batampos.co.id – Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium dan pertalite, masih kerap terjadi hingga saat ini. Di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU), masih terlihat antrean panjang pembelian BBM, khususnya premium dan pertalite. Pasalnya, dua komoditas yang paling dicari masyarakat tersebut, jumlahnya terbatas, dan jika ada langsung habis diserbu pem-beli.

Dilansir Harian Batam Pos, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam mengklaim, menemukan indikasi pembatasan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite oleh Pertamina di Kota Batam. Kesimpulan itu didapatkan setelah petugas Disperindag melakukan pendataan di seluruh SPBU di Batam.

Motor isi pertalite.foto: batampos.co.id / dalil harahap

Kepala Disperindag Kota Batam, Gustian Riau, mengatakan, dari 39 SPBU yang ada di Batam, beberapa di antaranya sudah tak menjual pertalite. Seperti, SPBU Harbour Bay, SPBU Kapital Raya, SPBU Bundaran Madani, dan beberapa SPBU lainnya.


”Petugas kami menemukan ada beberapa SPBU yang sama sekali tak menyediakan pertalite. Untuk jumlah pastinya, ada di laporan petugas kami,” terang Gustian kepada Harian Batam Pos, Kamis (14/1) lalu.

Jika ada SPBU yang menjual pertalite, Gustian menyebut jumlahnya sangat terbatas. Sehingga, tidak semua pengendara bisa mendapatkan pertalite. ”Ada SPBU yang menjual pertalite, tapi sering kosong atau habis. Kasihan masyarakat, seperti dipaksa membeli pertamax 92, karena premium juga habis,” tuding Gustian.

Gustian juga terang-terangan menyebut Kepala Pertamina Cabang Kepri, punya andil dalam pembatasan penyaluran pertalite. Padahal, kata dia, pertalite adalah jenis BBM penyaluran khusus, yang kuotanya mestinya tidak perlu dibatasi.

”Kepala Pertamina diduga sengaja membatasi penyaluran pertalite. Sehingga, masyarakat yang dalam kondisi ekonomi tidak stabil, dipaksa membeli pertamax,” ungkap Gustian.

Karena itu, pihaknya menggesa pelaksaanaan kartu kendali pembelian premium, agar BBM penugasan itu bisa dinikmati masyarakat dan tepat sasaran. ”Paling tidak, adanya premium bisa membantu masyarakat. Kalau sekarang, kondisinya premium dan pertalite langka, masyarakat dipaksa beli pertamax 92 dan pertamax turbo yang harganya jauh lebih mahal,” pungkas Gustian.

Menanggapi hal tersebut, Pejabat sementara (pjs) CommRel & CSR Pertamina MOR I Sumbagut, Muhammad Mur, tak membenarkan maupun membantah tudingan tersebut. Ia mengatakan, belum bisa memberikan tanggapan mengenai hal itu. Termasuk, saat dimintai keterangan berapa stok BBM jenis premium dan pertalite yang akan disediakan Pertamina tahun ini untuk Kepri, khsusnya untuk Batam.

”Terkait pertanyaannya, saya koordinasi dengan internal dulu ya,” ujarnya singkat.

Sebelumnya, Sales Branch Manajer Pertamina Kepri, William Handoko, menegaskan bahwa tidak ada program langit biru di Batam, yang bertujuan mengajak masyarakat beralih menggunakan BBM kualitas tinggi, sehingga mengurangi kuota pertalite dan premium. Termasuk, soal isu penghapusan pertalite yang santer diberitakan, akhir tahun lalu.

”Kebijakan pengahapusan pertalite ada di pemerintah dan kementerian, bukan dari Pertamina,” tegasnya. (*/jpg)