batampos.co.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengganas di awal tahun. Tercatat, selama tahun 2021 ini, jumlah warga Batam yang terserang penyakit DBD mencapai 174 orang.

Angka ini lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, yakni 115 orang.

Kasus DBD sendiri terjadi hampir di seluruh kecamatan di Kota Batam. Mengantisipasi makin banyaknya kasus, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam melakukan berbagai langkah.


Salah satunya, dengan program Satu Rumah Satu Jumantik (juru pemantau jentik).Uapaya tersebut sesuai Permenkes 1501/MENK-
ES/PER/X/2010 tentang Jenis Penyakit Menular yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangan.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan, pihaknya menyiapkan berbagai upaya.

Mulai dari pengasapan atau fogging di lingkungan masyarakat, memberantas sarang nyamuk, hingga sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat.

”Ada banyak upaya yang kita lakukan untuk penanganan DBD ini. Salah satunya dengan mengaktifkan kembali gerakan satu rumah satu jumantik,” katanya, Minggu (7/3/2021).

Ilustrasi

Adapun, tugas para jumantik ini menjadi mitra puskesmas dalam mencegah dan menurunkan angka penyakit DBD.

Selain itu, kader ini juga bertugas untuk memantau kondisi lingkungan sekitar dari penyebaran penyakit melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

Tak hanya itu, Dinkes Batam bersama kader lingkungan juga menerapkan sistem 3M Plus.

Yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

Sedangkan plusnya adalah memakai alat pelindung tambahan agar tak digigit nyamuk, seperti memakai kelambu saat tidur atau obat pengusir nyamuk lainnya.

Selain itu, sambung dia, juga diaktifkan gerakan serentak seperti kerja bakti di rumah masing-masing dan sekitarnya.

Fokus titik sasaran, air menggenang yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, bak mandi, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga, dispenser air minum dan barang bekas di sekitar rumah.

”Semisal ban, kaleng, batok atau tempurung kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, semua tempat yang bisa nenampung air,” jelas Didi.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk memastikan di dalam rumah tidak ada jentik nyamuk.

Sebab, satu jentik betina dalam 12 sampai 14 hari, akan berubah jadi nyamuk dewasa.

Satu nyamuk betina dewasa sekali bertelur, bisa mencapai 100-150 butir telur.

”Ada jentik berarti kita terancam DBD. Jam kerja nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yaitu pagi pukul 09.00-10.00 WIB dan sore 15.00-16.00 WIB,” jelasnya.(jpg)