batampos.co.id – Kemampuan pemerintah mengendalikan dan menekan angka penyebaran Covid-19 sangat menentukan perkembangan investasi di Batam.

Pembebasan aktivitas masyarakat dengan tujuan memulihkan perekonomian tak ada artinya jika orang yang terpapar corona
makin banyak.


Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Rafki Rasyid, mendesak berbagai pihak terkait serius mengendalikan
penyebaran Covid-19 ini.

“Hal-hal seperti kepatuhan protokol kesehatan (protkes) diamati oleh calon investor dan dijadikan penilaian apakah aman mengunjungi Batam atau tidak. Jika mereka tidak percaya bahwa kita telah berhasil menekan penyebaran virus Covid-19, maka realisasi investasi tidak akan terjadi,” ujarnya seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Rafki mengimbau para pihak terkait agar mengutamakan pengendalian Covid-19 di Batam sebelum memutuskan untuk memulihkan ekonomi.

Ilustrasi. Realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam mencapai USD 389 juta, dengan total 1.231 proyek, pada triwulan I hingga III tahun 2020. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

“Pemulihan ekonomi di Batam tidak akan mungkin terjadi jika
virus Covid-19 masih belum bisa dikendalikan dengan baik.
Jangan pula menunggu program vaksinasi berjalan. Pemulihan ekonomi akan butuh waktu lebih lama lagi jika kita berharap
pada program vaksinasi untuk mengendalikan wabah Covid-19,” jelasnya.

Di sisi lain, pengelola kawasan industri meminta ada kebijakan
terkait pelarangan orang asing masuk Indonesia.

“Ada sejumlah calon investor berminat untuk mengunjungi Batam. Masalahnya, orang asing tidak bisa berkunjung, jika tidak punya izin tinggal,” ujar Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hoeing, Selasa (12/1/2021).

Tjaw menilai, kondisi ini menjadi dilematis. Di satu sisi ekonomi Batam harus bergerak cepat agar segera pulih, namun di sisi lain harus memperhatikan aspek kesehatan dari penyebaran Covid-19 dan varian barunya.

Menurutnya, satu-satunya cara untuk berinteraksi dengan
investor asing hanya lewat pertemuan daring.

“Investor-investor itu banyak dari Cina. Saat ini, masih ada pengaruh dari perang dagang, sehingga banyak investor asing mengalihkan pabriknya ke Asia Tenggara,” ungkapnya.

Ia berharap, investor-investor yang mau berinvestasi baru dan juga ekspansi, agar segera dicarikan jalan keluarnya.

“Ya, usahakan mereka bisa datang, tapi tentu saja dengan
mematuhi standar protokol kesehatan,” pinta Tjaw.(jpg)