batampos.co.id – Ahli Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Bayu Satria Wiratama menyebut adanya kemungkinan varian atau strain baru virus penyebab Covid-19 muncul di Indonesia. Namun begitu, kemungkinan untuk bisa mendeteksinya kurang begitu besar.

Menurut Bayu Satria, upaya deteksi varian baru itu belum bisa dilakukan secara optimal. Sebab, kegiatan surveilans genomik SARS Cov-2 di Tanah Air belum maksimal. Kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus terhadap genomik virus korona baru, masih kecil.

”Baru sekitar 0,03 persen dari seluruh sampel kita. Masih sangat kecil,” kata Bayu Satria seperti dilansir dari Antara pada Kamis (25/2).


Dia menyampaikan, potensi munculnya strain baru virus penyebab Covid-19 dari Indonesia cukup besar. Pasalnya, penularan Covid-19 di Indonesia masih aktif dan cukup luas di berbagai wilayah. Penularan yang terjadi secara terus-menerus, membuat potensi virus untuk bermutasi kian besar. Apalagi termasuk tipe virus RNA seperti virus influenza yang mudah bermutasi.

”Dampak paling serius adalah kita akan terus-menerus mengembangkan vaksin. Sebab mutasinya tidak pernah bisa secara efisien dihentikan vaksin sebelumnya dan penularan akan terus berlanjut,” terang Bayu Satria.

Untuk menekan transmisi dan mengantisipasi munculnya varian baru, Bayu menekan pemerintah terus meningkatkan strategi 3T yakni testing, tracing, dan treatment. Selain itu, masyarakat diminta mematuhi 5M seperti memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, mengurangi mobilitas, serta menghindari kerumunan.

”Mutasi virus ini bisa terjadi karena 3T dan 5M yang masih lemah. Walaupun mutasi terjadi sifat penularannya sama jadi tetap bisa dicegah dengan 5M,” ujar Bayu Satria.(jpg)