batampos.co.id – Singapura kembali dihadapkan pada klaster baru Covid-19. Kali ini pada anggota kepolisian. Klaster baru muncul lantaran para anggota polisi menganggap enteng gejala yang mereka rasakan. Mereka mengira demam yang dialami merupakan demam biasa.

“Jika Anda mengalami batuk, sakit tenggorokan, atau pilek, jangan mengira itu hanya flu biasa. Itu bisa berarti Anda mengidap Covid-19,” kata pakar medis Singapura, Selasa (19/1).

Ahli Penyakit Menular dr Leong Hoe Nam menilai sekarang bukan saatnya menghindari ke dokter dan mendapatkan surat keterangan kesehatan (MC) jika sedang tidak enak badan. Menurutnya, Covid-19 digambarkan sebagai virus yang membunuh dengan pneumonia parah.


“Akan tetapi pada hari-hari awal penyakit itu berperilaku seperti virus flu,” katanya seperti dilansir dari Straits Times, Rabu (20/1).

Nasihatnya muncul ketika muncul 7 kasus dalam klaster Covid-19 yang terkait dengan polisi. Empat kasus yang terkait dengan klaster ini semula tidak melakukan perawatan medis meski terserang gejala mirip flu. Tiga di antaranya baru diuji Covid-19 setelah dihubungi oleh Kementerian Kesehatan Singapura.

“Identifikasi dini individu yang terinfeksi akan membantu menyelamatkan nyawa,” tambahnya.

Ahli Penyakit Menular di Klinik Rophi, dr Ling Li Min, mengatakan kesalahpahaman sering dialami seseorang yang merasa tidak sehat atau demam tapi tidak mencari pengobatan. Atau harus sakit dulu baru ke dokter.

“Tetapi banyak dari kasus Covid-19 yang dilaporkan, pada kenyataannya, tidak menunjukkan gejala,” katanya. “Gejala utama lainnya adalah hilangnya penciuman atau rasa,” kata dr Ling.

Ini diamati untuk tiga kasus di klaster yang terkait dengan paravet polisi. Klaster tersebut muncul setelah polisi berusia 32 tahun yang bekerja di Unit K-9 Polisi di 2 Mowbray Road dinyatakan positif pada 13 Januari 2021. Petugas tersebut merasa demam setelah pulang kerja pada 11 Januari. Semua kontak dekatnya, termasuk anggota keluarga dan rekan kerja, sekarang dikarantina.

“Sebanyak 25 anjing polisi yang melakukan kontak dengannya dalam 14 hari terakhir sebelum gejala awal terbebas dari Covid-19,” kata polisi. Istrinya adalah kasus kedua yang ditambahkan ke klaster pada Sabtu (16/1).

Petugas Staf Layanan Penjara Singapura berusia 28 tahun mengalami gejala pernapasan akut Kamis lalu (14/1). Dia tidak berinteraksi dengan narapidana dan kebanyakan bekerja dari rumah. Kasus ketiga dan keempat dikaitkan dengan klaster tersebut.

Seorang petugas administrasi polisi berusia 44 tahun yang juga bekerja di 2 Mowbray Road menderita tenggorokan kering pada 7 Januari 2021, tetapi tidak mencari perawatan medis. Da diuji dan hasilnya positif.

Anggota keluarganya, juga berusia 44 tahun dan seorang ibu rumah tangga, tidak mencari perawatan medis meski mengalami demam pada 9 Januari, dan kehilangan indra penciuman dan pengecap pada 13 Januari. Setelah melacak petugas administrasi polisi, Kemenkes menghubunginya dan dia diuji.

Dua anggota keluarga lagi dari petugas administrasi polisi ditambahkan ke klaster. Keduanya tidak memeriksakan diri ke dokter meski mengalami gejala seperti pilek, sakit tenggorokan, diare serta kehilangan indera perasa dan penciuman.

Mereka diuji setelah melaporkan gejala pada Sabtu (16/1) dan dipastikan positif pada Minggu (17/1). Munculnya klaster komunitas ini telah menimbulkan kekhawatiran.

Ketua Parlemen Tan Chuan Jin memperingatkan warga Singapura agar tidak berpuas diri selama perayaan Tahun Baru Imlek mendatang. “Di banyak negara barat, perayaan yang ekstensif, tanpa memperhatikan langkah-langkah yang aman, selama periode liburan Natal juga memperburuk situasi,” katanya di Facebook.

Menteri Pendidikan Lawrence Wong, yang merupakan salah satu ketua gugus tugas kementerian untuk Covid-19, telah mendesak kehati-hatian yang sama ketika kasus komunitas baru muncul. Itu adalah poin yang ditegaskan kembali oleh para ahli medis bahwa pandemi belum berakhir.(jpg)