batampos.co.id – Anggota Komisi VII DPR Mulyanto, minta pemerintah mempercepat riset dan produksi vaksin Merah Putih yang dikembangkan Konsorsium Riset Covid Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek).

Riset yang dimotori oleh LBM Eijkman dengan lembaga litbang nasional lainnya, termasuk pihak industri BUMN Kimia Farma, diharap bisa segera diproduksi dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Mulyanto menegaskan saat ini Indonesia sedang berkejaran dengan waktu untuk menanggulangi penyebaran Covid-19. Distribusi 3 juta vaksin Sinovac masih kurang. Ditambah lagi efikasi vaksin buatan Tiongkok hanya sebesar 65 persen. Karena itu masih diperlukan tambahan 100 juta dosis untuk vaksinasi penduduk Indonesia secara signifikan.


“Ini jumlah yang sangat besar dan secara bisnis merupakan pasar yang empuk,” ujar Mulyanto kepada wartawan, Rabu (20/1).

Mulyanto menambahkan produksi dan penggunaan vaksin Merah Putih menjadi penting agar Indonesia tidak tergantung pada vaksin impor dan sekadar menjadi pasar bisnis vaksin semata.

“Selain itu kita juga tidak ingin devisa negara yang terbatas ini terkuras habis untuk membeli vaksin impor. Ketimbang digunakan untuk membeli vaksin impor lebih baik kita melakukan riset dan produksi vaksin Merah Putih ini, agar vaksin domestik dapat segera digunakan bagi pemulihan pandemi Covid-19,” katanya.

Mulyanto juga menyayangkan minimnya alokasi dana riset produksi vaksin. Untuk riset vaksin ini Kemenristek hanya menyediakan anggaran Rp 5 miliar kepada LBM Eijkman.

“Apalagi kalau dibandingkan dana yang disiapkan untuk membeli vaksin yang puluhan triliun rupiah,” ungkapnya.

Seharusnya dialokasikan dana riset yang cukup signifikan, terutama untuk uji klinis, sehingga vaksin dapat diproduksi lebih awal. Jangan sampai terlambat, diproduksi saat pasar vaksin sudah jenuh,” imbuhnya.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI ini menyebut pasar vaksin domestik sangat besar. Karena itu tidak boleh dimonopoli oleh satu produk dengan harga yang tak terkendali. Selain itu proses pengadaanya jangan hanya dinikmati oleh produk impor yang menyedot devisa Negara.

Mulyanto merasa pemerintah perlu mengintervensi dan mendorong riset produksi vaksin Merah Putih. “Ini penting agar kita tidak sekedar menjadi negara pengguna dan pembeli, tetapi menjadi negara pembuat. Penting bagi Indonesia untuk membangun keunggulan daya saing nasional berbasis para innovator handal nasional. Kita bisa kalau kita mau,” pungkasnya.(jpg)