasil industri manufaktur di November 2020 sebesar 929,6 juta dolar Amerika, mengalami peningkatan 14,89 persen dibanding Oktober 2020 dan 15,23 persen dibanding November 2019.

Sedangkan menurut negara tujuan, ekspor Kepri ke Amerika sepanjang Januari hingga November 2020 mencapai 1,75 triliun dolar Amerika.

Nilainya meningkat 372 persen dibanding Januari-November 2019 yang mencapai 371,40 juta dolar Amerika. Amerika berada di peringkat kedua setelah Singapura yang nilai ekspornya mencapai 2,8 triliun dolar Amerika.

Kemudian, ekspor ke Negeri Tirai Bambu juga mengalami peningkatan 146,7 persen. Di periode Januari-November 2019, Tiongkok berada di peringkat kedua dengan nilai ekspor 408,64 juta dolar Amerika. Namun di periode yang sama di 2020, nilainya meningkat menjadi 1,008 triliun dolar Amerika. Meskipun begitu, Tiongkok turun ke peringkat ketiga.

Perang dagang terjadi karena Amerika mengenakan kenaikan tarif bea masuk sebesar 25 persen terhadap barang-barang asal Tiongkok. Bahkan, lebih dari 5.700 kategori produk.

Untuk menghindari tarif besar tersebut, Tiongkok banyak memindahkan pabrik industrinya ke negara lain di Asia Tenggara. Dengan demikian, asal barang bukan lagi menjadi masalah, sehingga tidak dikenakan tarif bea masuk.

“Industri pengolahan itu masih tumbuh positif, dan Batam sebagai pusat industri masih menjadi magnet utama,” tuturnya. (*/jpg)