batampos.co.id – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri membeberkan strategi memperkuat pemulihan ekonomi Kepri.

Rumusnya 1+5, dimana 1 adalah prasyarat utama, yakni pengendalian Covid-19, dan lima strategi sinergi antar pemangku kepentingan.

Lima strategi tersebut yakni:


  1. Mendorong beroperasinya sektor-sektor produktif dan aman.
  2. Akselerasi belanja pemerintah agar multiplier effect-nya signifikan di tahun berjalan, terutama belanja modal dan bansos.
  3. Mendorong daya saing investasi dan penggunaan produk UMKM lokal.
  4. Mendorong penyaluran kredit melalui penguatan kelembagaan, kelengkapan data UMKM, dan kemitraan.
  5. Mendorong pengembangan eksosistem ekonomi dan keuangan digital, terutama melalui digitalisasi UMKM dan ETP, termasuk penggunaan QRIS.

“Dengan begitu, ekonomi Kepri bisa tumbuh di kisaran 3,25 persen sampai 4,35 persen,” ujar Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kepri, Musni Hardi, saat diskusi daring bertemakan ‘Sinergi Memperkuat Pe mulihan Ekonomi Kepri’ dengan Barenlitang Provinsi Kepri dan Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Selasa (23/3/2021).

Musni juga mengungkapkan, sejauh ini, Kepri masih bisa eksis karena ditopang tiga sektor utama penyokong kemajuan ekonomi Kepri.

Investasi di Provinsi Kepri pada triwulan IV tahun 2020.

Tiga sektor itu adalah industri pengolahan, konstruksi, dan pariwisata.

“Tiga sektor ini masih menjadi pilar utama untuk percepatan pemulihan ekonomi Kepri tahun ini,” ujarnya.

BI yakin, ketiga sektor utama tersebut diperkirakan akan stabil atau terus meningkat, menyusul program vaksinasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Batam.

Apalagi, mulai 21 April mendatang, wisman Singapura sudah boleh masuk kembali di Batam dan Bintan.

“Ketiga sektor itu berkontribusi 72 persen dari perekonomian Kepri tahun lalu. Industri pengolahan sebanyak 41 persen, konstruksi 19 persen, dan sektor perdagangan besar, eceran, transportasi dan akomodasi yang mendukung pariwisata sebanyak 11 persen,” kata Musni.

Sementara itu, serapan tenaga kerjanya di tiga sektor itu juga cukup besar dalam menanggulangi pengangguran.

Yakni, mencapai 61,7 persen dibandingkan sektor lainnya. Seperti diketahui, perekonomian Kepri tumbuh minus 4,46 persen di triwulan keempat 2020.

Lalu membaik dari triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh minus 5,81 persen.

Secara keseluruhan, tahun lalu merupakan rekor terburuk perekonomian Kepri yang disebabkan pandemi Covid-19, akumulasinya hanya tumbuh 3,8 persen.

“Jumlah pengangguran meningkat dari 7,50 persen di 2019 menjadi 10,34 persen di 2020. Tingkat kemiskinan juga bertambah dari 5,80 persen di 2019 menjadi 6,13 persen di 2020,” ungkapnya.

Tapi, Musni mengungkapkan, angka tersebut merupakan masa lalu. Berdasarkan data yang dihimpun BI Kepri, indikator yang menunjukkan tanda kebangkitan mulai terlihat.

“Meningkatnya aktivitas ekonomi global dan domestik mendorong perbaikan industri pengolahan dan perdagangan,” jelasnya.

Industri pengolahan tumbuh dari 0,93 persen di triwulan ketiga 2020, menjadi 6,50 persen di triwulan keempat 2020.

Pertumbuhan industri pengolahan berasal dari kenaikan investasi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) mengalami peningkatan.

“Dari data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah persetujuan PMA dan PMDN naik. Jadi, agar bisa menopang pertumbuhan ekonomi, persetujuan investasi harus segera direalisasikan,” ucapnya.

Total investasi PMA ke Kepri tahun lalu sebesar USD 1,65 miliar, meningkat 21 persen dibanding 2019 dengan nilai USD 1,36 miliar.

Pada triwulan akhir 2020 saja, investasi PMA yang masuk sebesar USD 375,50 juta, disumbangkan oleh industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam sebanyak USD 25,87 juta.

Kemudian industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya sebesar USD 71,34 juta. Dan terakhir, industri karet dan plastik sebesar USD 1,08 juta dolar.

Sementara itu, total investasi PMDN sebesar Rp 14,25 triliun, dimana pada akhir tahun investasi masuk sebesar Rp 3,52 triliun.

Kontribusi terbesar terdiri dari industri kimia dan farmasi sebesar Rp 129,94 miliar, sektor properti sebesar Rp 1,02 triliun dan perdagangan serta investasi sebesar Rp 430,949 miliar.

“Investasi PMDN tercatat mengalami kenaikan, seiring pelonggaran pembatasan aktivitas sosial yang didukung optimisme terhadap pemulihan ekonomi, meskipun di sisi lain investasi PMA masih tumbuh secara terbatas,” ungkapnya.

Sementara di sektor pariwisata, upaya pemerintah dalam membuka Safe Travel Corridor antara Batam, Bintan dan Singapura, 21 April mendatang, serta program vaksinasi dan sertifikasi CHSE diprediksi akan mendorong pemulihan sektor pariwisata.

“Terkait pariwisata, dengan adanya vaksinasi dan CHSE akan dorong pemulihan pariwisata, sebabnya karena dapat meningkatkan keyakinan wisatawan dari Singapura untuk berkunjung ke Batam,” paparnya.

Sementara itu, sertifikasi CHSE sudah menjangkau 246 pelaku pariwisata di Kepri, terdiri dari 144 di Batam, 48 di Bintan, 34 di Tanjungpinang, 13 di Karimun, 6 di Natuna dan 1 di Lingga.

“Meski sudah vaksin, bukan berarti kebal, tetaplah ikuti protokol kesehatan,” pintanya.(jpg)