batampos.co.id – Belum semua balita di Kota Batam mendapat
asupan gizi yang layak dan memadai selama masa pertumbuhannya.
Hal itu pula yang menjadi penyebab masih tingginya kasus stunting di Kota Batam.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, persentase balita yang mengalami stunting di Kota Batam sebesar 8,31 persen dari 53.785 jumlah balita, atau sekitar 4.469 orang.
Angka ini memang masih di bawah angka nasional yakni
26 persen.
“Angka stunting kita termasuk yang baik se-Indonesia. Data sekarang berasal dari anak yang lahir 2019 ke bawah,” tutur Kepala Dinkes Kota Batam, Didi Kusmarjadi, Selasa (16/2/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.
Menurut Didi, stunting terjadi karena asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting bisa saja dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan.
“Stunting itu mulai terlihat di usia 2 tahun,” ujarnya.

Ditambahkan Didi, stunting diakibatkan oleh banyak faktor, seperti kondisi ekonomi keluarga, penyakit atau infeksi yang terjadi berkali-kali.
Kondisi lingkungan juga memengaruhi, baik itu polusi udara, air bersih dan lainnya.
Tak jarang pula, masalah nonkesehatan menjadi akar dari masalah stunting, seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, kemiskinan, kurangnya pemberdayaan perempuan, serta masalah degradasi lingkungan.
“Mayoritas faktor ekonomi dan lingkungan. Bagaimana mau sehat jika lingkungan kotor dan air bersih tidak tersedia,” papar Didi.
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting sebagai upaya agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal.
Selain itu, upaya rutin yang terus dilakukan ialah dengan konseling dan pemberian tablet penambah darah pada remaja.
Kemudian, meningkatkan upaya ibu bersalin untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan mendorong seorang ibu untuk memberikan ASI eksklusif.
Program lainnya, yakni Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil Kurang Energi Kronis dan Balita Kurang Energi Protein serta pemantauan pertumbuhan balita secara berkelanjutan.
“Selain itu, kita juga rutin sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). PHBS ini menyangkut lintas sektor OPD, karena ini berhubungan langsung dengan ekonomi dan lingkungan,” tambahnya.
Sejumlah upaya untuk menekan angka stunting ini terus digalakkan pemerintah daerah lintas sektor.
Terlebih lagi, pemberantasan stunting saat ini dipimpin langsung oleh presiden.
“Leading sector stunting ini sekarang di Bapelitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan). Tugas kami di kesehatan, tinggal diintensifkan,” pungkasnya.
Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Kota Batam pada Maret 2020 sebanyak 67,06 ribu orang.
Jumlah ini naik dari data Maret 2019 yakni sebanyak 66,2 ribu orang.
“Kemiskinan Kota Batam 2020 sebesar 4,75 persen,” ujar Kepala BPS Kota Batam, Rahmad Iswanto.
Menurutnya, penduduk miskin salah satunya dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kenaikan garis kemiskinan.
Garis kemiskinan dipergunakan sebagai suatu batas untuk mengelompokkan penduduk menjadi miskin atau tidak miskin.
“Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan,” ujar Rahmad.
Sementara itu, selama periode Maret 2016-Maret 2020, garis kemiskinan naik sebesar 7,39 persen, yaitu dari Rp 659.170 per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp 707.856 per kapita per bulan pada Maret 2020.
Persentase kenaikan tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kenaikan garis kemiskinan pada periode Maret 2018 Maret 2019, dimana terjadi kenaikan 1,35 persen atau dari Rp 650.406 per kapita per bulan pada Maret 2018 menjadi Rp 659.170 per kapita per bulan pada Maret 2019.
“Keadaan ini menggambarkan bahwa terjadi penurunan tingkat kesejahteraan penduduk Kota Batam secara umum pada Maret 2020 ini dibanding dari tahun sebelumnya. Sehingga, meskipun persentase penduduk miskin mengalami penurunan, akan tetapi jumlah penduduk miskinnya cenderung meningkat,” ungkap Rahmad.(jpg)
