batampos.co.id – Ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) masih mengintai di samping ancaman wabah Covid-19.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam, sejak awal tahun tercatat ada 145 kasus DBD di kota ini.

Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yakni 113 kasus.


”Hingga 23 Februari 2021 ini, tercatat ada 145 kasus DBD di Batam,” kata Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi, Rabu (24/2/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Kasus DBD itu tersebar hampir merata di seluruh kecamatan di Kota Batam.

Didi merinci, sepanjang Januari 2021 ada 87 kasus. Sementara bulan Februari ada 58 kasus. Jika merujuk data dari Dinkes
Batam, jumlah kasus DBD di Batam cenderung meningkat setiap tahunnya.

Pada tahun 2017, tercatat ada 593 kasus DBD, naik menjadi 639 kasus di tahun 2018.

Kemudian, naik lagi menjadi 728 kasus di tahun 2019 dan kembalinnaik jadi 746 kasus di tahun 2020.

Bila melihat data penyebaran kasus di tahun 2020 lalu, Kecamatan Batam Kota menjadi daerah penyumbang DBD tertinggi yakni 66 kasus.

Disusul Kecamatan Batuaji 49 kasus dan Kecamatan Sagulung
dengan 36 kasus.

Upaya penanganan DBD terus dilakukan, salah satunya dengan rutin melakukan fogging atau pengasapan di lingkungan masyarakat.

Selain itu, imbauan melakukan pencegahan maupun pemberantasan sarang nyamuk juga terus digalakkan.

Seperti, imbauan 3M plus, yaitu menguras bak air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang-barang yang tak terpakai agar tak jadi sarang nyamuk.

Sementara plus yang dimaksud yaitu menggunakan langkah tambahan untuk menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, misalnya menggunakan kelambu saat tidur.

Selain itu, ada juga gerakan serentak berupa kerja bakti atau pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di rumah masing-masing dan sekitarnya.

Fokus titik sasaran, yaitu air yang menggenang dan tidak berada langsung di atas tanah, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga, wadah di bagian bawah dispenser air minum dan barang bekas sekitar rumah.

”Semisal ban, kaleng, tempurung kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, dan semua tempat yang bisa nenampung air,” jelas Didi.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk memastikan rumah tidak ada jentik nyamuk.

Sebab, satu jentik betina dalam 12 sampai 14 hari akan berubah
jadi nyamuk dewasa.

Satu nyamuk betina dewasa sekali bertelur bisa mencapai 100- 150 butir telur.

”Ada Jentik berarti kita terancam Demam Berdarah. Jam kerja nyamuk Aedes Agypti dan Aedes Albopictus Pagi 09.00-10.00 WIB dan sore 15.00-16.00 WIB,” jelasnya.(jpg)