batampos.co.id – Sejumlah masyarakat Batam kecewa dengan pelayanan air bersih dari Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Batam yang dikelola BP Batam dan dioperasionalkan PT Moya Indonesia.

Banyak keluhan seperti kualitas air yang keruh, mati air selama berjam-jam, tagihan yang melonjak, hingga air yang berwarna hitam.

Warga Tiban, Jumpri, mengatakan, dirinya dan beberapa tetangganya mengaku kurang puas dengan pelayanan dari operator saat ini. Ia mengeluhkan kualitas air yang semakin menurun.


”Airnya berwarna kuning dan membuat bak jadi kotor. Dulu, saya cuci bak sekali seminggu, sekarang jadinya satu kali dalam satu hari. Air yang di dalam bak harus dibuang, sehingga boros jadinya,” katanya, Minggu (28/2/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Sementara itu, warga Perumahan Tiban Airis Permai, Wawan, juga mengaku gelisah karena air mati bisa berjam-jam di rumahnya yang berlokasi di daerah sulit air atau biasa dikenal sebagai stressed area.

”Pas awal-awal kemarin, airnya hidup 24 jam. Lalu airnya mati dari magrib hingga pukul 21.00 WIB. Dan sekarang, di siang hari pun mati berjam-jam,” ungkapnya.

Sejumlah warga Kota Batam mengantre untuk pelayanan du kantor pusat SPAM Batam. Foto: Dhiyanto/batampos.co.id

Ia sempat menghubungi petugas Moya Indonesia.

”Kata petugasnya, kalau malam itu beban puncaknya sehingga air mati. Setelah itu pun, tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan di hari Minggu siang pun malah mati juga,” paparnya.

Sedangkan, sebagian warga yang tinggal di Kelurahan Seilekop dan Seipelunggut, Sagulung, mengeluhkan aliran air tak lancar ke tempat tinggal mereka.

Hal itu disampaikan warga dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPRD Batam, Jumat (26/2/2021).

Ketua RW 13 Kelurahan Seilekop, Sukirno, mengatakan, air yang mengalir tidak pernah lancar ke rumah warga. Rata-rata, air baru mengalir saat malam hari.

Bahkan, untuk menunggu air mengalir lancar, warga harus menunggu hingga pukul 01.00 dini hari.

”Saya meminta tolong hal ini diperjuangkan. Karena beberapa warga ada yang akhirnya tidak bisa mandi ketika pulang kerja,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Corporate ommunication Manager Moya Indonesia, Astriena Veracia, mengatakan, pihaknya akan berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Mengenai air berwarna keruh hingga hitam, Vera mengaku, tim Moya masih menginvestigasinya.

Sedangkan untuk suplai air ke daerah sulit air, masih diupayakan. Saat ini, SPAM Batam mengklaim sudah menaikkan produksi airnya menjadi 3.310 liter per detik (lps).

”Mulai tanggal 7 Februari kemarin kita sudah naikkan produksi air kita ke angka 3.310 liter per detik dari 3.269 liter per detik. Ada kenaikan sekitar 41 liter per detik, pelan-pelan terus kita tingkatkan,” ujarnya.

Peningkatan ini diyakini akan berpengaruh kepada penduduk
Batam, yang tinggal di permukiman-permukiman tinggi yang selama ini selalu bermasalah dengan aliran air bersih.

”Warga yang sebelumnya tidak menerima air, sekarang sudah mulai mendapatkan air. Dari pelanggan yang semula hanya beberapa jam menerima air, sekarang sudah ada kenaikan,” paparnya.

Strategi lain yang dilakukan Moya, yakni dengan melakukan pemerataan aliran dan tekanan.

”Area yang semula bertekanan tinggi, air mencapai lantai 2 dan 3, sekarang dikurangi sampai di lantai 1 dan area yang bertekanan rendah dinaikkan,” paparnya.

Langkah ini diambil agar masyarakat di stressed area dapat menikmati air bersih dengan baik.

”Jadi, jika ada pelanggan yang mengeluhkan air sekarang tidak sampai lantai 3, itu karena kami melakukan pemerataan agar area yang tekanan rendah dapat dinaikkan, dengan diimbangi peningkatan produksi,” jelasnya.

Kenaikan tekanan air ini, lanjut Vera, ditandai dengan adanya peningkatan kebocoran di beberapa titik.

”Tapi sudah langsung bisa kita atasi, karena hal-hal tersebut sudah diperkirakan sebelumnya, sehingga dengan cepat dapat diatasi,” tutup Vera.(jpg)