batampos.co.id – Perusahaan minyak Shell mengajukan diri untuk hadir di tengah masyarakat Batam. Hadirnya Shell nantinya bisa menjadi pilihan masyarakat dalam mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) selain yang disediakan Pertamina.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, rencana permintaan perusahaan minyak asal Malaysia itu hadir di Batam sudah diajukan beberapa waktu lalu.

Hanya saja memang permintaaan tersebut belum diajukan secara resmi.


”Ini permintaan mereka minggu lalu, belum disampaikan secara resmi,” kata Gustian seperti yang diberitakan Harian Batam Pos,
Senin (18/1/2021).

Dikatakannya, perusahaan Shell sudah hadir di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung.

Sehingga jika nantinya hadir di Batam, bisa jadi pilihan untuk masyarakat mengisi bahan bakar minyak.

”Kondisi ini juga bisa mengatasi kelangkaan BBM yang selama ini hanya disediakan Pertamina. Jadi, tak takut lagi adanya kelangkaan BBM,” jelasnya.

Menurut Gustian, harga BBM Shell hampir sama dengan BBM yang disediakan Pertamina.

Antrean kendaraan roda empat saat hendak mengisi bahan bakar di salah satu SPBU di Kota Batam. Perusahaan minyak Shell mengajukan diri untuk hadir di tengah masyarakat Batam. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Namun, Gustian lebih berharap jika Shell jadi hadir di Batam, bisa lebih menyediakan BBM sebanding dengan harga premium.

Mengingat kondisi masyarakat Kota Batam yang memang sedang
terpuruk selama pandemi Covid-19.

“Kami minta harga Shell ini setara dengan BBM jenis premium. Jadi bisa mengatasi kelangkaan premium atau pertalite yang saat ini dibatasi Pertamina,” tegasnya.

Disinggung kapan secara resmi perusahaan Shell hadir di Batam, Gustian belum bisa memastikan. Namun, ia berharap bisa secepatnya.

”Saat ini menunggu izin pusat dulu. Jika oke, bisa langsung,” ujarnya.

Di lain hal, Gustian juga menyayangkan indikasi pembatasan penyaluran BBM jenis pertalite oleh Pertamina di Kota Batam.

Bahkan, lanjutnya, ketersediaan pertalite sangat terbatas, meski SPBU tersebut menjual pertalite.

Sehingga tidak semua pengendara bisa mendapatkan pertalite.

”Ada SPBU yang menjual pertalite, tapi sering kosong atau habis. Kasihan masyarakat, seperti dipaksa membeli pertamax 92, karena premium juga habis,” tuturnya.

Tak hanya itu, 40 SPBU di Batam, tiga sudah tutup. Dari 37 SPBU tersisa, hanya 25 SPBU yang mendapatkan jatah menjual BBM subsidi jenis premium.

Jumlah tersebut pelan-pelan juga akan dikurangi, seiring dengan
akan dikuranginya kuota minyak subsidi oleh pemerintah.

“Alasan premium mau dihapuskan, tapi sampai sekarang masih ada dan tidak hilang. Tentu Pemerintah Kota Batam melakukan kajian bagaimana Shell bisa masuk ke Batam,” ujarnya.

Karena itu, Gustian menggesa pelaksanaan kartu kendali pembelian premium.

Hal itu diharapkan mampu membantu kondisi masyarakat di tengah ekonomi yang sedang anjlok.

”Paling tidak adanya premium bisa membantu masyarakat. Kalau sekarang kondisinya, premium dan pertalite langka, masyarakat
dipaksa beli pertamax 92 dan turbo yang sudah jelas harganya jauh lebih mahal,” terangnya.(jpg)