batampos.co.id – Sampah tidak bisa dipandang sebelah mata lagi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahkan berupaya menjadikan sampah sebagai motor pengatrol pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia.

Keterangan tersebut disampaikan Dirjen Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati di Jakarta Rabu (24/2). Dia mengatakan saat ini sedang diupayakan program sirkular ekonomi.

“Menjadikan sampah sebagai (penggerak, Red) pertumbuhan ekonomi,” katanya.


Menurut dia, di tengah pandemi seperti saat ini, sampah menjadi bahan baku pertumbuhan ekonomi. Untuk itu dia berharap semua pihak untuk bersama-sama mengelola sampah dengan baik.

Dia menjelaskan pengelolaan sampah klasik yaitu sistem kumpul angkut buang harus diselesaikan terlebih dahulu. Menurut Vivien, Indonesia adalah negara yang besar. Sementara kapasitas pemerintah daerah dalam membangun tempat pembuangan akhir (TPA) kurang.

Untuk itu dia menegaskan bahwa sirkular ekonomi jika dilakukan dengan baik tidak hanya menghasilkan nilai tambah bagi lingkungan. Tetapi juga ada nilai tambah ekonomi yang baru. Salah satu wujud ekonomi sirkular adalah pembangunan bak-bak sampah di tengah masyarakat.

Setiap setahun produksi sampah di Indonesia mencapai 68 juta ton. Rosa mengatakan, Indonesia memiliki tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Apalagi ada target di 2025 nanti diharapkan 100 persen sampah terkelola dengan baik.

Seperti sampah plastik yang ada di darat maupun lautan. “Maka perlu pelibatan dunia usaha, industri, retail, dan sejenisnya,” tuturnya.

Untuk itu pemerintah menyambut baik inisiatif dari PT Tirta Fresindo Jaya (produsen Le Minerale) terlibat dalam pengelolaan sampah di tanah air. Dia menegaskan yang paling penting sampah plastik seperti galon tidak boleh masuk ke TPA.

Sustainability Director PT Tirta Fresindo Jaya Ronald Atmaja dalam diskusi Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional di Jakarta Selasa (23/2) menyampaikan dukungan terhadap pengelolaan sampah di Indonesia. Menurutnya yang paling utama adalah menjaga kelestarian lingkungan.

Untuk itu Ronald mengatakan ada sejumlah skema yang mereka jalankan. Diantaranya adalah membangun bak-bak sampah. Kemudian juga menggandeng Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) untuk mengatasi persoalan sampah di Indonesia.(jpg)