batampos.co.id – Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, mengungkapkan kontribusi Batam, terhadap pertumbuhan inflasi Kepri sangat besar. Sumbangsihnya mencapai 80 persen.

”Inflasi di 2020 masih rendah. Desember 2020, inflasi Batam sebesar 1,12 persen dan paling tinggi 1,25 persen. Masih jauh di bawah target nasional. Untuk saat ini, pandemi menurunkan daya beli,” ungkap Musni di Pasar TPID II Tanjungriau, Sabtu (23/1/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Tahun lalu, rata-rata inflasi Kepri sebesar 1,18 persen, dan Batam menyumbang 80 persen.


Tingkat inflasi ini dinilai aman, karena jauh dari target aman nasional di angka 3 plus 1 persen.

”Sebabnya, karena sudah mulai ada pelonggaran aktivitas. Apalagi, dengan adanya vaksin, dan protokol kesehatan yang baik, bisa ikut menjaga tingkat inflasi agar tetap stabil,” jelasnya.

Ilustrasi. Seorang warga tengah memilih cabai di pasar Botania 2,beberapa waktu lalu. Bank Indonesia mengungkapkan kontribusi Batam, terhadap pertumbuhan inflasi Kepri sangat besar. Sumbangsihnya mencapai 80 persen. Foto: Cecep Mulyana/batampos.co.id

Untuk saat ini, Musni meminta agar pemerintah melihat segala potensi yang bisa saja terjadi, sebab dari pengaruh iklim.

Menurut Musni, gelombang laut yang tinggi pada periode musim angin utara yang sedang berlangsung saat ini, juga jadi faktor pemicu kenaikan harga bahan pokok, karena terhambatnya distribusi.

Ia menjelaskan, peningkatan harga cabai merah disebabkan penurunan pasokan, seiring dengan berakhirnya musim panen di sentra produksi.

Sedangkan peningkatan harga bawang merah, terjadi sejalan dengan masih terbatasnya pasokan di tengah musim tanam yang masih berlangsung, serta tingginya curah hujan yang mengganggu sentra produksi atau daerah penghasil di luar wilayah Batam.

“Guna menja ga kelancaran pasokan dan ketersediaan barang, TPID (Tim Pengendali Inflasi Dae rah ) akan menjalin kerja sama an tardaerah dalam rangka pengendalian inflasi,” imbuhnya.(jpg)