batampos.co.id – Hantaman besar pandemi Covid-19 sudah hampir satu tahun di Indonesia. Kini perhatian masyarakat sudah diajak untuk fokus menyukseskan progran vaksinasi selain tentunya tetap menerapkan protokol 3M yakni memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan pakai masker.

Dalam survei nasional Indikator Politik Indonesia, ‘Siapa Enggan Divaksinasi? Tantangan dan Problem Vaksinasi Covid-19’, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan dalam survei terungkap bahwa mayoritas warga sadar dengan virus Korona, dan mayoritas warga pula menilai wabah ini merupakan ancaman bagi kesehatan dan perekonomian, baik secara nasional maupun pribadi warga. Keberadaan vaksin tentu diharapkan menjadi solusi atas merebaknya virus Korona.

Namun tantangannya, kata dia, mayoritas warga sadar bahwa pemerintah sudah memulai program vaksinasi, akan tetapi warga tidak lantas bersedia begitu saja diberi vaksin. Terutama karena alasan efek samping vaksin yang menurut warga belum dipastikan.


“Kemudian efektivitas vaksin dalam mencegah tertular virus korona, merasa sehat atau tidak membutuhkan vaksin, dan persoalan jika harus membayar atau membeli vaksin,” kata Burhanuddin dalam keterangan virtual, Minggu (21/2).

Dalam mayoritas warga setuju dengan pendapat bahwa mereka menerima vaksin jika telah dinyatakan halal, 81,9 persen. Namun, sangat banyak warga yang kemudian tidak lantas bersedia divaksin (41 persen). Mengapa? Terutama karena alasan efek samping vaksin yang belum dipastikan (54,2 persen). Kemudian efektivitas vaksin (27 persen), merasa sehat atau tidak membutuhkan (23,8 persen), dan jika harus membayar (17,3 persen).

Pada kelompok yang bersedia divaksin (54,9 persen), mayoritas tidak bersedia jika harus membayar (70 persen), sekitar 23,7 persen bersedia divaksin meski harus membayar. Atau secara total sekitar 38,4 persen tidak bersedia diberi vaksin jika harus membayar atau membeli, dan hanya sekitar 13 persen yang bersedia diberi vaksin meski harus membayar atau membeli. Efektivitas vaksin dalam mencegah tertular virus Korona dipercaya oleh sekitar 53,5 persen warga, yang tidak percaya sekitar 30,3 persen, dan selebihnya tidak bisa menilai, 16,3 persen.

Kemudian, warga juga tampak tidak begitu antusias ketika membayangkan tentang vaksin Covid-19. Pada dimensi yang positif (optimistis dan penuh harap) antusias warga jauh lebih besar ketimbang pada dimensi yang negatif (takut dan cemas) terhadap vaksin. Namun, mayoritas warga cenderung berada di tengah dan ke arah level antusias yang lebih rendah terhadap vaksin, pada dimensi optimis dan penuh harap.(jpg)