batampos.co.id – Pengembang properti di Batam optimistis tahun ini pasar properti akan kembali mengalami peningkatan.

Persentasenya hingga lima persen. Sebab permintaan terhadap rumah murah bersubsidi diprediksi akan meningkat.

“Tahun ini, Batam dapat jatah pembangunan rumah murah bersubsidi sebanyak 1.200 unit dari pemerintah. Untuk harganya saat ini, belum berubah dari tahun lalu. Rp 156,5 juta per unit,” kata Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Batam, Achyar Arfan, seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Faktor lainnya, yakni harga bahan bangunan tidak mengalami kenaikan signifikan, kecuali besi yang harganya naik sekitar 10 persen.

Pemerintah pusat memang memprioritaskan anggarannya untuk membangun rumah murah bersubsidi.

Pasalnya, di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya, pasar rumah komersil anjlok.

“Selain itu, rumah murah bersubsidi ini menarik karena harganya sesuai dengan daya beli saat ini. Juga membantu pemerintah dalam menyediakan hunian layak bagi warganya,” ungkapnya.

Achyar menyebut, anggaran pemerintah pusat lewat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk membangun rumah murah ini mencapai Rp 18 triliun. Peningkatannya dibanding tahun lalu sekitar 50 persen.

“Pasarnya ini sangat cocok untuk kalangan pekerja di Batam,” katanya.

Ilustrasi Perumahan. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

Seperti diketahui, industri manufaktur di Batam bisa bertahan. Kinerja ekspornya lancar. Sedangkan dari segi mobilitas, arus penumpang di bandara juga naik sekitar 50 persen dibanding beberapa bulan yang lalu.

Ini menandakan perekonomian mulai perlahan-lahan pulih
kembali.

Sedangkan perbankan saat ini mulai mengendorkan ikatannya dalam menerima permohonan kredit pemilikan rumah (KPR).

“Dalam tiga bulan terakhir, perbankan mulai membuka peluang,
tapi pelan-pelan dan juga selektif,” tuturnya.

Sementara itu, pengusaha properti Batam, Robinson Tan, mengungkapkan, pengembang properti di Batam optimistis tahun ini pasar properti akan rebound.

”Menteri Keuangan sudah sampaikan bahwa perekonomian Indonesia akan tumbuh lima persen. Sektor properti jadi salah satu prioritasnya,” kata Robinson.

Keyakinan tersebut ditunjukkan dari pagu anggaran untuk pembangunan rumah subsidi yang naik dari Rp 12 triliun
menjadi Rp 18 triliun tahun ini.

Di Batam sendiri, industri properti sangat bergantung sekali dengan tiga sektor utama, yakni sektor industri pengolahan, industri konstruksi, dan kegiatan pariwisata.

Robinson menyebut, karena pandemi, perbankan benar-benar ketat dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah (KPR).

”Begitu ditanya, karyawan hotel, misalnya, maka bank langsung kunci KPR-nya,” ucapnya.

Pengetatan tersebut juga berlaku untuk sektor informal. Menurut Robinson, banyak pedagang kuliner kaki lima yang sebenarnya bankable tapi gagal dalam KPR karena syarat administrasi.

”Mereka uangnya banyak, tapi ketika diminta tunjukkan rekening koran dan lain-lain, ya mereka tidak tahu. Jadi sebenarnya, butuh asistensi dari Bank Indonesia (BI),” imbuhnya.(jpg)