Rabu, 8 April 2026

4 Hotel di Batam Dijual

Berita Terkait

batampos.co.id – Pandemi Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda usai, membuat manajemen sejumlah hotel di Batam mengambil langkah ekstrem, yakni menjual hotelnya.

”Empat hotel dari hotel bintang satu hingga empat mau dijual. mereka sudah tidak sanggup lagi, karena harus menanggung beban operasional yang berat di tengah pandemi,” kata ketua Perhimpunan hotel dan Restauran Indonesia (PhRI) Batam, muhammad mansur, Selasa (16/2/2021) di Kawasan SP Plaza, Batuaji, seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Ia tidak mau menyebut nama-nama hotelnya. Tapi yang jelas, kata dia, pembicaraan mengenai penjualan hotel sudah berlangsung dari mulut ke mulut dengan cepat.

”Ada yang berprinsip sudah tidak sanggup lagi, lebih baik jual saja. Tapi, ada juga yang mengaku mencoba menjalani saja dulu, kalau ada yang mau beli, ya kasih saja,” tuturnya.

Menurut Mansur, menjual hotel merupakan opsi terbaik, dibanding menutup hotel secara permanen maupun sementara waktu.

Contohnya, Hotel Nagoya Plasa, GGI Hotel, Nipah Island, dan Hotel Merlion Batuaji.

”Mengenai nasib karyawannya, hanya Tuhan yang tahu,” imbuhnya.

Menjual hotel merupakan opsi terakhir yang ditempuh, karena beratnya biaya operasional, khususnya cicilan ke bank.

Menurut Mansur, perbankan sama sekali tidak memberikan kemudahan bagi hotel untuk meringankan bebannya.

Ilustrasi. Jawa Pos

Contohnya, jika perbankan memberikan cuti bayar selama enam bulan, maka pada bulan ketujuh, tagihan selama enam bulan sebelumnya ditambah denda dan bunga harus dibayar.

”Pemilik hotel bisa bangkrut karena beban berat,” tuturnya.

Satu lagi, faktor yang menyebabkan keterpurukan hotel semakin bertambahnya kehadiran vila, kondominium, dan apartemen yang menawarkan sewa lebih murah.

”Tarif long stay weekend di hotel bintang empat paling murah itu Rp 18 juta sebulan. Sedangkan vila menawarkan Rp 10 juta. Di kondominium dan apartemen tipe 21 studio, malah lebih murah lagi, hanya Rp 5 jutaan,” ungkapnya.

Keuntungan lainnya, hotel kena pajak dari transaksi jual beli, sedangkan vila, kondominium, dan apartemen yang dimiliki pribadi tidak dikenakan pajak.

Saat ini, strategi yang digunakan hotel agar bisa bertahan, yakni mengurangi karyawan, lalu merekrut anak magang yang baru lulus dari sekolah perhotelan.

”Lebih baik ambil anak magang saja, terus dikasih insentif. Mereka juga sudah terlatih karena lulusan D3 sekolah perhotelan. Jadi, ini merupakan strategi efisiensi yang diterapkan hotel-hotel,” ucapnya.

Mansur juga mengungkapkan, ada kabar baik dari sektor galangan kapal. Proyek Pertamina dan Kementerian Pertahanan yang ramai-ramai buat kapal di Batam menguntungkan hotel-hotel di seputar Batuaji dan Sagulung.

”Karena ada teknisi dari luar yang masuk ke Batam. Jadi, diinapkan di hotel. Kadang ada perusahaan yang sewa empat atau lima kamar, tapi ada juga yang puluhan kamar,” terangnya.

Saat ini, hotel lebih fokus pada segmen offshore, migas, dan shipyard, untuk mendapatkan tamu.

”Dari sektor MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) dan pariwisata, mana ada lagi. Mereka mengadakan
pertemuan secara daring, daripada harus berkumpul di dalam hotel,” sebutnya.

Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kepri di November 2020 rata-rata berada di angka 24,64 persen atau naik 3,05 poin dibanding TPK Oktober 2020 yang tercatat sebesar 21,59 persen.

Namun, jika dibandingkan dengan TPK hotel tahun 2019, justru turun 56,56 persen.

Selanjutnya bila dilihat menurut klasifikasinya, TPK hotel berbintang empat pada November 2020 mencapai 26,27 persen dan merupakan TPK tertinggi di bulan itu.

Sedangkan TPK terendah di November 2020 yaitu hotel bintang dua sebesar 19,96 persen.

”Untuk semua hotel bintang lima di November 2020, tidak menerima tamu,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepri, Agus Sudibyo.

Sedangkan jika dilihat dari rata-rata lama menginap tamu asing dan Indonesia pada hotel berbintang di Kepri pada November 2020 adalah 1,42 hari, atau turun 0,07 poin dibanding Oktober 2020.

”November 2020, rata-rata lama menginap tamu Indonesia mencapai 1,39 hari atau lebih rendah 1,24 poin dibanding dengan rata-rata lama menginap tamu asing yang mencapai 2,63 hari,” ujarnya.

Di tempat terpisah, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengaku belum mendengar informasi terkait adanya empat hotel yang tutup dan akhirnya dijual.

”Belum dapat informasi,” ujar Ardi kepada Batam Pos, kemarin.

Dikatakannya, pandemi Covid-19 memang sangat berdampak untuk pariwisata yang berimbas ke perhotelan dan usaha terkait.

Sehingga, di awal pandemi banyak hotel yang akhirnya memutuskan tutup. Namun, faktor tutupnya hotel-hotel di Batam
juga beragam, mulai dari sepinya tamu, renovasi, beralih manajemen, social distancing, dan lainnya.

Mengenai adanya hotel dijual, menurut Ardi, harus dicari tahu penyebab hotel tersebut dijual.

”Ada beberapa faktor penyebab tutup. Banyak yang tutup sementara dan akhirnya buka kembali,” terang Ardi.

Masih kata Ardi, di masa pandemi pemerintah juga telah banyak memberi keringanan kepada hotel. Di antaranya penundaan pembayaran pajak hingga penghapusan denda pajak dan lainnya.

Bahkan pemerintah juga memberikan dana hibah untuk hotel dan restoran belum lama ini.

”Intinya, yakin kondisi pandemi ini cepat berlalu dan pihak hotel bisa bersabar,” jelas Ardi.(jpg)

Update