batampos.co.id – Stasiun Meteorologi (Stamet) Hang Nadim Batam mencatat, cuaca di Kota Batam sepanjang Februari terpantau kering. Bahkan, curah hujan di bulan ini merupakan yang terminim sepanjang tahun.

Selama 30 tahun, pola cuaca ini tidak terlalu berubah, hujan selalu minim turun di Februari. Kondisi ini mirip dengan cuaca di Tanjungbalai Karimun dan Bintan. ”Polanya sama,” kata Forecaster Stamet Hang Nadim Batam, Muhammad Fauzan Abdul Lathif, Minggu (14/2).

Fauzan mengatakan, pola ini sudah terjadi berulang kali setiap tahunnya. Setelah Februari yang curah hujannya minim, di Maret potensi hujan akan kembali meningkat, lalu puncaknya di Mei dan Desember. ”Selalu begitu,” tuturnya.


Penjelasan secara ilmiah, kata Fauzan, akibat matahari menuju ke arah selatan ekuator. Sehingga menyebabkan bagian utara wilayah menjadi kering. Udara kering ini terbawa angin menuju ke Kepri, khususnya Batam.

”Sekarang itu angin kencang, udara kering. Maka, potensi terjadinya hujan itu menjadi kecil,” tuturnya.

Fauzan mengatakan, penyebabnya mulai dari kelembaban serta tidak ada angin yang memecah potensi awan. ”Di Februari, dua poin itu tidak ada sama sekali. Apabila terjadi hujan, cenderung bersifat lokal dan tidak terdeteksi satelit. Contohnya kemarin (Sabtu) sore, di Batam bagian barat dan Sekupang terjadi hujan lokal, tapi tidak terdeteksi,” ucapnya.

Fauzan mengatakan, pada Senin (14/2) ini, cuaca diperkirakan berawan di wilayah Batam, Bintan, Karimun dan Lingga. Lalu cerah di Natuna dan Anambas.

”Kami melihat ada potensi gelombang laut 1,5 meter di perairan timur Lingga dan Bintan. Lalu gelombang setinggi 2 meter di Perairan Utara Anambas dan Natuna. Bagi masyarakat yang beraktivitas di laut, sebaiknya berhati-hati,” pungkasnya. (*/jpg)