batampso.co.id – Badan Pengusahaan (BP) Batam memasang target nilai investasi asing yang masuk Batam tahun ini sebesar 1 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Untuk memastikan capaian tersebut, tiga investor asing atau penanaman modal asing (PMA) yang sebelumnya sudah  mendapatkan alokasi lahan dari BP Batam, diminta segera merealisasikan investasinya.

”Kami harus realistis untuk tidak menaikkan target investasi saat ini. Makanya, masih diusulkan target investasi seperti tahun lalu. Untuk itu, kami akan ambil langkah menciptakan strategi untuk tambah insentif, agar bisa menggaet investor potensial dari luar negeri,” kata Deputi III BP Batam, Sudirman Saad seperti yang diberitakan Harian Batam Pos, Selasa (19/1/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.


Target utama BP Batam, yakni meminta kepastian dari tiga investor asing yang telah setuju menanamkan modalnya di Batam.

Tiga investor tersebut, Sinopec, Koh Brothers, dan Great Wall
Group Holding.

”Pertama, kami dorong agar tahun ini Sinopec, PMA dari Cina mulai realisasikan di Pulau Janda Berhias,” ujarnya.

Sebelumnya, BP Batam sudah memediasi induk perusahaan Sinopec, Sinomart dengan pemilik kawasan industri di Janda Berhias, Batam Sentralindo.

”Enam bulan terakhir telah kami mediasi. Secara substansif, perdamaian telah dicapai. Tapi, untuk sementara ditunda,”
ungkapnya.

Alasan penundaan tersebut karena pergantian direksi di
Sinomart.

”Jadi, direksi baru perlu review lagi kesepakatan itu,” imbuhnya.

Untuk mempercepat realisasi investasi tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menyurati Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, agar bisa membantu komunikasi ke
Sinomart.

”Perjanjian dengan Batam Sentralindo tersebut kurang lebih nilai investasinya Rp 13 triliun. Setelah pergantian direksi, kami harap bisa cepat realisasi, karena kami beri banyak insentif ke mereka,”
paparnya.

Selanjutnya, Koh Brothers dari Singapura.

”Ada proposal kerja sama di September 2019, persis di akhir masa periode Kepala BP Batam dijabat Edy Putra Irawadi. Pak Edy sudah teken pakta kerja sama dan sudah alokasikan lahan. Sedangkan Koh sudah bayar UWTO (uang wajib tahunan
otorita) lunas,” ungkapnya.

Sudirman mengatakan, ia sudah berkomunikasi dengan Koh Brothers, pekan lalu.

”Ada hambatan kemarin. Lahan 30 hektare di Kabil yang dialokasikan ke mereka belum terlalu clear. Sehingga kami konsolidasikan dulu. Minggu lalu sudah oke semua, makanya sekarang gantian, kami yang kejar mereka supaya segera realisasi,” ujarnya.

Ilustrasi. Realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Batam mencapai USD 389 juta, dengan total 1.231 proyek, pada triwulan I hingga III tahun 2020. Foto: BP Batam untuk batampos.co.id

Investasi Koh Brothers bisa mencapai 100 juta dolar Amerika dan akan menyerap sekitar 4.000 tenaga kerja.

Koh Brothers Building Technologies berkomitmen berinvestasi di Batam dalam beberapa sektor.

Di antaranya, pengembangan pabrik produk beton pracetak untuk diekspor ke Singapura dan negara-negara lain.

Selain membangun pabrik produk beton pracetak, Koh Brothers juga bekerja sama dalam penyediaan teknis dan bisnis terkait sumber daya air Batam dan kebutuhan transportasi, serta penjajakan peluang investasi di sektor properti.

Saat ini, Koh Brothers Group memiliki lebih dari 40 anak perusahaan, perusahaan joint venture dan perusahaan asosiasi yang tersebar di Singapura, RRT, Malaysia, dan Indonesia.

Bisnis Koh Brothers Group terbagi dalam tiga bidang utama, yakni
Construction and Building Materials, Real Estate, Leisure and Hospitality.

Beton pracetak atau istilah modernnya precast lagi tren dalam sektor konstruksi.

”Ekonomi Singapura pasca Covid-19 diprediksi akan pulih. Kemudian, mereka akan robohkan gedung tua yang tidak ramah lingkungan. Makanya, butuh precast dan baja ringan yang bisa dibangun 50 lantai,” paparnya.

Selanjutnya, Great Wall Group Holding Co. Ltd dan China State Construction Engineering Corporation Ltd.

”Beberapa waktu lalu di awal Desember 2020, BP Batam teken kerja sama dengan Great Wall dan anak perusahaannya spesialis di bidang infrastruktur,” ujarnya.

Lahannya sudah disediakan, namun Sudirman lupa di mana lokasinya. Lahan tersebut dulunya lahan mangkrak. Setelah dievaluasi, kemudian diserahkan ke Great Wall.

”Prosesnya itu sekarang soal administrasi lahan sudah selesai di semester pertama. Sehingga kami berharap di semester dua bisa dimulai,” jelasnya.

Terkait The Great Wall Group, perusahaan ini bergerak di bidang produsen porselen terbesar di Tiongkok.

Berdiri pada 1996 lalu, perusahaan itu juga berspesialisasi dalam studi, pengembangan, pembuatan, dan pengelolaan berbagai jenis produk porselen berteknologi tinggi.

Perusahaan yang masuk dalam top 50 perusahaan terbesar di Tiongkok ini juga menjadi salah satu perusahaan pertama yang diberikan hak ekspor-impor yang dikelola sendiri.

Sementara itu, China State Construction Engineering Corporation didirikan pada 1982 dan sekarang merupakan grup investasi dan konstruksi global yang menampilkan pengembangan profesional
dan operasi berorientasi pasar.

Perusahaan konstruksi Negara Tirai Bambu ini menjalankan aktivitas manajemen bisnis melalui perusahaan publiknya –China State Construction Engineering Corporation Ltd, dengan kode saham 601668.SH.

Sejauh ini, mereka memiliki tujuh perusahaan terdaftar dan lebih dari 100 anak perusahaan holding sekunder.

Ia mengakui strategi menggaet investor harus dilakukan seagresif mungkin. Tahun lalu, saat pandemi Covid-19 sedang di puncaknya, target investasi BP Batam tertolong oleh stabilnya kinerja industri yang sudah eksis di Batam.

”Tahun lalu, industri yang eksis dan kemudian ekspansi banyak menolong kami dalam mencapai capaian target diatas 50 persen. Mereka banyak yang ekspansi usaha, perluasan scope dan peningkatan kapasitas,” jelasnya.

Selain investasi yang sudah terlanjur tanda tangan kerja sama, BP Batam juga akan menggandeng investasi potensial yang masih dalam tahap penjajakan. Contohnya Hitachi Transport System
(HTS).

Badan Pengusahaan (BP) Batam akan melanjutkan lagi penjajakan investasi asing yang telah dilakukan di 2020.

Salah satu targetnya yakni perusahaan asal Jepang, yakni Hitachi Transport System (HTS).

Sebelumnya, di November 2020, Hitachi juga sudah mengunjungi kantor perwakilan BP Batam di Jakarta.

Saat itu, General Manager HTS, Tri Sonny Parentafossa, mengatakan, HTS memang ingin berinvestasi di Batam.

”Salah satu alasan kami ingin berinvestasi di Batam adalah permohonan langsung dari klien PT Hitachi Transport System yang saat ini sudah beroperasi di Batam, kepada tim kami di Jepang. Selain itu, kami ingin melakukan ekspansi di Batam, setelah mendengar citra BP Batam yang sangat baik di sektor
investasi,” ujar Sonny, saat itu.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BP Batam di Jakarta, Purnomo Andiantono, mengatakan, pendekatan dengan HTS akan terus dilakukan.

”Kami tetap monitor dulu, karena saat ini Covid-19 masih mengganas di Jakarta,” katanya.

Andi juga menjelaskan, rata-rata PMA asal Jepang baru akan memulai aktivitasnya pada April mendatang.

”Karena kalau di Jepang, tahun fiskalnya mulai April,” ungkapnya.

BP Batam sangat mendukung investasi di bidang logistik, mengingat seluruh industri beserta hasil produksinya di Batam tidak terlepas dari kegiatan ekspor dan impor.

Sehingga, dengan adanya perusahaan logistik di Batam mampu membawa perubahan besar pada perekonomian di Batam.

”Saat ini, kegiatan logistik di Batam masih sangat bergantung kepada Singapura. Jumlah ekspor dari Batam ke negara tujuan masih minim. Sehingga kemungkinan terjadi double handling dan penambahan tarif sangat besar,” ujarnya.

Pihaknya berharap, bila HTS resmi bergabung menjadi salah satu penanam modal di Batam, maka tentu akan semakin mendukung kegiatan logistik di Batam.

HTS merupakan perusahaan logistik yang berbasis di Tokyo, Jepang, dengan aktivitas mencakup logistik dari hulu ke hilir, mulai dari supplier, pergudangan, manajemen logistik berupa pembelian hingga pendistribusian, konsultan, dan kegiatan logistik lainnya.(jpg)