batampos.co.id – Krisis lahan di permakaman umum Seitemiang, belum diatasi secara permanen. Pihak Yayasan Khairul Ummah yang mengelola lahan permakaman tersebut, masih menggunakan strategi sementara untuk mengatasi persoalan itu.

Sekretaris Yayasan Khairul Ummah, Zailani, menuturkan, meskipun pihaknya mendapat alokasi lahan sekitar 4.000 meter persegi yang sedang dalam tahap pematangan, dinilai tidak akan bertahan lama.

”Paling dua atau tiga bulan itu (bertahan) karena ke depannya disitu semua fokus permakaman di sini. Itu hanya solusi jangka pendek. Untuk jangka panjangnya belum ada,” kata Zailani, Minggu (17/1/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Dengan strategi sistem sisip yang sudah berjalan sejak empat tahun belakangan ini, dinilai tak bisa dilakukan lagi sebab sudah tak ada lahan yang kosong.

Strategi terbaru yang sedang dikerjakan saat ini adalah memanfaatkan lahan sisa di pinggir Jalan Ahmad Dahlan, Seitemiang.

Ilustrasi. TPU Sei Temiang. Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

Lahan sisa yang luasnya sekitar 9.000 meter persegi ini sebenarnya lahan median sebagai lokasi penghijauan antara pagar kawasan permakaman dan lokasi permakaman.

Lahan tersebut kini sedang digarap oleh pengelola permakaman umat Budha dan Hindu sebagai lahan permakaman baru.

Lahan ini nantinya dibagi dua dengan Yayasan Khairul Ummah yang mengelola permakaman umat Muslim.

Saat ini, pematangan lahan tengah berjalan dan sudah hampir
rampung.

Untuk solusi jangka panjang, Yayasan Khairul Umma telah
mengusulkan permintaan lokasi lahan permakaman baru ke Pemko Batam, namun sampai saat ini belum ada keputusan apapun.

”Sementara ya tetap di sini dengan segala cara agar proses permakaman tetap terlayani dengan baik. Ini tak bisa lama-lama sebab sudah bertahun-tahun masalah krisis lahan ini,” kata Zailani.(jpg)