batampos.co.id – Korban pencabulan predator anak di Kota Batam yang berprofesi sebagai fotografer, R, mulai berdatangan ke Polda
Kepri.

Korban ini mengenal R dari jaringan pertemanan dan media sosial.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri, Kombes Arie Dharmanto, mengatakan, ada sekitar 6 orang korban tambahan yang sudah menyambangi Polda Kepri.


”Mereka mengenal pelaku, dan sebaliknya (pelaku mengenal korbannya),” katanya, Jumat (22/1/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Kedatangan para korban ini, menguatkan dugaan polisi
sebelumnya yang menyatakan para korban lebih dari 10 orang.

”Sejak awal pelaku ini bilang hanya mengingat 10 orang, berarti ada yang tak diingatnya. Kami menduga, karena terlalu banyak, dia lupa siapa saja,” ucap Arie.

Kabid Humas Polda Kepri, Kombes Pol Harry Goldenhardt (dua dari kanan) saat memperlihatkan barang bukti dan tersangka R (kaos putih) predator anak di Kota Batam. Foto: Polda Kepri.

Para korban yang mendatangi Polda Kepri ini, kata Arie, akan dilindungi identitasnya dan keluarga.

Dia mengatakan, rata-rata para korban mengalami trauma.

”Korban-korban yang baru datang ini takut bertemu pelaku. Ada trauma yang timbul dibuatnya,” ucapnya.

Arie mengatakan, sejauh ini, pelaku hanya bermain sendiri, tidak memiliki komunitas atau jaringan.

”Dia sendiri saja, tak ada yang lain. Namun, kami masih terus mengembangkan kasus ini,” tuturnya.

Kasubdit IV PPA Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Dhani Catra mengaku melindungi seluruh identitas korban dari R.

”Data korban dan keluarganya tidak akan keluar, kami lindungi,” ucapnya.

Ia mengatakan, pemeriksaan terhadap pelaku dan saksi masih terus berlangsung hingga kini.

R dijerat dengan Pasal 81 Ayat 2 UU Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2016 PPA dengan ancaman pidana maksimal 15 Tahun penjara.

Serta dapat dijerat dengan Pasal Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. R juga terancam hukuman kebiri kimia.(jpg)