batampos.co.id – Setiap orang tetap bisa terinfeksi Covid-19 meski sudah divaksinasi. Salah satunya Perdana Menteri Pakistan dan sejumlah kepala daerah di Indonesia yang terinfeksi Covid-19 usai divaksinasi. Makanya, vaksinasi bukan satu-satunya untuk terhindar dari Covid-19. Protokol kesehatan tetap harus diutamakan.

Akibatnya masyarakat bertanya-tanya mengapa hal ini dapat terjadi. Menurut Guru Besar Paru FKUI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama, ada tiga hal yang dapat menjelaskan kejadian tersebut. Dia menjelaskannya dalam keterangan tertulis, Minggu (21/3).

Baru Sekali Suntik atau Dosis Pertama



Pertama, proteksi kekebalan baru akan terbentuk dengan baik beberapa waktu sesudah suntikan kedua. Artinya, beberapa hari sesudah suntikan pertama maka memang belum cukup terbentuk antibodi dalam tubuh manusia untuk mencegah terjadinya penyakit. Jadi, kemungkin pertama seseorang ternyata Covid-19 positif beberapa hari sesudah disuntik vaksin adalah karena memang dia belum ada cukup antibodi sehingga masih mungkin tertular dan sakit.

Masuk Masa Inkubasi Sebelum Disuntik

Penjelasan kedua adalah bahwa mungkin saja seseorang sudah tertular vaksin Covid-19 beberapa hari sebelum penyuntikan dilakukan. Atau orang itu masih dalam masa inkubasi. Misalnya saja, seseorang tertular Covid-19 pada tanggal 1, mungkin karena tidak mentaati protokol kesehatan, lalu tanggal 4 dia disuntik vaksin. Dan lalu tanggal 7 dia menjalani tes PCR dan ternyata positif Covid-19. Maka tentu kejadian sakitnya memang sudah terjadi sebelum vaksin dilakukan.

“Kita tahu akan ada masa inkubasi yang katakanlah 7 hari, jadi walau virus masuk tanggal 1 maka baru sekitar tanggal 7 akan ada gejala dan tes dilakukan,” lanjutnya.

Efikasi Vaksin

Menurutnya, vaksin Covid-19 yang ada di dunia sekarang ini tidak ada yang efikasinya 100 persen. Artinya tidak ada vaksin yang 100 persen dapat menjamin bahwa seseorang tidak akan bisa sakit sama sekali, tidak ada proteksi 100 persen Angka efikasi yang ada menunjukkan persentase rendahnya kemungkinan tertular dibandingkan mereka yang tidak divaksin.

Jadi kalau efikasi di bawah 100 persen seperti yang ada sekarang ini maka pasti akan ada saja kemungkinan seseorang tetap dapat tertular dan jadi sakit walau sudah dapat vaksinasi secara lengkap, hanya saja kemungkinan jadi sakitnya menjadi lebih kecil sejalan dengan angka efikasi vaksin yang bersangkutan.

“Juga kalau toh tertular dan jadi positif Covid-19 maka diharapkan gejalanya relatif lebih ringan daripada mereka yang tidak divaksin sama sekali,” katanya.

Kesimpulan

Penelitian tentang vaksin sejauh ini juga belum dapat sepenuhnya menjawab bahwa apakah sesudah divaksin maka kalau seseorang jadi positif maka dia akan menular atau tidak. Juga memang belum ada angka pasti berapa lama proteksi akan bertahan.

Tetapi, secara jelas dan berbukti ilmiah bahwa vaksin memang akan melindungi kita dari Covid-19. Karena itu, kalau memang sudah mendapat kesempatan maka vaksinasi harus dilakukan, demi kita sendiri, demi keluarga dan lingkungan kita. (*/jpg)