Perang melawan Narkotika dan Zat Adiktif Lainnya (Napza) seolah tak akan ada habisnya. Evolusi Napza, beserta modus peredarannya terus menerus berkembang. Mulai dari jenis yang lebih bervariasi, hingga proses distribusi yang kian sulit diendus.

Indonesia menempati posisi ke 3 untuk angka penyalahgunaan narkoba tertinggi di dunia dibawah Meksiko dan Kolumbia dan menjadi Negara dengan tingkat transaksi narkoba tertinggi di ASEAN adalah fakta miris yang harus kita terima.

Korbannya bervariasi. Namun, generasi mudalah yang paling rentan. Menurut data Badan Narkotika Nasional (BNN) angka penyalahgunaan Napza di Indonesia terus naik. Setidaknya data tahun 2017 hingga 2019 menunjukan indikasi tersebut.


Dimana angka penyalahgunaan Napza di Indonesia tahun 2017 adalah 3,3 juta jiwa, dengan rentang usia 10 sampai 59 tahun. Sementara tahun 2019, naik menjadi 3,6 juta jiwa dengan rentang usia yang sama.

Yang lebih memilukan, persentase pengguna Narkoba dari kalangan anak-anak dan remaja juga turut mengalami kenaikan. Tahun 2018, pengguna Narkoba dari kalangan anak-anak dan remaja hanya 20 persen.

Sementara tahun 2019 meningkat sebanyak 24-28 persen. Kondisi ini harusnya menjadi alarm keras bagi para orang tua, tenaga pendidik dan stakeholder lainnya, agar program pengenalan bahaya narkoba sejak dini kepada anak terus digalakan, agar generasi muda dapat mengetahui bahaya zat adiktif ini sejak dini.

Salah satu stakeholder yang perlu mengambil bagian dalam upaya pencegahan Narkoba sejak dini adalah Mahasiswa. Sejumlah program yang membangun kesadaran generasi muda dapat dirancang melalui mahasiswa. Mulai dari lingkungan yang paling dekat. Misalnya dengan menggalakan kampanye jangan mendekati Narkoba.

Dimulai dari lingkungan sekitar dan dukungan dari keluarga dan teman, apabila lingkungan sehat, tidak akan ada waktu untuk mencoba coba hal baru, atau penasaran dengan obat terlarang tersebut, dalam pergaulan dan interaksi sosial mahasiswa berupaya memberikan sosialisasi tentang bahaya narkotika kepada sekolah menengah, pelajar apabila telah mengenal rokok, maka pergaulan selanjutnya perlu diperhatikan.

Mahasiswa juga dapat melakukan kegiatan kegiatan yang bermanfaat dan dapat mengambil tema yang berhubungan dengan jauhi narkotika, sehingga dapat mengingatkan dan menyadarkan kita tentang isu tersebut.

Penyalahgunaan obat terlarang ini merupakan akibat dari kurangnya pengetahuan akan bahaya obat ini dan juga dapat menyebabkan ketergantungan.

Mahasiswa dan pelajar sebagai motor penggerak bangsa kearah kebaikan yang juga mempunyai kekuatan intelektual, sehingga dapat memilih mana baik dan buruk. Cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindari narkoba yaitu hilangkan pikiran ingin mencoba coba dan mengatakan tidak untuk narkoba.

Narkoba tidak hanya membahayakan bagi diri sendiri namun juga keluarga atau orang lain disekitar kita. Hidup sehat dan hubungan yang sehat adalah kunci utama dalam menghindari banyak penyakit jiwa dan mental.

Mahasiswa juga dapat berkolaborasi dengan pemerintah atau instansi pemerintah yang bergerak untuk mereduksi peredaran Narkoba di kalangan remaja. Misalnya terlibat dalam pembinaan dan sosialisasi yang dilakukan oleh Satgas Anti Narkoba. Atau terlibat aktif menginisiasi sejumlah kampanye dan sosialisasi yang dilakukan oleh BNN melalui program P4GN.

Mari berperan aktif dalam mencegah penyalahgunaan Narkoba. Inisiasi program-program produktif yang dapat diimplementasikan. Mulai dari yang paling kecil. Mulai dari yang paling dekat.

Penulis Mahasiswa Politeknik Batam Jurusan Teknik Elektro, Program Study Teknik Instrumentasi: Puji Lestari, Deo Marshal, Sidiq Adi Pramono, Juliani Silitonga, Feryandi, Chandra Hasiholan